Tentang Kakek dan Perahu Barunya

Ini juga kisah lain yang sempat saya tulis sewaktu di Biak.
Cerita ditulis dari celotehan salah satu anak Papua (saya lupa namanya) yang terkadang maen di dekat tempat saya ngekost.
Jika anak ini bercerita, saya melihat dia seperti Butet Kertaradjasa, kemampuannya berimprovisasi dalam monolog, sungguh sangat luar biasa.
Jika dia datang, semuanya berkumpul untuk mendengar dia bercerita…
Sekali lagi…sayang sekali saya lupa namanya..

Tentang Kakek dan Perahu Barunya

Ini adalah cerita tentang rakyat yang turun temurun diwariskan oleh rakyat kepada anak cucunya. Cerita ini mungkin sekedar lelucon kosong bagi kebanyakan orang, tapi beberapa mayarakat tertentu menganggapnya sebagai sebuah lelucon yang benar-benar pernah terjadi.

Konon seorang kakek, di pesisir biak papua, memiliki sebuah perahu baru. Setelah sekian lama menabung dari hasil mencari ikan dengan perahu sewaan dan menjadi buruh pada perahu-perahu besar selama ber tahun-tahun. Akhirnya dia mampu membeli sebuah perahu, meskipun perahu kecil, namun cukuplah baginya untuk mencari ikan di laut, untuk menyambung hidupnya.
Si kakek ini tinggal bersama istrinya saja, sedangkan anak dan cucunya sudah pindah ke wilayah lain yang jauh dari tempat dia sekarang tinggal.
Meskipun sudah renta ia tetap memiliki semangat yang tinggi, untuk menekuni pekerjaanya, karena dari sanalah dia bisa meneruskan hidup bersama istrinya.
Memiliki sesuatu (dalam hal ini adalah barang/benda) yang baru, bagi kebanyakan orang adalah hal yang sangat mengairahkan dan menggembirakan dalam hidup. Dan bahkan banyak orang berusaha melakukan sesuatu yang berlebihan untuk memproteksi agar supaya benda yang baru ia miliki tersebut tetap dalam keadaan baik. Begitu pula sang kakek, dengan perahu barunya. Setiap hari ia melakukan perawatan super cermat dan inisiatif kerajinan yang tinggi terhadap perahunya itu. Mulai membersihkan badan  perahu bagian luar sampai ke sela-sela kecil yang ada di dalam perahu. Bahkan ia membeli cat dan mengecat beberapa bagian perahu dengan lukisan-lukisan tertentu, yang menurutnya menambah indah perahu barunya itu.
Suatu hari, untuk menyenangkan hati si nenek, si kakek mengajak si nenek plesir ke laut, sekalian mencari ikan di tengah laut.
Namun sebelum berangkat, si kakek me wanti-wanti si nenek supaya hati-hati di perahu dan jangan sembarangan membuang kotoran didalam perahu. Intinya, perahu harus tetap bersih!!!
Kemudian, berangkatlah mereka berdua ke laut untuk mencari ikan sekalian pacaran di tengah laut….asoy…….
Setelah beberapa jam di tengah laut, si nenek bilang ke kakek; “eh kakek, saya kebelet pipis ini, saya kencing di perahu sajakah?”
“Jangan, bilang si kakek. Kau tahan sudah, sebentar kita menepi” bilang si kakek.

Dalam tradisi masyarakat disitu, ketika mencari ikan atau melakukan aktivitas apapun di tengah laut, pantang bagi mereka untuk membuang kotoran, baik itu berupa air besar maupun air kecil, ke tengah laut. Karena, mereka takut kalau dewa laut akan marah kepada mereka, sehingga mempersulit mereka dalam mencari ikan. Kebiasaan seperti ini, sangat mereka patuhi. Karena bagi mereka laut adalah hidupnya, dan jika dewa laut sudah marah, bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya….sebuah kearifan tradisonal yang banyak dimiliki oleh masyarakat kita.

Si nenek liat ke arah pantai, dan dari tempatnya pantai terlihat masih jauh. Sedangkan kecepatan perahu ini begitu lambat, “kalo aku harus menunggu perahu ini sampai ke pantai, aku sudah tidak tahan. Tapi kalau aku buang air ke laut, dewa laut akan marah.” Begitu pikir si nenek.
Kemudian si nenek bicara kepada kakek; “kakek, saya sudah tidak tahan, Saya buang saja di perahu ya”
SI kakek dengan nada tinggi, menjawabnya; “jangan. Kau tahan saja sudah. Kau sudah lihat, saya bawa perahu ini ke darat toh”
Dengan kecepatan yang lambat, perahu memang sudah diarahkan ke darat. Namun mengingat jaraknya yang jauh, perahu ini seperti tidak berjalan mendekati daratan saja.

Karena tidak tahan, akhirnya  si nenek mengeluarkan pipisnya secara diam-diam di dalam perahu. Mengingat lamanya dia menahan kencing, membuat air kencing si nenek terlihat begitu kuning dan banyak sekali sehingga menggenangi perahu. Dan bahkan sampai membasahi kaki si kakek. Melihat keadaan itu, si kakek sangat marah. Tak henti-henti nya ia mengeluarkan kata-kata keras dan cenderung kasar kepada nenek. Mengomel dan terus mengomel dilakukan oleh si kakek, atas tindakan yang dilakukan nenek kepada perahu barunya. Karena sudah tidak tahan dengan omelan-omelan itu, membuat si nenek menjadi ikut marah.
Lalu dia berteriak; “hei kakek kau baru begini saja sudah marah besar. Bertahun-tahun kau kasih kencing saya tiap malam, saya tidak pernah marah!!!”…….glk..glk…glk…dan kakekpun terdiam. Daripada enggak dapat jatah lagi, pikirnya……

Biak, 2 Juli 2005

One thought on “Tentang Kakek dan Perahu Barunya

  1. hahahahaha..
    tak pikir serius tibake cerita mbanyol..
    nice posting bro, gawe penyegaran seng lagi suntuk kiy….:))

    horas,

    ranob

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s