Nggowes ke kantor

Saat ini lagi trend di beberapa kota besar untuk bersepeda ke tempat kerja. Muncul dari jakarta dan mewabah kemana-mana, para pekerja kantoran menggunakan sepeda sebagai transportasi mereka untuk menuju ke tempat kerja.  Bersepeda di jalanan jakarta, apalagi jika letak kantor cukup jauh dari rumah, bisa sampe berkilo-kilo, sepertinya sungguh sangat menyiksa.  Butuh kebulatan tekad dan kekuatan mental disamping fisik yang baik tentunya. Saya rasa mereka yang melakukannya, punya idealisme tertentu tentang bersepeda sehingga sampai memilih untuk melakukan hal itu.

Terlepas dari itu semua, saya juga melakukan hal yang sama; Bersepeda ke tempat kerja. Tetapi mungkin motivasi saya berbeda dengan mereka yang ada di jakarta atau kota2 macet lainya. Saya sekarang tinggal di bali. Ada di denpasar timur, dekat sanur.  Tempat kerja saya berjarak 4,5 kiloan dari kost saya. Meski tidak setiap hari, khususnya kalau lagi tidak ada urusan kerja yang membutuhkan saya harus sampai di kantor pagi-pagi sekali ataukalau tidak kesiangan bangun (dan ini yang sering) , saya selalu menyempatkan untuk bersepeda ke kantor. Lalu lintas dari Kost menuju kantor, tidak macet; lancar sekali bahkan pada jam2 tertentu agak sedikit lengang. Dan banyak sekali jalan alternatif, sehingga jikapun satu jalan ditutup maka masih banyak alternatif lain yang bisa dilalui.

Antara berangkat dan pulang saya tidak melewati jalan yang sama, kalau berangkat melalui jalan2 kampung sedangkan pulangnya saya ambil jalan besar.
Kenapa saya memilih jalan kampung di pagi hari :
1.    pagi hari adalah waktu yang tepat untuk melihat bagaimana keseharian orang bali menjalankan aktivitas hidupnya khususnya untuk adat dan agama nya
2.    Segarnya menikmati jalanan kampung di pagi hari
3.    Jarak tempuh lumayan lebih pendek dengan melewati jalan kampung
4.    Saya merasa seperti turis setiap hari…hehehehe….karena hampir selalu bertemu dengan rombongan orang2 asing yang sedang bersepeda menikmati Bicycle Fun Trip bersama guide lokalnya, menyusuri sanur dan sekitarnya.
Sedangkan kenapa saya memilih jalan besar untuk pulangnya, Cuma ada 2 alasan :
1.    saya sering pulang agak malam, lewat jalan raya saya bisa sedikit ngebut, sehingga mempercepat saya sampai di rumah
2.    karena saya pulang malam, maka sungguh mengerikan melalui jalanan di kampung, yang hampir tiap 5 meter anjing nongkrong di pinggir jalan….saya pernah 3 kali dikejar-kejar anjing dalam semalam…..rasanya mau pingsan karena harus sprint terus2an….

Awalnya adalah kesehatan yang memotivasi saya untuk membeli sepeda dan menggunakannya untuk ke kantor. Karena, olahraga sudah jarang sekali saya lakukan maka harus ada alternatif lain yang memaksa tubuh  bergerak dengan konstan dan terukur, agar penyakit tak mudah datang. Istri saya juga merupakan faktor pendorong atas hal ini, karena dialah yang selalu mengingatkan tentang hal itu dan sedikit memaksa saya untuk segera membeli sepeda.
Tetapi setelah sekian waktu berjalan, ternyata bersepeda ke tempat kerja selama di Bali ini bukan cuma tentang ikhtiar untuk menyehatkan badan. Ada sisi penyehatan jiwa juga yang saya dapatkan disini.

Menyusuri jalanan kampung di bali, dari renon ke sanur, melewati beberapa bale banjar dan pura, menyaksikan bagaimana orang-orang bali menjalani kehidupan yang tak pernah lepas dari kegiatan adat dan agamannya, seperti memberi spirit baru bagi saya untuk  menjalani pekerjaan yang terkadang membuat penat fisik dan mental.

Di pagi hari, Ibu-ibu berselendang batik dengan nampan di tangan yang berisi canang (persembahan/sesajen yang terbuat dari janur dengan bunga dan daun sebagai isinya), hio dan air suci, sedang sibuk menempatkan canangnya di halaman rumah atau di pura, baik pura keluarga maupun pura yang ada di masing2 banjar.  Cara mereka dan keikhlasan mereka untuk melakukan itu setiap hari (dan tidak cuma sekali dalam satu hari, bisa jadi 2-3 kali dalam sehari) memperkaya batin saya saat saya menyaksikan hal itu.

Pada saat tertentu, sering juga saya lihat di beberapa Bale Bajar atau Pura, sedang dilakukan upacara tertentu.  Berbagai macam sesajen dan banten disiapkan, juga bermacam-macam perangkat upacara dan hiasan diletakkan.
Semuanya sangat artistik dan menarik. Orang Bali memang sangat ahli membuat segala sesuatu menjadi cantik dan menarik. Sesuatu yang sepele dan dibuat dengan ala kadarnya, akan berbeda bentuknya jika orang Bali yang membuatnya.

Ketika malam datang, dan sepedapun waktunya digowes menuju rumah, seperti yang sudah saya sebutkan diatas maka saya akan akan lebih banyak mengambil rute di jalan besar baru kemudian setengahnya akan melewati jalan yang lebih kecil. Masih melewati beberapa banjar dan pastinya juga akan menemui beberapa bale banjar serta pura-pura. Pada malam-malam seperti ini, biasanya banyak saya temui di beberapa bale banjar, ibu-ibu dan anak-anak muda baik cewek maupun cowok yang sedang berlatih menari atau me nabuh gamelan. Gamelan Bali yang ditabuh rancak  seperti mendorong sepeda ku untuk lebih laju saat kaki  sudah malas untuk digerakkan 😀
Bali bukan cuma punya alam yang cantik, tapi bagaimana gigihnya orang Bali menjaga budayanya,  melestarikan adat istiadatnya; terbukti mencerahkan banyak orang, menembus batas-batas golongan, agama dan suku.

Bersepeda membuat badan segar dan organ tubuh kita seperti jantung dan paru-paru ikut sehat. Tetapi bersepeda di Bali akan mendapatkan bonus lain  yaitu memperkaya pengalaman batin dan jiwa kita.

Iklan

16 thoughts on “Nggowes ke kantor

  1. salam gowes berjuta sepeda! sesama goweser di Bali
    btw, boleh minta alamat email ngga? kita sering gowes sanai loh kalo sabtu atau minggu dengan rute2 yang menantang adrenaline
    jalur gowesnya kmana aja? aku dari sedap malam kesiman ke sanur

  2. Salam gowes juga…
    Boleh, sudah saya balas langsung ke rocketmail.
    Rute yang menantang adrenaline??….. berani nggak ya?…hehehe…
    Kalau jalur gowes saya, dekat aja; Renon-intaran-blanjong.

  3. mas andri, kalo jalur gw mayjen sungkono – dr sutomo – keputran – wisma dharmala.. hehehe..

    ayo semangat.. gowes terusss.. 😀

  4. Roim dilawan… gempor dud..
    Sakti ancene arek iku….
    Orang B2w Jkt trip dari Jkt ke Bali, gowes gantian…de’e berangkat dewean…tanpa publikasi, tanpa ada support dari siapapun..kecuali doa dari wanita2 yg mengaguminya 😀 …. hebat…

  5. kring..kring gowess..gowess…
    mantab…
    tentang “ente diuber sama anjing” kayaknya ente punya pengalaman yang tidak sedikit ttg menghadapi anjing, inget waktu masih kost di “kost bernuansa desa” di bilangan benhill dulu….hahaha…
    enam ekor anjing besar2 dan sangat tidak bersahabat….
    asline bukan alasan anjing yg bikin ente gak gelem lewat kampung kalo jalan pulang, takut ada yang nyegat dan nawarin arak bali, dan gak bisa nolak..hahahaha..
    gud lak boss..
    selamat ber-gowes-gowes….
    salam gowes..
    [aku yo pengin nggowes ndik kene, tapi alam lalulintas makassar kurang bersahabat buat para peng-gowes…hehehe..]

  6. salam lagi mas, btw minggu ini adalah B2W week
    temen temen dari greenwarrior chapter B2W Bali lagi gathering power buat mengobarkan semangat B2W dengan menyebarkan pamflet dan flyer ke tempat2 umum………………jika sampeyan tertarik untuk “meracun” teman sekerja dengan idealisme “sepedaism” silahkan kontak nomer hapeku (sampeyan udah megang kartu namaku kan) ato arief di 081558027345

    nice blog

  7. #ndaru392 : wah penk…klo aku dari bogor ke cawang lewat tol nggowes lewat jalur ndi saranmu???

    Lha iku wes dijawab dewe, lewat tol kan?? ..
    Tapi ndra…
    Kalo elo pengen lebih menantang, gimane kalo elo lewat jalur oplet elo dulu…jadi muter dulu ke gandul-cinere..baru ke cawang….wakakakaka…,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s