Beban Negara: PNS!!

Di sebuah status facebook salah satu kawan: “@ senayan pagi-pagi, ternyata begini test CPNS itu, seperti mau nonton bola aja :D” kemudian di tab lain di window yang sama ; sebuah Portal Berita ternama; berita di hari itu tentang Kantor Menegpora yang akan rekrut 1500 Atlet jadi PNS..

Jadi pertanyaan di benak saya:
Untuk apa pemerintah setiap tahun membuka lowongan kerja begitu banyaknya di setiap Departemen dan kantor pemerintahan lainnya. Mulai dari kantor yang ada di pusat sampai dengan pemerintah yang ada di daerah.
Tentu dengan berbagai dalih, mereka bisa mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebutuhan setiap tahunnya untuk peningkatan kualitas pelayanan, regenerasi, dsb.
Namun…apa memang sebanyak itukah? Dan segitu banyak kebutuhannya sampai harus dilakukan hampir di setiap tahun???

Cobalah datang ke Kantor Pemerintahan di beberapa daerah.
Maka yang kita dapatkan kondisi yang hampir serupa. Datang jam 9 pagi dan pulang jam 2 siang. Namun jam 1 sudah siap-siap mau pulang, sehingga tidak bersedia diganggu (baca: diminta pelayanannya). Sedang jam setengah 12 tadi keluar makan siang dan jam 1 baru sampe kantor. Suasana kantor yang semrawut, semua meja diisi berkas sehingga biar dituduh banyak pekerjaan. Waktu yang ideal datang ke kantor pemerintahan adalah jam 10 sampai jam 11. Setelah jam tersebut, susah bagi kita menemui orang atau petugas yang berhubungan dengan pelayanan yang kita butuhkan. Tapi apakah mereka bekerja beneran di jam segitu?? Ada beberapa diantaranya baca Koran, main game di computer, rumpi dengan teman-temannya. Merokok dan makan apapun, bebas dilakukan di meja kerja meski itu pada waktu jam kerja. Jumlah mereka dalam satu ruangan banyak dan banyak sekali, kalo dibandingkan dengan apa yang mereka kerjakan.

Pernahkah melihat struktur organisasi mereka..
Serba tumpang tindih dan banyak sekali. Begitu banyak kepala, karena setiap orang yang sudah beberapa tahun bekerja, seperti secara otomatis akan jadi kepala.
Inilah yang disebut efektfitas versi Indonesia.
Jumlah PNS di Indonesia memang sangat banyak, di tahun 2008 saja ada sekitar 4 jutaan dan di tahun 2009 ini, tentu sudah bertambah lagi, karena PNS yang direkrut tahun 2009 belum terhitung.
Pos belanja negara untuk mereka saja sudah mencapai puluhan bahkan mencapai ratusan trilliun setiap tahunnya. Belum lagi termasuk biaya dinas, biaya siluman, biaya birokasi , dll.
Dan pos belanja itu diambil dari APBN, yang tentunya salah satu sumber terbesarnya adalah dari pajak yang kita bayar.
Jika melihat pekerjaan mereka sehari-hari serta kesulitan-kesulitan yang kita dapatkan ketika kita mengurus sesuatu dokumen atau hal lain yang membutuhkan pelayanan mereka, rasanya susah bagi kita untuk Ikhlas dalam membayar pajak.

Banyak hal miris tentang jumlah PNS yang begitu besar, salah satunya adalah yang terjadi di menado, sebagaimana dimuat oleh Harian Lokal Menado. Bagaimana rakyat sejahtera, jika anggaran belanja setengahnya sudah habis untuk bayar gaji pegawai, sedangkan pembangunan untuk hal-hal penting harus dilewatkan.
Cobalah pergi ke daerah-daerah tingkat II (kabupaten atau Kota) di Indonesia sekarang ini, hampir sebagian besar dari mereka sedang berlomba-lomba membuat retribusi beraneka macam. Bukannya menumbuhkan iklim investasi, malah semua investor diberatkan oleh ini itu, dengan alasan peningkatan Pendapatan Anggaran Daerah (PAD). Beginilah jika APBD mereka sudah habis untuk membayar pegawai.

Saya setuju dengan alternatif solusi untuk mengurangi secara signifikan PNS di Indonesia, sekaligus juga menutup (selama beberapa tahun) rekruitmen untuk pos-pos yang tidak penting dan mendesak dibutuhkan.
Dan penting juga bagi petinggi-petinggi negeri ini untuk mempunyai paradigma tentang efesiensi jumlah pegawai guna efektifitas pekerjaan.
Seyogyanya menjadi pegawai negeri bukanlah hadiah, sebagaimana dicontohkan oleh kebijakan Menegpora dengan memberikan tempat bagi 1500 atlet menjadi PNS seperti tertulis diatas. PNS seharusnya didapatkan dari recruitment yang berkualitas, dan posisi yang ditempati memanglah dubutuhkan organisasi, bukan karena sengaja di buat ada.
Memberikan penghargaan kepada atlet yang berprestasi, bisa saja dengan memberi modal berwirausaha beserta pelatihan yang cukup, sehingga benar-benar disiapkan bagi mereka untuk mandiri. Atau bisa juga diberikan beasiswa sekolah atau beasiswa pelatihan untuk profesi tertentu. Menjadikan mereka pegawai negeri hanyalah menambah beban anggaran belanja yang secara otomatis menambah beban rakyat juga.

9 thoughts on “Beban Negara: PNS!!

  1. haha, sementara ini minat terhadap PNS sangat tinggi…semakin banyak lowongan CPNS yang dibuka, semakin terbukalah jalan untuk berkorupsi ria, coba sampeyan liat aja dikantor kecamatan misalnya, pagi2 pegawai nya pada duduk – duduk baca koran sambil minum kopi….hmmmm nikmat sekali kan….
    btw,salam kenal gan…

  2. @Jasadh : Betul mas jasadh. Minat menjadi PNS memang masih sangat tinggi. Karena faktor kenyamanan hidup seperti yang Mas Jasadh sampaikan itu : Duduk, ngopi, baca koran…maen pingpong, tidur… Kerja nggak kerja gaji nya sama. Kok hampir ga pernah dengar PNS dipecat gara2 nggak produktif.
    Salam kenal juga mas Jasadh, senang sampeyan sambangi seperti ini…😀

  3. hanya sedikit sekali pns yg benar2 loyal dan jujur pada pekerjaannya. itu pun segera tergerus bahkan terpinggirkan karena terlalu idealis tidak mau ikut2an ‘kebiasaan umum’ para pns.

  4. Benar juga mas jasad. Tidak cuma di kecamatan,tapi juga di sekolah. Dulu tuh guru bahasa inggrisku ngajar cuma ngomong ngalor-ngidul, kalo pake bahasa inggris sih tidak apa2.Singkatnya dia tidak bisa ngajar (tidak profesional). KOK ORANG KAYAK GITU MAU JADI PNS…..!!!!!!!!!!!!!!

  5. tulisan anda 50 % benar, tapi juga 50 % salah….. anda hanya melihat yang begitu, yg sisi lainnya tidak anda lihat, kalo PNS seperti yg anda ceritakan itu, maka jangan harap anda akan memiliki sekeping KTP!!

    btw, salam kenal gan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s