Jauhari

“Umur saya baru 67 tahun, kok dik” …. saya terperangah mendengar dia menyebut jumlah usianya. Jika tidak mendengar paparan ceritanya dari awal, sebenarnya saya tidak perlu terperangah ketika dia menyebut usianya.

Sebut saja namanya Jauhari, maksudnya jauh-jauh hari sudah ada…
Pak Jauhari ini baru jalan 2 bulan ini, membuka jasa menjahit di dekat tempat saya tinggal.
Menyewa kios toko selebar 4 x 6 meter yang difasilitasi kamar mandi, dia membuka jasa menjahit dengan ciri khas sebuah celana panjang ukuran raksasa yang digantung di depan toko nya. Nama usahanya dia kenalkan dengan nama “Bulu Jin’, dengan tagline “Ketika trend mode akan dilahirkan dari sini” …. gimmick dan tag line yang luar biasa menurut saya.
Saya belum banyak mengeksplorasi konsep dan gagasan Pak Jauhari lainnjya yang berkaitan dengan usahanya tersebut. Pertemuan kemarin, hanya mendengarkan cerita Bapak dan Ibu jauhari yang bercerita bagaimana mereka bisa sampai di Bali dan membuat jasa menjahit di tempat tersebut.

Iya…. Pak Jauhari ini mengelola bisnisnya bersama istrinya, yang usianya kurang lebih hampir sama dengan dirinya. Awalnya saya menebak, bahwa Pak jauhari ini sudah puluhan tahun tinggal di Bali dan karena suatu keadaan maka membuka bisnis di tempat itu…Ternyata saya keliru..

Pak jauhari baru datang ke Bali, 7 tahun yang lalu…… memulai usaha di tempat yang baru pada usia 60 tahun!!!!

Sebelumya dia tinggal di surabaya dan membuka jasa jahit di sana. Kemudia ada sanak saudaranya yang menawari nya untuk membuka usaha di Bali, membuka usaha yang sama yang sudah puluhan tahun digelutinya di surabaya. Setelah berpikir-pikir beberapa saat dan mempertimbangkan kondisi usaha nya di surabaya yang sedang lesu, Pak Jauhari memutuskan; “Oke siap, kita pindah ke Bali bu!”

Pertama kali datang ke Bali, awalnya, dia membuka usaha di salah satu kawasan perumahan di tengah kota denpasar . Lokasi tempat dia membuka jasa jahitan adalah di pinggir jalan di dekat lapangan. Dengan tempat yang semi permanent yang atapnya menggunakan tenda terpal dan dinding dari triplek yang tidak sepenuhnya tertutup. Jika hujan, maka dia harus menghentikan aktivitas menjahitnya, karena harus menyelematkan harta satu-satunya: Mesin Jahit. Yaitu dengan cara menyelimutinya dengan terpal plastik, supaya tidak kemasukan air. Sebab menurutnya, air hujan yang korosif bisa mempercepat rusaknya mesin jahit.

Meski tempat bekerja yang jauh dari rasa nyaman, tidak menyurutkan tekad Pak jauhari. Dari tempat itulah order jahitan berdatangan, dan kepercayaan orang mulai dia dapatkan. Semua order jahitan dia selesaikan dengan baik dan kepercayaan dari banyak orang tersebut dibayarnya dengan hasil kerja yang memuaskan pelanggannya. …. Dan  semua pekerjaan jahit tersebut dia kerjakan berdua saja dengan istrinya.

Baru, setelah usaha Pak Jauhari mulai berkembang dengan baik, akhirnya dia bisa menyewa tempat yang permanent yang lokasinya tidak jauh dari tempat awal dia memulai karir menjahitnya. Karena sudah banyak pelanggan, sedangkan tenaga Pak jauhari dan istrinya sudah tidak cukup lagi untuk memenuhi pesanan jahit, maka Pak Jauhari berani merekrut orang lain untuk membantu usahanya. Saat ini, saat tulisan ini ditulis, karyawan pak jauhari sudah ada 7 orang. Semuanya support untuk pekerjaan jasa jahitannya di Denpasar.

Setelah yang di denpasar usahanya sudah mulai berjalan dengan baik. Ada salah satu pelangganya cerita kalau di pinggiran Badung, kira-kira berjarak 10 Km dari tengah kota denpasar, ada daerah pemukiman yang sedang progresif perkembangannya. Pelanggan tersebut menyarankan untuk membuka cabang disitu, karena kebetulan ada informasi kios yang dikontrakkan.

Pak jauhari pun survey dan saat itu juga memutuskan untuk menyewa tempat dan membuka cabang di situ.

Dari tempat saya tinggal, jarak ke kios Pak Jauhari sekitar 500 meter. Yang saya tahu, harga kios di tempat itu sekitar 10-15 juta per tahun. Jika dibuat harga 13 juta per tahun, maka sewa per bulannya sekitar 1 juta 80 ribuan. Dan per hari nya untuk sewa tempat Pak jauhari harus mengeluarkan 36 ribu an. Jika ditambahkan listrik yang 200 ribu per bulan maka Pak Jauhari perlu mengeluarkan 43 ribu per hari. Belum termasuk benang, jarum, perawatan mesin, dll.

Pak Jauhari itu tipe orang yang cepat dan cekatan membuat keputusan. Saya yakin dia tidak perlu menghitung terlalu detail seperti itu, yang dia lakukan adalah cukup dengan membaca peluang. Sepanjang ada peluang yang cukup bagus untuk memberikan penghasilan, maka untuk biaya operasional dan lain-lainnya itu tergantung bagaimana keberanian dan pintar kita mengaturnya.

Di tempat yang baru ini, Pak Jauhari juga masih hanya berdua dengan istrinya. “Untuk awal-awal memang perlu saya, nanti kalau sudah jalan dan berkembang dengan baik, saya tinggal mengawasi saja” ujar dia sambil tersenyum. Bagi saya, senyum Pak Jauhari seperti berkata-kata sebagaimana penggalan lagu  Cat Steven : Look at me, I am old, but I’m happy 

Saya jadi teringat film Brave Heart  Bagi saya Pak jauhari itu seorang  William Wallace  yang hidup nyata dalam kehidupan yang saya alami.

Untuknya saya kutip kata-kata dari William Shakespeare, “pahlawan mati hanya satu kali tetapi pengecut mati berkali-kali”.

One thought on “Jauhari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s