Sikap plastik

Leave Architectural
Begitu nama sebuah karya 3 dimensi dari Ida Bagus Putu Sutama, seorang perupa Bali asli dari Sanur. Seni instalasai ini dipamerkan di Pantai Segara, dalam kaitannya dengan Sanur Village Festival yang diselenggarakan pada awal agustus lalu.
Pada salah satu media , Ida Bagus menjelaskan bahwa karya ini dihasilkan  atas keprihatinannya melihat dunia yang semakin lama semakin gersang, karena orang lebih tertarik untuk melakukan hal-hal praktis yang merusak ekologi dan meninggalkan naturalitas. Salah satunya adalah penggunaan plastik yang berlebihan.

Ada yang menarik perhatian saya dari karya 3 dimensi berupa 5 buah daun sintetis raksasa yang warnanya tergradasi dari hijau menuju coklat tua dan diletakkan pada sebuah bidang yang berbentuk kubus tersebut,  yaitu kalimat yang tertulis pada bagian depan : Membangun Ruang Kesadaran Dalam Kejaran Revolusi Hijau. Motivasi penting, tapi yang lebih penting adalah sikap. Hijau bisa terwujud jika sikap plastik diubah ke sikap daun”

Bagi saya, kalimat tersebut serasa membumikan karya Ida Bagus yang terasa melangit itu. Seni adalah penyadaran publik dan Ida Bagus berhasil membawakan secara pas tentang pentingnya peduli atas lingkungan.
Selama ini plastik menjadi bagian hidup yang serasa tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Segala produk yang ada membutuhkan plastik sebagai kemasan. Betapa borosnya kita mempergunakan plastik; baik itu produk yang dihasilkan oleh perusahaan besar maupun produksi rumahan semuanya dikemas dengan  plastik. Dan ketika kita membeli sesuatu baik itu di hypermarket2, di toko bangunan, di warung kelontong sebelah rumah bahkan sampai warung rujak pinggir jalan pun, maka kantong plastik sebagai pembungkus pasti tidak terlewatkan.

Sudah saatnya kita mencoba untuk meninggalkan sikap berfoya-foya dengan plastik.
Di singapura sudah ada peraturan yang mewajibkan orang untuk membawa kantong sendiri ketika berbelanja, jika tidak ingin membayar additional charge atas kantong  yang diberikan oleh penjual. Pemerintah daerah Jakarta setau saya pernah mendengungkan untuk melakukan hal yang sama di Jakarta, tapi kenyataanya ??….saya juga kurang tau. ……tapi sepertinya tidak berjalan….
Dulu, sewaktu saya masih kecil, saya masih banyak melihat orang membawa rantang sendiri jika mau membeli makanan di warung dan ingin membawanya pulang. Warung hanya menyediakan daun pisang sebagai pembungkus, jadi jika ingin membawa pulang  makanan yang berkuah atau ber air, maka si pembeli secara sadar sudah membawa rantang sebagai pembungkusnya.
Kenapa kita tidak mencoba lakukan lagi apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang dulu, jika hal itu lebih bijak untuk dilakukan pada sekarang ini.

Motivasi untuk menyelamatkan lingkungan adalah penting, tapi yang lebih penting adalah bersikap. Yaitu bertindak secara konkrit untuk mengurangi hal-hal yang tidak perlu dan merusak lingkungan.

5 thoughts on “Sikap plastik

  1. mana yang harus duluan ??? kebijakan pemerintah untuk mengurangi penggunaan plastik ? ataukah kesadaran masyarakat kita utk tidak menggunakan plastik atau paling tidak mengurangi penggunaan plastik?

    seperti teori telur dan ayam yah, mana yang duluan..hehehe…

    dulu waktu kami masih punya toko kelontong waktu dibandung, kakak saya tertua mengajari saya membuat kantong yang terbuat dari koran bekas. Kami membuat bermacam2 ukuran sesuai kebutuhan. Prinsipnya saat itu adalah menghemat biaya pembelian plastik sebagai pengemas barang belanjaan, belum terbersit [saat itu] tentang recycle…hehehe…

    mungkin kebiasaan2 seperti ini yang bisa di galakkan kembali utk mengalahkan kebiasaan menggunakan plastik…

    Indonesia Go-Green….!!!

  2. Nunggu kebijakan pemerintah…..???
    Mereka pasti butuh kajian dulu untuk itu. Kajian itu pasti akan melibatkan konsultan. Butuh survey, rapat-rapat, kalau perlu studi banding keluar negeri. Berapa banyak uang negara yang di “sia-siakan” untuk itu??
    Akh…enggak deh. Sepakat dengan usul ente yang kedua saja.
    Melakukan hal-hal bijak, agar rusaknya lingkungan enggak lebih parah…

  3. saya setuju dengan ‘kembali ke daun’
    untuk makanan lebih sedap spt misalnya nasi pecel dan rujak cingur (ciri khas org jatim)😀
    sebab kertas bungkus kan ada lapisan plastiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s