Terlantar di 17 Agustus

Indonesia pada 17 Agustus 2008.

Yuni Veronica adalah gadis 11 tahun seorang pelajar kelas 6 SDN 009 Kuala Terusan Pelalawan, Pekanbaru, Riau. Yuni bukanlah gadis cilik biasa, tapi dia adalah seorang juara catur dunia, peraih medali  perunggu  di kejuaraan catur dunia antar pelajar di singapura. Bukanlah sebuah kebetulan, jika suatu waktu ada orang yang mengundangnya datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden RI pada acara  ramah tamah seusai upacara 17 Agustus.
Presiden Indonesia memanggil begitulah yang ada di benak Pak Sudirman (Bapak Yuni) sehingga memberangkatkan anak kesayangannya untuk pergi ke Jakarta. Memanggil mereka untuk menunjukkan betapa apresiatifnya pejabat negeri ini kepada putra-putri bangsa yang berprestasi.  Meski dia tidak jelas bagaimana biaya yang harus ditanggungnya untuk ongkos transportasi dari pekanbaru ke jakarta PP, transportasi selama di Jakarta dan akomadasi selama hidup di jakarta.
Sudirman bukanlah orang kaya, di tengah himpitan ekonomi yang luar biasa dalam keadaan serba mahal seperti ini,  dia tidak sempat berpikir bagaimana biaya-biaya yang akan dikeluarkan nantinya. Dalam pikirannya, jika negara mengundang seperti ini tentu akan ada yang  menanggung seluruh biaya-biaya itu.

Namun, kenyataan berkata lain. Usai silaturahmi dengan Presiden RI di Istana Negara, sudirman bingung. Tidak tau mau kemana. Tak ada yang meberinya tiket pulang ke pekanbaru, tak ada yang memberinya akomodasi, tak ada yang menjelaskan harus kemana setelah acara itu usai. Berjalan lah dia bersama putrinya di jalanan Ibu kota yang panas dan tidak manusiawi, menyusuri keriuhan Ibu Kota tanpa tahu harus kemana. Selama 4 hari hidup tanpa tujuan, numpang tidur kesana kemari, uang saku di kantong telah habis buat makan. Hingga beberapa warga menolongnya, memberinya makan dan ber inisiatif untuk mencarikan tiket pesawat buat pulang ke Pekanbaru.

Beginilah Indonesia memperlakukan rakyatnya.
Disanjung, dipuji, ditinggikan, dibuai dengan keindahan-keindahan..tetapi semuanya adalah Palsu.

Negeri ini memang jagonya dalam menelantarkan siapa dan apa saja.
Bangunan-bangunan fisik dibuat dengan dana ratusan miliar, selesai dibuat, diresmikan oleh kepala daerah/negara dengan prosesi upacara yang juga menelan biaya besar, setelah beberapa bulan kemudian akan ditelantarkan.
Pula-pulau tersebar dimana di seluruh penjuru negeri ini, ditelantarkan begitu saja hingga negara tetangga mengambilnya.
Rakyat dikumpulkan, diberikan pidato-pidato tentang bakal datangnya kemakmuran, setelah selesai pemilihan, Rakyat tetap saja miskin tetap terlantar…

–Baca Kompas untuk artikel ini–

3 thoughts on “Terlantar di 17 Agustus

  1. Pejabat Indonesia memang sukanya seremonial doang… pidato sana sini… kerjanya gak becusssss….

    Semoga pihak yg ngundang Yuni mendapatkan balasan yg setimpal dari Allah SWT ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s