Al-hanifiyah al-samhah

Tulisan berikut ini mungkin terhubung dengan tulisan saya yang pernah ada sebelumnya dan barangkali akan berkait dengan tulisan-tulisan saya berikutnya. Sebab yang jadi inspirasi adalah seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya, yaitu; Ibu saya.

Ibu saya terlahir dalam keluarga Jawa yang Islami, baik dari keturunan Ibu maupun Bapaknya. Jika yang jadi referensi pengelompokan orang Jawa berdasarkan 3 (tiga) golongan sebagaimana tesis Clifford Geertz : Abangan, Priyayi dan Santri, maka keluarga besar Ibu tergolong keluarga santri. Bahkan jika ditarik 2-3 keturunan ke atasnya, sebab hanya sampai level itu yang saya ketahui, maka yang diketemukan adalah nama-nama yang bernuansa arab (islam), seperti; Mahmud, Abbas, Makhrus, Sodiq, Maimunah, dll. Tidak pernah saya dengar ada nama Sumitro, Joyo Langgono atau nama khas jawa lainnya dalam silsilah keturunan keluarga saya.

Ibu, sampai dengan SMA kelas 1 bersekolah di Taman Siswa Kediri. Dan kemudian melanjutkan sekolah SMA nya di salah satu sekolah Kristen di Solo. Tentang kenapa pindah sekolah di Solo, karena Ibu ingin melanjutkan kuliah di solo dan nantinya bisa melanjutkan kuliahnya di : Jerman.

Sungguh baru saya sadari setelah saya dewasa saat ini, ada dua hal luar biasa dari hal itu, sebab ini terkait dengan masa nya. Hal pertama adalah sekolah di Sekolah Kristen dan yang kedua bercita-cita sekolah di Jerman.

Bagaimana Ibu saya yang dari keluarga santri bisa bersekolah di sekolah Kristen yang ada di luar kota demi cita-citanya melanjutkan sekolah di Jerman. Tapi tentu cita-cita Ibu seperti itu tidak datang tiba-tiba dan tanpa mendapat dukungan dari keluarga.
Pendukung utama cita-cita Ibu adalah Bapaknya Ibu atau Kakek saya. Beliau sangat ingin anak-anaknya maju dan pintar seperti orang-orang di Eropa, beliau hanya punya 2 anak dan keduanya perempuan; Ibu dan Bude saya. Tentang kenapa memilih jerman, menurut Ibu pada masa itu, tahun 1950 an, negara yang sangat modern dan maju adalah jerman. Kakek sangat terpesona dengan jerman, terpesona dengan segala kemajuan tekhnologi yang dibuatnya dan sangat dikenal sebagai negara yang memproduksi barang-barang dengan kualitas yang sangat tingggi.
Dan demi mencapai keinginan nya, agar anak-anak nya bisa bersekolah se tinggi mungkin dan di jerman, Kakek hidup prihatin. Bekerja keras dan mengencangkan ikat pinggang seerat mungkin, sebagian besar hasil jerih payahnya ditabung.

Secara akademik, Kakek bukanlah orang yang memiliki pendidikan tinggi, sekolahnya cukup sampai dengan belajar ngaji di pesantren milik salah seorang kakeknya kakek. Dan sepertinya wawasan luas dan visi yang melampaui masa nya itu beliau dapatkan dari kegemaranya membaca, mendengarkan siaran radio juga pergaulannya dengan banyak orang. Bergaul dengan banyak orang, tanpa membatasi apa dan siapa, menjadi salah satu kunci. Ada salah satu teman akrab kakek, yang bisa juga disebut sahabat. Tiap pagi mereka bertemu dan berdiskusi tentang segala hal di teras depan rumah mereka secara bergantian, kadang di rumah kakek terkadang di rumah sahabatnya tersebut. Sahabat kakek itu seorang Pendeta Kristen, yang masih ada keturunan Belanda. Mereka bisa berdiskusi apa saja dan tentu salah satunya tentang Agama. Namun, persahabatan itu tidak merubah apapun dari keyakinannya masing-masing tentang agama. Masing-masing sudah meyakini kebenaran dari ajaran agamanya tanpa perlu merubah apapun yang sudah diyakini, Benar!

Kembali ke cerita tentang Ibu. Dukungan yang sangat besar dari Kakek, membuat Ibu sangat bersemangat dalam bersekolah. Tidak jadi halangan buatnya, tiba-tiba jauh dari keluarga karena harus bersekolah di luar kota. Tentang kenapa Ibu memilih sekolah Kristen di Solo, hal tersebut bukanlah semata-mata atas referensi dari teman Kakek yang pendeta itu. Tetapi karena lebih didorong untuk mencari sekolah yang berkualitas, dan dari referensi beberapa orang, mereka menyarankan untuk sekolah di tempat tersebut. Saya rasa, sampai sekarang pun tidak bisa dipungkiri, bahwa kebanyakan sekolah Kristen atau Katolik memiliki kualitas yang bagus, diatas rata-rata sekolah umum.

Namun, keinginan tidak selalu selaras dengan kenyataan. Setelah lulus dari SMA , dan hendak melanjutkan ke Universitas, Kakek sebagai pendukung utama cita-cita Ibu, harus “Pulang” untuk “menemui” Sang Khalik. Maka seluruh keinginan melanjutkan sekolah harus disimpan rapat-rapat. Ibu harus pulang ke Kediri dan tidak kembali lagi ke Solo untuk kuliah, karena harus menemani Nenek melanjutkan usaha perdagangan kainnya.

Ibu saya pintar mengaji, dan hafal sebagaian besar isi Al-Qur’an. Sehingga bisa membenarkan bacaaan orang yang sedang mengaji bila didengarnya salah. Sering saya jumpai, Ibu bersenandung Sholawat Nabi jika sedang menjahit atau mengerjakan pekerjaan lainnya. Dan tahun 1993, Alhamdulliah bersama Bapak, beliau berdua sudah pergi haji. Namun pandangan beliau tentang agama sangat terbuka. Di saat saya masih belum jelas apa-apa tentang agama, Ibu saya beberapa kali menyatakan bahwa kebenaran memang ada di dalam Islam. Namun, ada kebenaran-kebenaran juga yang bisa dijumpai di agama lain. Bahkan, Ibu melanjutkan, bahwa mungkin saja beberapa tokoh panutan yang di imani oleh agama lain itu adalah Nab-Nabi yang disebutkan dalam Al Quran namun dengan nama-nama yang lain.

Kakek dan terutama Ibu, sebagaimana saya tuliskan di awal adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya termasuk dalam hal urusan agama. Begitu pula pandangan-pandangan beliau tentang agama. Ibu yang mencerahkan dengan obor memberi penerang bagaimana saya menjalani kehidupani dunia ini, termasuk dalam hal yang biasa di banyak orang tua lainya hanya berikan batasan dan larangan. Sebagaimana kata Cak Nur : “Nabi SAW menegaskan bahwa sebaik-baik agama di sisi Allah ialah al-hanifiyah al-samhah, semangat kebenaran yang lapang dan terbuka

One thought on “Al-hanifiyah al-samhah

  1. Sebagaimana kata Cak Nur : “Nabi SAW menegaskan bahwa sebaik-baik agama di sisi Allah ialah al-hanifiyah al-samhah, semangat kebenaran yang lapang dan terbuka”

    setuju banget sama quote ini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s