Menulis jika memang waktunya

Menulis jika memang waktunya

Blog ini pernah vakum 1,5 tahun, tidak pernah ada postingan baru dan bahkan seingat saya, mungkin juga tidak saya kunjungi selama itu. Antara November 2009 sampai dengan Mei 2011. Sebetulnya banyak yang ingin saya tuliskan dan posting ke blog ini. Awalnya, saya ingin membatasi diri saya sendiri, bahwa saya harus bisa menulis sesuatu yang praktis dan terapan seperti sharing tentang melakukan sesuatu atau tips dalam membuat sesuatu. Bukan yang absurd, yang bercerita tentang kegelisahan atau pengalaman yang saya alami yang sifatnya lebih personal. Tetapi nyatanya membatasi gagasan untuk menulis itu membuat macet, jadi males dan akhirnya bisa berhenti.

Meski belum bisa dikatakan aktif menulis, tapi setidak nya paradigma tentang menulis sudah saya ubah. Bagi saya sekarang, jika ingin menulis akan saya tuliskan dan saya posting dalam blog ini. Tidak akan saya batasi tentang tema apa yang akan saya tuliskan atau seberapa panjang tulisan tersebut.
Kemarin, panjang dan pendeknya tulisan juga salah satu yang saya pertimbangkan ketika akan saya posting di blog ini, jika terlalu pendek kok mendingan ditullis di twitter atau jadi status di facebook.
Eh, nyatanya ada blogger yang sangat terkenal di Indonesia, yang posting di blog dia dengan hanya 2 baris kalimat saja. Maka, pikiran saya pun berubah 

“Menulis itu mengejawantahkan apa yang terlintas di pikiran kita, jadi buat apa dibatas-batasi?” itu yang terlintas di pikiran saya. “Jika sudah menulis lalu kemudian apa ?” itu lanjutan pertanyaan nya.
Kalau yang di pikiran itu dituliskan, lalu hasil tulisan cuma disimpan didalam file, dan kemudian dibiarkan disitu selamanya, membusuk sih tidak tapi sewaktu-waktu bisa hilang, jadi apa gunanya dituliskan ?
Itu seperti menulis di atas pasir di pinggir pantai. Setelah dituliskan dan tak lama kemudian luruh oleh air laut.

Tulisan adalah penanda. Tentang apa dan bagaimana waktu itu. Juga pengingat hal-hal apa yang terjadi dan saksikan pada masa nya. Pahit getir juga suka dan duka.
Meresapi, memahami dan ada kalanya menghikmati atas sebuah kejadian.
Tidak selalu mengubah keadaan atau memberikan pencerahan tetapi mungkin bisa memberitakan tentang apa yang ada dan menunjukkan posisi penulis pada sesuatu masalah atau keadaan.
Ah.. ini sudah terlalu absurd…

Ya sudahlah..
Setidaknya saya akan tetap menulis dan memposting nya sepanjang saya bisa.
Tidak perlu dibebani dengan macam-macam. Titik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s