Piala Dunia dan Keriangan Yang Artifisial

Nanti subuh kondangan sepak bola paling akbar akan dimulai, dan saya terlambat menyadarinya. Malam ini saya kebingungan mencari tukang service tivi yang bisa dipanggil ke rumah untuk membetulkan tivi saya yang sudah rusak; yang gambarnya hanya muncul setengah layar. Sudah lama saya tidak peduli dengan tivi, karena sudah lama saya tidak menontonnya. Maka, saya biarkan saja tivi seperti itu, toh saya tidak pernah menyalakannya, apalagi menontonya. logo brasil wordl cup 2014
Tidak mudah mencari tukang service tv saat malam seperti ini, maka dengan terpaksa saya akan melepas acara pembukaan piala dunia dan partai pembuka antara Brazil vs Croatia subuh nanti.

Salah satu teman saya pernah dengan agak sinis bertanya di twitter “tumben, ente nge twit tentang bola?” pertanyaan itu ia lancarkan saat saya berkomentar tentang pertandingan salah satu liga, yang secara kebetulan saya tonton.
Mungkin teman itu belum pernah membuka blog ini, padahal 2 kali saya menulis tentang sepak bola; yang ini : Champions dan ini : Madrid Menjerit

Teman saya itu mungkin penggemar sepak bola, meski saya tidak mau menyebutnya dengan tambahan embel-embel “sejati”. Dia berlangganan koran, dan halaman yang paling favorit dia baca adalah rubrik olah raga utamanya sepak bola. Sesekali dia juga membeli Tabloid Mingguan Sepak Bola yang sudah sangat terkenal itu.
Dia juga punya Klub Sepak Bola Favorit yang ada di Eropa, yang setiap kali klub tersebut menang dia akan bersorak-sorak baik dalam hati maupun di tuliskannya di Twitter atau Facebook.
Teman-teman saya yang seperti dia juga banyak, mereka saling meledek satu sama lain jika salah satu klub yang dibela nya kalah denga menuliskannya di twitter atau membuat status khusus di facebook. Tidak cukup facebook dan twitter, whatsapp dan BBM menjadi ajang buat mereka untuk ngobrolin tentang sepak bola atau tempat saling mengejek.

Saya adalah penggemar Barcelona. Saya menyukai cara mereka bermain, yang terus menggiring bola dan menyerang lawan. Teknik itu mereka sebut dengan tiki taka. Seperti anak-anak yang baru diberikan mainan yang terus memainkannya dengan riang tanpa dibebani tujuan dan untuk apa dia memainkannya. Tapi Barcelona bukan sekedar itu, ada napas perlawanan orang Catalan yang memberi spirit lain pada klub sepak bola itu. Dan yang paling saya kagumi dari klub ini adalah tentang Akademi Sepak Bola nya : La Masia. Tentang filosofi sekolah itu, tentang cara mereka mendidik pemain dan bagaimana membuat sinergi antara Sekolah dan Klub.
Semuanya sangat luar biasa.

Tapi saya bukanlah pecinta klub dan pertandingan sepak bola. Saya tidak akan kebingungan dan bersusah payah menontonya menjelang pagi hingga tidak tidur, ketika mereka bertanding. Juga saya tidak akan gembira berlebihan jika Barcelona menang atau sedih ketika mereka kalah. Biasa saja.
Tidak ada yang disedihkan dan digembirakan dari pertandingan sepak bola itu sendiri.
Hari ini menang, besok mungkin akan kalah. Juga menjadi juara atau jadi pecundang atas sebuah kompetisi. Karena saya bukanlah pecinta klub atau pertandingan sepak bola.
Sepak Bola adalah keriangan, ber senang-senang baik dalam pertandingan yang dimainkan atau hal-hal lainnya dibalik itu. Dan saya, fanatik dengan model keriangan nya bukan dengan pertandingan, apalagi dengan klub sepak bola nya.

Piala Dunia adalah hajatan keriangan terbesar seluruh dunia. Hampir semua orang di seluruh penjuru dunia, membicarakan dan bersenang-senang atasnya. Moment kegembiraan 4 (tahun) sekali itu ditunggu-tunggu, berjuta-juta manusia, baik yang negaranya ikut dalam pertandingan atau tidak.
Keriangan Piala dunia tidak akan berkurang meski satu atau dua negara yang selama ini jadi Kampiun Sepak Bola dunia tidak dapat mengikutinya, karena tidak lolos penyisihan atau disebabkan alasan-alasan politis. Apalagi jika satu atau dua bintang sepak bola yang sedang jadi omongan tidak dapat bermain karena cedera atau alasan lainnya.

Orang-orang yang selama ini tidak tertarik dengan pertandingan-pertandingan sepak bola reguler seperti Liga Eropa atau Kompetisi Sepak Bola tanah air, mendadak tiba-tiba akan fasih bercerita tentang sepak bola juga akan banyak. Berdebat dengan sesama teman nya yang seperti itu juga akan jamak terjadi. Berhitung dan update sepak bola setiap hari selama gelaran world cup juga akan banyak dilakukan oleh banyak orang, meski mereka tidak menyukai sepak bola. Tujuannya apa ? Mereka taruhan! Maka, ingin tahu lebih banyak informasi tentang pertandingan dan kondisi tim supaya tidak salah dalam mentukan taruhan.
Itulah world cup! Ajang keriangan banyak orang.

Nyinyir
Dan saya pastikan juga, akan banyak orang nyinyir. Biasanya ini adalah orang-orang yang merasa tahu lebih banyak tentang sepak bola dengan membicarakannya setiap saat.
Nyinyir terhadap orang lain yang tiba-tiba menyukai sepak bola dan tiba-tiba fasih bercerita tentang pertandingan di piala dunia, padahal dalam hari-hari biasanya tidak pernah membicarakan sepak bola.

Tafsir asal mula sepak bola sepertinya ada beberapa, ada yang bilang dari Mesir, Romawi, Jepang dan juga China. FIFA sendiri dalam situs resminya http://www*fifa*com/classicfootball/history/the-game/origins.html bilang bahwa Sepak Bola berasal dari China pada abad 2 atau 3 sebelum masehi.
Tentu bukan kapasitas saya untuk membahasnya, mana diantara klaim kapan sepak bola dilahirkan itu yang benar. Tetapi saya ingin berandai-andai, apakah pada masa itu orang-orang sudah membicarakan tentang teknik menendang atau berfikir tentang bagaimana membuat kemenangan dalam sebuah pertandingan ? Ah… rasa-rasanya sih tidak sama sekali. Dugaan saya, mereka bermain bola untuk bersenang-senang dengan alat kelengkapan fisik yang mereka miliki, yaitu : Kaki! Dan, sampai kemudian menemukan model benda yang tepat untuk mereka tendang, berbentuk lingkaran, yang sekarang kita kenal dengan sebutan: Bola!

Kemudian, sepak bola berkembang sedemikian jauh. Mulai dari teknik menendang, cara bermain, aturan bermain, sistem pertandingan juga peralatan sepak bola itu sendiri.
Sebab sepak bola sudah jadi Industri, dan Kapitalisme tentu saja ada di belakangnya.
Semuanya serba diatur, serba di analisa, serba diperhitungkan.
Sebab kemenangan adalah bertambahnya modal dan asset.
Maka sepak bola menjadi sangat artifisial, hasil pertandingan diperoleh dari bantuan simulasi dan pencitraan.

Sebagai penonton, untuk apa kita berlelah-lelah dengan semua produk artifisial itu?
Cukup kita nikmati dan bergembira ria dengan tontonan itu sendiri.
Sepak bola bukan “teks” kaku yang hanya diterjemahkan dengan skill pemain, cara bermain atau hal-hal teknikal lainnya. Sepak bola adalah konteks tentang kebahagian, kegembiraan dan cara bersenang-senang.
Dan World Cup adalah ajang terbesar untuk itu.
Maka berhentilah nyinyir, kawan…. 

Bali, 12 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s