Tohari

Yang saya tahu namanya Tohari, asalnya dari salah satu dusun di pelosok pamekasan.

Detail dusun, desa dan kecamatannya, saya kurang paham…. nanti kalau ada waktu akan coba saya tanyakan.
Saat ini dan jika diitung sampai dengan tulisan ini dirilis, hampir tiga tahun Tohari berjualan sate ayam di dekat kantor saya. Lokasinya yang cukup strategis, membuat tohari betah berjualan di tempat tersebut.
Tohari mengelar gerobaknya dari jam 5 sore dan rata-rata pulang pada pukul 9 malam.
Kalau berjualan, dia tidak perlu tempat khusus, semacam tenda apalagi warung yang permanen.
Cukup memarkir gerobak sate nya, yang kira-kira lebar 1 m dan panjang 2 meter, di pinggir jalan. Tohari cukup beruntung, karena mendapatkan tempat jualan di hook yang kebetulan juga ada tiang listrik yang punya lampu. Sehingga tanpa perlu penerangan tambahan, gerobak satenya dari jauh sudah cukup kelihatan. Juga tidak perlu menggelar tikar apalagi bangku. Pembelinya dengan ikhlas akan duduk di trotoar ruko sekitarnya atau dibungkus dan dimakan di rumahnya masing-masing.

Kecuali sedang pulang ke Pamekasan atau lagi sakit, hampir sebulan penuh berjualan di tempat tersebut. Tidak ada hari khusus untuk libur dalam kamus Tohari.
Menurutnya; “lebih baik jualan daripada libur di kost, karena ketika berjualan dia banyak mendapatkan senang dari pada susahnya. Bisa ketemu banyak orang, bisa ngobrol sana sini, pengetahuan bertambah. Kalau istirahat di kost, pikiran ngelantur kemana-mana”
Dalam sehari, rata- rata Tohari bisa menghabiskan 5 kg Daging Ayam. Dengan 5 Kg tersebut bisa dijadikan 500 tusuk sate; yang artinya dijual kepada pelangga dalam 50 porsi.
Satu porsi sate dijualnya 6 ribu rupiah, kalau tambah lontong maka tinggal nambah 2 ribu.
“Yah.. rata-rata sehari bisa bawa pulang 300-400 ribu” begitu katanya. Uang 300-400 ribu itu penghasilan kotor, kalau mau tau bersihnya, tinggal potong saja 50% nya.

Jam 9 malam biasanya dia sudah mulai menutup jualannya, menitipkan gerobak disekitar lokasi jualan dan kemudian dengan Honda Vario nya dia nge-gas pulang ke kost yang berjarak kurang lebih 3 kilometer dari situ. Aktivitasnya dimulai dari pagi jam 6, ke pasar untuk membeli keperluan jualan. Mulai dari membeli ayam, beli bambu tusuk sate, menggiling kacang, membeli kertas bungkus dan sebagainya. Jam 8 dia sudah sampai di kost lagi, dilanjutkan dengan memotong daging ayam dan menusuknya dengan tusuk sate, bikin lontong dan sebagainya. Jam 11 pekerjaan selesai, waktunya bebas. Jam 3 sore siap-siap berangkat, jam empat berangkat ke TKP dan jam lima sore para pelanggan sudah dapat menikmati sate ayam dan lontong nya.
Enam jam untuk persiapan jualan dan empat jam untuk berjualan, dan selebih nya bebas untuk menggunakan waktu untuk apapun.

Tohari merdeka buat dirinya sendiri, dia bisa mengatur waktu kapan saja dia mau. Tanpa ada yang melarang atau memerintahkan dia untuk ini atau itu. Tokh, bagaimanapun juga dia tetap harus disiplin. Karena disiplin adalah kunci utama dia untuk tetap bisa bertahan sebagai pengusaha dan mendapatkan penghasilan yang nilainya jauh diatas upah minimuh pekerja regional (UMR).
Dan tohari sangat sadar tentang hal itu, maka sisa waktu yang didapatkan biasanya digunakan untuk istirahat atau kadang-kadang sosialisasi ke beberapa teman.

Saat saya tanya, apakah dia tinggal bersama sanak saudara yang dari madura atau teman-teman sesama penjual sate? Dia menjawab: “tidak!”. Dia bilang dia tinggal di salah satu kost yang para penghuninya campuran, dari beberapa daerah asal/suku. Yang menyamakan mereka adalah sesama pencari nafkah di denpasar. Dan ketika saya tanya alasanya kenapa tidak berkumpul: “Enakan begini Pak, bisa ketemu orang dari daerah mana-mana. Bisa kenal banyak orang dan kenal daerahnya. Jadi nambah pengetahuan, bukan cuma tahu kampung kita saja. Dan lagi saya sering risih, kalau misalnya ada masalah dengan salah satu kita maka yang ditunjuk orang madura nya. Padahal yang brengsek itu beberapa orang-orang tertentu saja , tapi seringnya yang kena kita semua. Jadi daripada sering disusahkan hal-hal seperti itu, lebih baik begini; Nge kost sendiri. Terpisah dengan mereka-mereka”
Saya rasa alasan kedua Tohari adalah Causa Prima, kenapa dia memilih kost di tempat itu…
Saya yakin, sebenarnya banyak “Tohari-Tohari” yang lain, orang-orang baik yang sering menjadi “korban” generalisasi semacam itu.

Orang-orang seperti Tohari di indonesia itu banyak sekali contohnya…
Orang – orang yang bekerja dengan rajin, tekun, menjauh dari masalah dan fokus pada pekerjaanya.
Orang-orang seperti Tohari, pasti tidak tertarik untuk gabung dengan ormas semacam FPI atau bahkan Geng Motor. Dia lebih menikmati hidupnya untuk bekerja dan menghabiskan sisa waktunya untuk menyenangkan diri atau membuat rileks hidupnya.
Status pekerjaannya mungkin disebut pekerja Informal, tidak ada yang memberi jaminan asuransi apalagi uang pensiun. Tetapi dia bisa mengelola waktunya sendiri, tidak perlu ijin atasan kalau sedang berhalangan, tidak perlu mencium bokong atasan agar supaya diberi posisi yang baik juga tidak perlu iri dengki kepada kawan lainnya yang sedang mendapat promosi jabatan, sebab promosi maupun degradasi adalah mutlak di tangannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s