Jika orang, baru mengenal Hand Phone…

Ini adalah spenggal kisah yang sempat saya tulis saat sedang  bekerja di Papua, di tahun 2005.

Jika orang baru mengenal Hand Phone…

Barangkali, bagi kebanyakan orang pada saat ini dunia telepon seluler atau lebih dikenal dengan Hand Phone (HP) saja, sudah bukan hal yang asing.
Kalau 4-5 tahun lalu masih dianggap sebagai barang mewah, karena harga perangkatnya yang selangit, pulsa nya yang mahal serta administrasi pendaftaran pasca bayarnya yang berbelit atau perdana pra bayarnya yang masih berada pada deretan angka hampir mencapai 6 digit. Namun lambat laun dengan semakin murahnya perangkat dan bertambahnya pesaing penyelenggara (operator) seluler di tanah air, mengakibatkan harga yang semakin kompetitif pula. Dampaknya adalah ; pengguna semakin besar, karena harga yang sudah terjangkau oleh banyak lapisan masyarakat di indonesia. Dan bahkan sekarang ini, HP menjadi peralatan yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap orang yang mempunyai aktivitas apapun juga. Tak peduli menteri, gubernur, lurah, penjual sayur, dan tukang ojek. Bahkan anak sekolah dasar sekalipun,  juga sudah bukan hal yang aneh jika diantaranya membawa HP ke sekolah.
Akan tetapi, pesatnya perkembangan teknologi komunikasi ini di masyarakat, ternyata belum didukung oleh kesiapan masyarakat untuk menggunakan secara benar perangkat tekhnologi yang ia miliki tersebut. Barangkali, untuk masyarakat tertentu, penggunaan perangkat tekhnologi sudah berjalan dengan cukup maju. Penggunaan fitur-fitur seperti MMS, GPRS,  Push Email, Koneksi Blue Tooth dan lain sebagainya  sudah bukan merupakan hal yang asing dalam pemanfaatan Hand Phone.
Namun  masih banyak diantara masyarakat kita, yang masih gagap menggunakan tekhnologi HP, meskipun untuk hal-hal yang standar seperti melakukan panggilan telp, menerima pangilan, atau menerima dan mengirim SMS. Khususnya pada masyarakat yang berada dibeberapa wilayah di indonesia yang tertinggal dalam mendapatkan tekhnologi komunikasi ini, yaitu daerah-daerah di wilayah indonesia bagian Timur.
Salah satunya adalah di papua, daerah kaya raya yang justru ketinggalan dalam banyak hal dibandingkan dengan wilayah lain di indonesia.
Memang, bukanlah hal yang aneh sekali jika di beberapa wilayah tertentu di papua, banyak orang yang sudah terlihat menenteng HP kemana-mana.
Namun, hal itu tidaklah diiringi dengan pemahaman yang baik tentang penggunaan perangkat dan pemahaman hal-hal yang berkaitan dengan operator seluler dengan benar. Saya mempunyai beberapa pengalaman  menarik, selama mengerjakan proyek perluasan jaringan salah satu perusahaan telekomunikasi di indonesia.

Diantaranya berikut ini :

Dalam kaitan dengan pekerjaan, saya pernah sulit sekali menghubungi seseorang. Sedangkan informasi dari orang tersebut, sangat saya butuhkan untuk bisa segera selesaikan salah satu tahapan pekerjaan. Tapi sudah berkali-kali saya hubungi lewat HP, namun tidak juga bisa bicara dengan orang tersebut. Meskipun, nyata-nyata terdengar nada tunggu dari HP saya.
Karena berkali-kali susah dihubungi, saya berpikiran ; barangkali HP nya ketinggalan di tempat tertentu, yang jauh dari jangkauan dia. Akhirnya saya memaksakan diri untuk mencari orang tersebut di beberapa tempat, sampai kemudian ketemu di suatu tempat. Usut punya usut, ketika saya tanyakan apakah dia tidak membawa HP, dia menjawab “bawa!” dan malah langsung memperlihatkan HP tersebut kepada saya. Dan sewaktu saya tanyakan kenapa dia tidak mau angkat telponnya sewaktu saya hubungi tadi, dengan entengnya dia jawab ; “wah pulsa saya tinggal dikit pak, jadi kalo tadi saya angkat, pulsa saya bisa habis tersedot ke HP bapak”. Saya Cuma bisa, kernyitkan dahi. Belum paham dengan apa yang dia maksudkan. Kemudian dia jelaskan, kalo menurutnya jika HP nya dihubungi via Hp lain maka pulsa nya akan berkurang karena tersedot ke HP yang menghubunginya. Sebenarnya saya pengen ketawa aja mendengar penuturannya, tapi karena melihat tampang lugunya, jadi tidak tega untuk menertawakannya. Kemudian saya sedikit jelaskan, mungkin yang ia maksudkan adalah roaming charge. Bahwa memang untuk beberapa operator seluler menerapkan biaya kepada para pengguna yang menerima panggilan telepon di luar wilayah dimana nomor telp yang ia gunakan didaftarkan. Tapi mengingat no hp yang dia miliki adalah nomor lokal, maka biaya tersebut tidak berlaku. Bahkan saat ini, hampir semua operator seluler menghilangkan pengenaan biaya roaming tersebut. Dan dimanapun kita menerima telp, asal masih masuk wilayah indonesia, tidak akan dikenakan biaya sedikitpun. Orang tersebut mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan saya. Entah sudah paham atau belum, yang pasti setelah itu dia sudah bersedia menerima panggilan telp dari saya.

Pengalaman kedua tentang hal-hal yang berkaitan dengan hand phone, adalah keganjilan ketika mengisi pulsa handphone. Suatu ketika saya ke sebuah toko yang menyediakan pernak-pernik yang berkaitan dengan seluler. Dari hand phone, chasing, baterai, voucher pulsa dll.
Kemudian masuklah, seorang pria berusia sekitar 40-an. Dia bilang mau beli pulsa untuk hand phone nya. Sewaktu ditanya oleh penjual, pulsa apa yang mau ia beli. Ia sebutkan salah satu produk dari operator seluler. Kemudian sewaktu ia ditanya, pulsa berapa yang ia mau beli, ia sodorkan uang 100 ribu kepada penjual. Tanpa banyak tanya lagi, seolah-olah sudah paham maksud pembeli, si penjual langsung sodorkan voucher pulsa 100 ribu. Si pembeli balik sodorkan HP nya ke penjual, tanpa berkata apapun. Dan si penjual, lagi-lagi tanpa banyak tanya, segera buka bungkus voucher pulsa itu, gosok dengan koin pada kode-kode angka yang ada di voucher, kemudian pencet beberapa tombol untuk masukkan kode-kode tersebut. Setelah selesai semua, si penjual tunjukkan monitor HP  pada pembeli, untuk menunjukkan bahwa pulsa sudah terisikan dan masuk dalam account si pembeli. Dan dengan agak linglung, si pembeli menerima HP nya kembali. Lalu ia bertanya ke penjual, “eh ibu, kenapa saya punya pulsa belum kasih masuk?”. Jawab si pembeli ; “lho kan sudah saya masukan tadi. Kan bapak lihat sendiri kalau pulsa bapak sudah bertambah”.
Si pembeli kembali bertanya ; “kalau memang sudah kasih masuk, apa ibu punya bukti kah?”
Kata penjual,”kan sudah saya lihatkan ke bapak, angka-angka yang ada di hand phone tadi. Ya itu tadi tandanya sudah masuk, bapak”
“Ya, tapi kenapa kertas itu (yang dimaksud adalah kertas voucher pulsa) masih ada disitu kah?”, si pembeli bertanya lagi.
“Eh bapak, yang kita masukkan ke dalam hand phone ini angka-angka yang ada disini, bukan kertasnya dimasukkan ke hand phone!”, jawab si penjual dengan nada agak tinggi, mungkin karena kesal.
Si pembeli tak kalah sengitnya tanggapi si penjual, ; ”akh kau bikin-bikin saja, kau tipu saya  tokh”
Sebelum pertengkaran itu berlanjut, ada seorang bapak-bapak yang berusaha menengahi. Kemudian bapak itu tanya ke pembeli ;”eh bapak, tadi sebelum isi pulsa, bapak punya HP sudah bisa buat bicara kah?”
Jawab si pembeli;”belum bisa bapak”. “Kalau begitu, bapak coba sudah untuk telpon sekarang,  bicara sama siapa saja”, bilang bapak itu kepada pembeli.
Dan dengan percaya diri, si pembeli lalu coba memencet tombol-tombol yang ada di pesawatnya.  Tapi bukannya panggilan yang dilakukan oleh si pembeli itu, malah terdengar suara ring tone yang berbunyi dari hand phone nya. Dan dia terlihat kebingungan akan hal itu. Dalam pikiran saya saya saat itu; mungkin ada panggilan yang masuk ke HP nya.
Karena terlihat bingung, ia serahkan Hpnya ke bapak itu, tanda minta tolong untuk selesaikan masalahnya pada hp yang dia miliki. Lalu bapak itu memeriksanya, dan dengan cepat ia memencet salah satu tombol yang ada disitu, kemudian ia bilang; “aih bapak, bapak salah kasih pencet tombol. Ini tombol untuk pilih ring tone, bukan untuk menelpon”. Kemudian ia lanjutkan bicaranya; “kalau begitu, bapak ingin bicara sama siapa, biar saya bantu bikin sudah”. Dan pembeli menyebutkan salah satu orang yang dikenalnya. “tapi dia punya nomor sudah masuk disinikah?” tanya bapak itu lagi. “sudah, saya beli hp ini dari dia tokh”, jawab si pembeli. Tanpa bertanya-tanya lagi, bapak itu mencari nama yang disebutkan si pembeli dalam addres book di hp tersebut. Dan ia lakukan panggilan ke nomor tersebut, setelah panggilan itu masuk, bapak itu serahkan pada si pembeli untuk bicara.
Usai berbicara, dengan malu-malu sebagai bentuk pengakuan atas kekhilafannya, pembeli tersebut meminta maaf kepada penjual dan   berterima kasih kepada bapak itu. Selepas dia pergi, penjual dengan tersenyum kecut bilang ke saya; maklum mas……  entah apa maksud mbak tadi bilang maklum ke saya.

Juga masih ada lagi beberapa cerita lain, seperti cerita dari seorang supervisor sebuah perusahaan yang menjadi sub kontraktor dari perusahaan saya; yang anak buahnya selalu mengulang-ulang megirimi sms kepadanya sampai puluhan kali dengan isi pesan yang sama, karena tidak mengerti messege report. Jadi dia menganggap bahwa sms belum diterima oleh penerima sms, sebelum si penerima tersebut membalas sms yang ia kirim.

Atau ada juga seorang karyawan sebuah toko bangunan yang saya kenal, yang sering melakukan panggilan ke HP saya, tanpa bersuara sedikitpun setelah panggilannya saya angkat. Awal-awalnya saya pikir, HP miliknya tidak sengaja kepencet. Tapi karena berulang-ulang kali, coba saya tanyakan kepadanya kenapa selalu ada panggilan dari dia, tapi tidak ada suara yang terdengar. Dia memberi jawaban pendek; ”saya mau kirim sms”. Setelah perbincangan diteruskan untuk mengetahui apa yang dia maksudkan. Akhirnya ketahuan, bahwa dia ingin mengirim sms, tapi setelah menuliskan pesan dan tinggal mengirimkan sms, dia selalu kebinggungan menekan tombol apa lagi. Karena yang dia ketahui hanya menekan tombol Ok maka setiap selesai menuliskan pesan, dia akan menekan tombol ok. Dia mengira, dengan menekan tombol ok, maka pesan sudah tersampaikan kepada yang dikehendaki…padahal seringkali masuk nya ke redialled.

Dan jika diperhatikan, sering saya dapati orang-orang yang menenteng HP dengan kualifikasi sebagai smart phone seperti Nokia Comunicator 9500, Sony Ericson P 900 atau O2 PDA Phone. Tapi bukan berarti, semua user tersebut piawai menggunakan peralatan canggih yang ia miliki. Bahkan ada banyak diantaranya  yang menggunakan smart phone tersebut, hanya sekedar melakukan panggilan dan menerima telephone saja. Yang penting gaya dulu, tentang fungsi belakangan aja, mungkin itu dalam pikiran mereka.

Namun bukan berarti hal ini bisa digunakan untuk menggeneralisir keadaan, bahwa seperti itulah kebanyakan pengguna teknologi komunikasi di papua. Itu  hanyalah beberapa kejadian lucu yang saya dapatkan selama saya di papua. Tentu pengguna yang sudah dengan benar mengunakan perangkat telekomunikasi nya, jauh lebih banyak lagi. Apalagi dengan semakin deras masuknya arus tekhnologi ke papua, seperti sekarang ini.

Biak, 1 juli 2005

4 thoughts on “Jika orang, baru mengenal Hand Phone…

  1. Ping balik: How real your state really are? « ~fat72009/

  2. hya hahaha….
    kasian bener itu orang. sekarang aja masih banyak kok org2 yang hpnya canggih tapi ga dimanfaatkan fitur yg ada. paling2 cuma fitur musik dan kamera yang dipake. selebihnya nganggur, semacam gprs, maupun koneksi ke komputer. yang penting gaya!

    eman2 duite, beli mahal2 tapi ga dipake🙂

  3. hahahaha…begitulah bro…jaman berkembang dengan pesat tai sayangnya arus informasi tidak bisa diterima cepat saudara2 kita yg dipapua…hahhaha..akhirnya kayak gini deh..:))

    horas,
    ranob tuas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s