Feeds:
Tulisan
Komentar

Sudah tahukah anda, bagaimana cara membuat SIM baru atau memperpanjang SIM yang sudah habis masa berlakunya??

Kalau anda belum tahu, biarkan saya memberi nasehat kecil kepada anda tentang bagaimana mengurus pembuatan/perpanjangan SIM.
Jika tidak ada loket pelayanan SIM (baik keliling ataupun permanent..biasanya di Mall) maka datanglah ke kantor Polisi (Polres/Polresta) di kota anda. Jangan lupa gunakan baju yang berkerah, karena akan ada sesi pemotretan nantinya. Sesampai di kantor polisi, bergegaslah menuju ke tempat/bagian pembuatan SIM. Disana sudah lengkap tersedia informasi berapa biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan SIM serta secara detail dijelaskan bagaimana prosedur dan syarat-syarat yang dibutuhkan. Dan pastinya jangan kaget jika anda menemukan tulisan besar-besar “Jangan gunakan jasa calo dalam pembuatan SIM”.
Lanjut Baca »

Champions

Tahun 2005 adalah final terakhir piala champion yang saya tonton. Pertandingan yang sangat dramatis antara Liverpool vs Ac Milan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Liverpool. Sesungguhnya saya ikut gembira waktu itu; karena secara pribadi saya memilih Liverpool dari pada AC Milan untuk memenangkan pertandingan dan menjuarainya.
Kegembiraan saya yang kedua adalah; malam itu saya bisa menonton sampai selesai Final Champions dengan lancar tanpa ada hambatan listrik mati dan halangan cuaca yang biasanya merusak kualitas siaran. Maklum waktu itu saya menontonya di Nabire. Sebuah negeri yang sepertinya antah berantah, jika kita lihat di peta ketika kita di Jawa. Meski sebenarnya, jika saja kita sudah sampai disana, orang jawa akan serasa hidup di kampungnya, karena banyak sekali pendatang jawa yang bermukim disana.
Lanjut Baca »

Perlawanan dengan Tatapan

Pada awalnya aku tidak merasa aneh dengan tatapan itu.
Karena hal itu adalah naluri manusia, ketika melihat sesuatu yang asing dihadapanya.
Tapi aku bukanlah orang asing, karena aku sebangsa dan se tanah air dengan dia, satu bahasa persatuan dan satu kepala Negara…
Aku juga tidak bertanya kepadanya, kenapa dia harus memandangku seperti itu. Karena aku pikir, seharusnya dia mengerti itu; bahwa aku dengan dia tidak ada perbedan apapun.
Namun ia tetap memandangku…
Menatapku begitu lama dan tajam..
Karena lelah oleh tatapan matanya akupun pergi.
Keesokan hari, tak kusengaja bertemu dengannya lagi. Kembali dia tatap aku dengan tajam..dan tajam sekali seolah-olah ada pisau di matanya.
Kucepat tingglkan dia, karena ku takut tatapan matanya akan membunuhku. Lanjut Baca »

Renungan lawas di masa sunyi, di pengasingan papua…

Antara Radio Head Dan Ketawang Puspawarna Mangkunegara IV

Mendengarkan  Radio Head  memainkan musiknya, seperti mendengarkan gending-gending jawa yang mistis yang terasa nglangut, jiwa laksana mengembara tak tentu arah….
Coba dengarkan pada lagu yg berjudul Kid A, seperti ada gamelan yang dipukul pelan-pelan secara ritmis, dicombine dengan ketukan-ketukan drum synstheizer yang dipukul dengan tempo agak cepat, kemudian masuk suara-suara manusia yang sudah dimodifikasi dengan tekhnologi sehingga terdengar menggeram-geram seperti menggerutu, tertekan dan terkesan kesal… Lanjut Baca »

Ini juga kisah lain yang sempat saya tulis sewaktu di Biak.
Cerita ditulis dari celotehan salah satu anak Papua (saya lupa namanya) yang terkadang maen di dekat tempat saya ngekost.
Jika anak ini bercerita, saya melihat dia seperti Butet Kertaradjasa, kemampuannya berimprovisasi dalam monolog, sungguh sangat luar biasa.
Jika dia datang, semuanya berkumpul untuk mendengar dia bercerita…
Sekali lagi…sayang sekali saya lupa namanya..

Tentang Kakek dan Perahu Barunya

Ini adalah cerita tentang rakyat yang turun temurun diwariskan oleh rakyat kepada anak cucunya. Cerita ini mungkin sekedar lelucon kosong bagi kebanyakan orang, tapi beberapa mayarakat tertentu menganggapnya sebagai sebuah lelucon yang benar-benar pernah terjadi.

Konon seorang kakek, di pesisir biak papua, memiliki sebuah perahu baru. Lanjut Baca »

Ini adalah spenggal kisah yang sempat saya tulis saat sedang  bekerja di Papua, di tahun 2005.

Jika orang baru mengenal Hand Phone…

Barangkali, bagi kebanyakan orang pada saat ini dunia telepon seluler atau lebih dikenal dengan Hand Phone (HP) saja, sudah bukan hal yang asing.
Kalau 4-5 tahun lalu masih dianggap sebagai barang mewah, karena harga perangkatnya yang selangit, pulsa nya yang mahal serta administrasi pendaftaran pasca bayarnya yang berbelit atau perdana pra bayarnya yang masih berada pada deretan angka hampir mencapai 6 digit. Namun lambat laun dengan semakin murahnya perangkat dan bertambahnya pesaing penyelenggara (operator) seluler di tanah air, mengakibatkan harga yang semakin kompetitif pula. Dampaknya adalah ; pengguna semakin besar, karena harga yang sudah terjangkau oleh banyak lapisan masyarakat di indonesia. Dan bahkan sekarang ini, HP menjadi peralatan yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap orang yang mempunyai aktivitas apapun juga. Tak peduli menteri, gubernur, lurah, penjual sayur, dan tukang ojek. Bahkan anak sekolah dasar sekalipun,  juga sudah bukan hal yang aneh jika diantaranya membawa HP ke sekolah.
Akan tetapi, pesatnya perkembangan teknologi komunikasi ini di masyarakat, ternyata belum didukung oleh kesiapan masyarakat untuk menggunakan secara benar perangkat tekhnologi yang ia miliki tersebut. Lanjut Baca »

Sikap plastik

Leave Architectural
Begitu nama sebuah karya 3 dimensi dari Ida Bagus Putu Sutama, seorang perupa Bali asli dari Sanur. Seni instalasai ini dipamerkan di Pantai Segara, dalam kaitannya dengan Sanur Village Festival yang diselenggarakan pada awal agustus lalu. Lanjut Baca »

Terlantar di 17 Agustus

Indonesia pada 17 Agustus 2008.

Yuni Veronica adalah gadis 11 tahun seorang pelajar kelas 6 SDN 009 Kuala Terusan Pelalawan, Pekanbaru, Riau. Yuni bukanlah gadis cilik biasa, tapi dia adalah seorang juara catur dunia, peraih medali  perunggu  di kejuaraan catur dunia antar pelajar di singapura. Bukanlah sebuah kebetulan, jika suatu waktu ada orang yang mengundangnya datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden RI pada acara  ramah tamah seusai upacara 17 Agustus.
Presiden Indonesia memanggil begitulah yang ada di benak Pak Sudirman (Bapak Yuni) sehingga memberangkatkan anak kesayangannya untuk pergi ke Jakarta. Memanggil mereka untuk menunjukkan betapa apresiatifnya pejabat negeri ini kepada putra-putri bangsa yang berprestasi.  Lanjut Baca »

Hari itu Rumaji memang benar-benar apes. Berangkat ke Tuban dari kampungnya di Desa Tegalbang, Palang, Tuban membawa hasil kringatnya selama beberapa hari mengolah air nira menjadi minuman tradisional khas Tuban: Tuak Tuban.

Berharap rejeki lancar hari itu dan pulang membawa segengam uang untuk kelangsungan hidup keluarganya dan biaya sekolah anak-anaknya.
Tapi sayang, hari itu Rumaji bener-bener sedang apes. Ditengah jalan, disekitar kecamatan Paciran, ada orang-orang gila yang bertindak anarkhis seolah-olah Dewa. Lanjut Baca »

Sekitar 80 an sampai dengan awal 90 an, pasti diantara kita sering melihat stiker-stiker seperti dibawah ini. Dengan grafis yang sederhana dan bahan plastik stiker yang sederhana pula, terpampanglah stiker-stiker ini dimana-mana. Di kaca-kaca angkot, di gerobak bakso, di almari losmen murahan dan mungkin di cermin yang ada di rumah kita.
Yang menjadi kekuatan dari stcker tersebut adalah kata-kata nya. Terkesan seperti curhat, memotivasi, lelucon atau bahkan nasehat-nasehat kecil. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »