Perlawanan dengan Tatapan

Perlawanan dengan Tatapan

Pada awalnya aku tidak merasa aneh dengan tatapan itu.
Karena hal itu adalah naluri manusia, ketika melihat sesuatu yang asing dihadapanya.
Tapi aku bukanlah orang asing, karena aku sebangsa dan se tanah air dengan dia, satu bahasa persatuan dan satu kepala Negara…
Aku juga tidak bertanya kepadanya, kenapa dia harus memandangku seperti itu. Karena aku pikir, seharusnya dia mengerti itu; bahwa aku dengan dia tidak ada perbedan apapun.
Namun ia tetap memandangku…
Menatapku begitu lama dan tajam..
Karena lelah oleh tatapan matanya akupun pergi.
Keesokan hari, tak kusengaja bertemu dengannya lagi. Kembali dia tatap aku dengan tajam..dan tajam sekali seolah-olah ada pisau di matanya.
Kucepat tingglkan dia, karena ku takut tatapan matanya akan membunuhku.
Disuatu kesempatan, pada suatu situasi tertentu yang memojokkanku, aku tak bisa menghindar lagi.  Ditatapnya aku dengan sangat tajam, tanpa bergerak sedikitpun, hanya matanya yang menancap lurus kepadaku..
Kurasakan detak jantungku berdegup dengan cepat, keringat dingin mengucur dari tubuhku dan tak satupun bagian tubuhku yang bisa digerakkan..
Kupaksakan dengan sekuat tenaga yang kumiliki, namun kaki, badan dan tubuhku tak juga bergerak…Hingga aku bisa membuka mulutku…
Kukatakan kepadanya ; “ kawan, kenapa kau tatap aku seperti itu?”
Lama…tak terdengar jawaban darinya..
Lalu kuulangi dengan pertanyaan yang sama.
Namun belum juga ada jawaban darinya..
Hingga pertanyaan sama kuulangi sampai ketiga kali.
Dan dia hanya menjawab : “Kawan ?”
“iya kawan, kenapa kau tatap aku seperti itu?”,  kutegaskan pertanyaanku.
“aku bukan kawanmu”, teriaknya.
“aku datang kesini bukan untuk maksud jelek, untuk itu aku panggil engkau kawan”, kujelaskan kepadanya kenapa aku harus memanggilnya kawan.
Dan dia menjawabnya dengan nada tinggi ;
“Atas segala perbuatan jahat yang telah kau lakukan kepada kami, kini kau bilang tidak punya maksud jelek !?..puih….dan diapun meludah.
“perbuatan jahat apa yang kau maksudkan kawan, sehingga membuatmu murka seperti itu. Sedangkan aku baru datang kesini. Bahkan melihatmu pun belum lama”.
“Jangkan kau panggil aku kawan!!”, teriaknya
“iya…iya…maksudku aku tidak mengerti dengan yang kamu tuduhkan kepadaku?”
“Bagaimana mungkin kau tidak tahu. Engkau adalah biang segala masalah yang terjadi disini, jika saja kau tidak terlibat langsung setidaknya kau telah terlibat secara tidak langsung dengan kehancuran yang terjadi disini. Dengan menikmati apa yang telah dilakukan pemimpinmu dan membiarkan kami hancur, maka secara tidak langsung sudah terlibat dengan Kejahatan kepada kami”
Dia berbicara dengan sangat bernafsu dan nada tinggi…
“Kehancuran macam apa yang kau maksudkan, kawan?”..kataku.
Segera ia menimpali ; “Sudah kubilang, jangan panggil aku kawan!”
“Jika aku salah memanggilmu kawan, lalu aku harus panggil apa kepadamu?’
“kau cukup berbicara saja, tanpa perlu memanggil apapun kepadaku”..ia berbicara dengan nada bicara yang agak rendah.
“baik kalau begitu, tolong jawab pertanyaanku tadi, kehancuran apa yang kau maksudkan?”
“jika engau tidak buta, tuli, punya otak dan perasaan, maka seharusnya kau sudah tahu dengan apa yang aku maksud”…begitu sinis jawaban darinya
‘Benar, saya sungguh sangat tidak mengerti dengan apa yang kau maksud, kaw…”sebelum aku sempat meneruskan bicaraku, aku sadar kalu ia tidak mau dipanggil kawan, maka langsung aja kupotong sendiri bicaraku, dan dengan cepat kututup mulutku sendiri dengan tanganku..
Tapi ia tidak meresponya, dan ia  cuma berkata ;”berarti benar kau buta, tuli, tidak punya otak dan hati?”
“jika karena ketidaktahuanku dengan apa yang kau maksud tentang kejahatan, aku membenarkan apa yang kau katakan. Aku benar-benar tidak tahu dengan apa yang kau maksud. Jadi mungkin benar, kalau aku tidak pernah melihatnya, sehingga kau bilang aku buta. Aku tidak mendengarnya, sehingga kau bilang aku tuli. Dan aku tidak bisa berpikir tentang apa yang kau maksud, sehingga kau bilang aku tidak punya otak. Juga aku tidak bisa merasakan itu semua, sehingga kau bilang aku tidak punya hati”.
“Kau bukan buta karena tidak bisa melihat, tapi membutakan diri, sehingga seolah-olah kau tidak bisa melihat. Kau bukan tuli, karena tidak bisa mendengar, tetapi telingamu telah kau sumpal dengan rapat untuk tidak mau mendengar tentang ini semua. Kau juga bukan tidak berakal karena tidak ber otak, tetapi otakmu telah kau sterilkan untuk berpikir tentang hal-hal yang terjadi kepada kami,. Dan kau juga bukan tidak berperasaan karena tidak punya hati, namun tidak ada satupun bagian dari hidupmu yang bisa merasakan betapa menderitanya kami disini”..begitu tangkas ia menjawab.

“jika memang aku sangat terkutuk, kejahatan apa yang aku lakukan?”…tanyaku

“Fikirkan itu !!!”..teriaknya

Dan aku ditinggalkannya….

Aku benar-benar tidak mengerti dengan segala apa yang dituduhkan kepadanya.  Tentang perbuatan jahat yang pernah akau lakukan, atau tentang menikmati hasil dari perbuatan jahat tersebut. Kupikir lebih mendalam lagi apa yang ia maksudkan dengan kejahatan tersebut, kuingat-ingat perbuatan jahat yang pernah aku lakukan. Kuingat lebih dalam lagi, dan seingatku sejahat-jahatnya yang aku lakukan sepertnya  tidak pernah punya dampak yang sedemikian besar, sampai bisa menyeberang pulau sejauh ini.  Dan kuingat lagi, hasil perbuatan jahat yang pernah aku nikmati. Rasa-rasanya tidak pernah sespektakuler yang ia tuduhkan, karena hasil nya juga begitu-begitu saja….. Tapi kalo yang tidak secara langsung aku nikamati….oh mungkin saja. Karena saya tidak pernah tahu bagaimana, darimana dan dari siapa, atas sesuatu yang aku nikmati secara tidak langsung….Mungkin saja ini yang ia maksudkan!
Tapi apa ?
Kobolak balik semua ingatan yang ada di kepala.
Kunalar-nalar pikiran yang tersedia di otakku.
Coba kurangkai dengan logika-logika sederhana yang kukuasai.
Dan hasilnya …..
Aku tidak mendapatkan jawaban.
Akhirnya kutinggalkan saja semua pikiran-pikiran tentang itu.

Aktifitas hidup kulalui dengan datar-datar saja setelah itu.
Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan memburu yang datang kepadaku sebagaimana kemarin.
Namun kalimat-kalimat keras dari anak itu masih terus membekas dalam ingatanku.
Tiap waktu masih selalu berpikir untuk menemukan arti atas teriakan-teriakan yang tidak bikin pekak telinga tapi bikin hati terasa ngilu..
Ada sesuatu yang menarik, selama aku amati lingkungan didaerah sini. Menarik itu bukan berarti indah dan menyenangkan, namun kemenarikan itu kulihat dari sisi yang sebaliknya.
Orang-orang asli sini seperti ngenger di negerinya sendiri, tak kulihat kemakmuran secara merata terbagi di wilayah ini. Betapa terpinggirkannya mereka dalam sosial dan ekonomi.
Hidup diatas tanah emas bukan lantas secara otomatis membuatnya menjadi makmur.

Biak, 4 Agustus 2005

4 thoughts on “Perlawanan dengan Tatapan

  1. sepertinya ada “nyawamu” yang tertinggal sedikit di sana kawan…hehehehe…
    emosi yang kau tumpahkan seperti kau betul2 mnejiwai kehidupan disana….
    mungkin sudah waktunya kau mampir kesana lagi utk mengambil sedikit nyawamu yang tertinggal…hehehe..

    mantab boss..:)

  2. Hahahaha…..
    .. kalau cuma sedekat denpasar-malang, mungkin bisa kusempatkan kesana. Tapi di ujung dunia seperti itu, mana tahan ongkosnya…
    Thanks boss..

  3. bapak bonar…
    setetes nyawa bapak iwan tidak dapat lagi ditebus dengan menghampiri tanah emas ujung timur nusantara. apa yang telah tercecer biarkan saja tercecer..biarkan tanah emas yang kan menghapus dan menjadikan sari pati tanah papua

    bapak iwanS…
    makanya jangan mencecerkan disembarang tempat yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s