Champions

Tahun 2005 adalah final terakhir piala champion yang saya tonton. Pertandingan yang sangat dramatis antara Liverpool vs Ac Milan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Liverpool. Sesungguhnya saya ikut gembira waktu itu; karena secara pribadi saya memilih Liverpool dari pada AC Milan untuk memenangkan pertandingan dan menjuarainya.
Kegembiraan saya yang kedua adalah; malam itu saya bisa menonton sampai selesai Final Champions dengan lancar tanpa ada hambatan listrik mati dan halangan cuaca yang biasanya merusak kualitas siaran. Maklum waktu itu saya menontonya di Nabire. Sebuah negeri yang sepertinya antah berantah, jika kita lihat di peta ketika kita di Jawa. Meski sebenarnya, jika saja kita sudah sampai disana, orang jawa akan serasa hidup di kampungnya, karena banyak sekali pendatang jawa yang bermukim disana.

Tahun 2009 ini saya berniat untuk tidak ketinggalan menonton Final Liga Champion lagi. Kali ini saya sangat meyukai Barcelona dan berharap team ini bisa memenangi Liga paling bergengsi tersebut; dengan menyudahi kegemilangan Manchester United.
Permainan Barcelona sungguh sangat impresif, begitu alasan yang membuat saya mengaguminya. Sejak Joseph “Pep” Guardiola menukangi team ini, kemenangan demi kemenangan diraih oleh barca. Dan semua kemenangan itu dibuat dengan permainan menyerang yang sangat memikat, skil tinggi, serta hujan gol ke team lawan. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa Barca juga banyak kemasukan gol akibat dari strategi menyerangnya itu. Namun bagi saya, itulah resiko dari strategi yang dipilih. Yang terpenting kemenangan sudah dibuat dari sebuah pertandingan yang memikat.
Joseph Guardiola dengan Barca nya telah menunjukkan kepada dunia bagaimana sebuah pertandingan sepak bola disajikan. Pencapaian kemenangan dengan berusaha keras untuk membuat gol sebanyak-banyak nya ke gawang lawan melalui skema dan pola permainan dari ketrampilan individu yang disusun secara luar biasa.
Kemenangan sebuah pertandingan sepakbola, yang dihasilkan dari permainan bertahan lalu mencari celah untuk sekali membuat gol dan kembali bertahan habis-habis an atau berharap menang melalui adu penalti adalah menyimpangi Prinsip dan Filosofi sepak bola. “Sepak Bola Dunia Sudah Mati’ begitu teriak para Pencinta Bola demi melihat kemenangan yang diraih oleh tim-tim bergaya seperti itu.

Di awal-awal pelatih Joseph Guardiola ditunjuk menjadi manager team, banyak orang sangsi atas kemampuanya, jika menegok jejak rekam kepelatihannya waktu itu. Dan kesangsian banyak orang akan prestasi Barca pada masa mendatang semakin bertambah-tambah, setelah Pep memecat beberapa pilar penting Barca di masa kepelatihan Frank Rijkard. Adalah Ronaldinho dan Deco, yang menjadi “korban” dari konsep dan startegi Pep yang akan diterapkan pada Barcelona FC. Ronaldinho dan Deco adalah superstar di masa nya. Keduanya motor serangan tim dan pengatur permainan Tim sehingga permainan Barcelona juga terlihat impresif semasa Rijkard masih menukangi team itu.
Hujan protes dan komplain habis-habis an dari pencinta Barca tidak membuat Pep bergeming atas keputusan yang sudah diambilnya. “Saya Manager Team, saya berhak memutuskan apa yang seharusnya diputuskan, serta berhak melakukan apa yang seharusnya saya lakukan dalam kapsitas saya sebagai Manager Team”, begitu pep menegaskan tentang dirinya.
Kini lihat lah dengan apa yang telah dihasilkan oleh Pep. Sebuah team yang diklaim oleh oleh pendukung fanatiknya sebagai Team Barca terbaik sepanjang masa!!!

Sekarang saya coba celingak celinguk ke negeri sendiri saya sendiri, membandingankannya dengan kehidupan bernegara dan berbangsa di tanah air tercinta ini. Saat ini Pemilihan Umum Legislatif sudah selesai. Dan hasilnya pun juga sudah di umumkan oleh KPU beberapa hari yang lalu.
Kabar terkini adalah tentang seorang manusia indonesia, yang sudah terpilih oleh sekian ratus juta rakyat, dan sekarang ini (melalui beberapa survey), masih dikehendaki oleh berjuta Rakyat Indonesia untuk mengemban amanah meneruskan perjuangannya membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat, terlihat seperti orang yang bimbang dan peragu. Sekian lama waktu yang dimiliki untuk berpikir siapa orang yang pantas untuk dipilihnya sebagai wakilnya dalam kompetisi kepresidenan; terkesan kurang cukup. Alih-alih untuk melihat bagaimana struktur kabinetnya, bahkan untuk menegaskan siapa pendamping nya pun kita belum diberi kesempatan untuk mengetahuinya. Memang sebenarnya; kebanyakan rakyat pun tidak mau tahu siapa calon wakil yang akan dipilihnya. Namun bagi rakyat; kini sudah gamblang terlihat bagaimana besarnya kepentingan yang berada dibelakang calon presiden itu dan betapa ragu-ragu nya dia menetukan keputusan. Hal ini berbanding terbalik dengan begitu besarnya harapn rakyat terhadap dirinya.

Rakyat Indonesia memang tidak cukup punya banyak pilihan alternatif, siapa calon pemimpin negeri ini, diluar mainstream yang sudah mengemuka. Akibat dari regulasi yang mengharuskan calon presiden diajukan oleh Parpol yang mendapatkan suara minimal 20% nasional dari Pemilu Legislatif. Satu pemimpin wanita dari Partai mengemuka, terlihat sudah begitu tidak populer dimata kelas menengah, karena sangat diragukan kapabilitasnya. Bahkan ketika pemilu legislatif akan dilaksanakan, ada 97 ribu pengguna facebook yang bergabung di salah satu thread bilang tidak pada wanita ini untuk menjadi Presiden RI akan datang. Ada 3 Jenderal yang terlihat menggebu, mencalonkan diri menjadi Presiden. Satu diantaranya adalah Jenderal Rising Star dimasa orde baru. Banyak aktivis HAM yang sama sekali tidak tertarik dengan jenderal satu ini, dan berusaha menahan laju jendral ini ke tampuk RI 1, melihat berdarah-darah nya jejak rekam dia selama ini serta ketrkaitanya dengan Orba.
Satu jenderal yang lain; juga punya masa lalu yang buruk berkaitan dengan HAM. Utamanya untuk kasus Mei 1998 dan kerusuhan di Dili pada masa pasca jajak pendapat. Tapi kenapa, resistensi atas jenderal yang satu ini tidak sekuat dengan jenderal satunya lagi. Saya juga kurang mengerti.
Kemudian ada wakil presiden yang juga ketua partai hegemonik masa orde baru. Sepanjang survey dilakukan oleh beberapa lembaga survey, kepopuleran wakil presiden ini jauh dibawah dari Presiden sekarang ini. Meski dia sudah jungkir balik semasa menjabat wakil presiden, agar dia kelihatan berbeda dibanding wakil presiden – wakil presiden sebelumnya dan tentunya agar mendapatkan simpati dari rakyat .
Diantara calon-calon pemimpin yang tidak mempunyai kesan yang tinggi itulah, kini bangsa indonesia lebih suka memilih SBY dibanding lainnya.

Saya menyukai Pep, karena keteguhannya dengan penerapan konsep dan strategi nya dalam membangun team sepak bola nya. Memang mengurus negara tidaklah semudah mengurus sebuah team sepak bola. Namun filosofi tentang keteguhan sikap dan ketegasan, mutlak harus dimiliki oleh pemimpin manapun apalagi pemimpin sebuah negara besar seperti Indonesia.

One thought on “Champions

  1. Ping balik: Piala Dunia dan Keriangan Yang Artifisial | Solitude Slider

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s