Susahnya Cari Tukang Bangunan

Seorang teman mengeluh kesulitan mendapatkan Tukang Bangunan untuk memperbaiki atap rumahnya yang bocor.
Padahal dia tinggal di Kota Malang.
Padahal lagi, Malang itu khusususnya Malang Pinggiran (baca; Kabupaten) terkenal sebagai pemasok tukang bangunan di seluruh Indonesia, khususnya wilayah timur.
“Kebanyakan Tukang Bangunan sekarang mengerjakan proyek perumahan, ruko dan lainnya. Susah banget kalo diminta untuk mengerjakan pekerjaan kecil seperti perbaikan atap rumah, betulin talang, renov pagar” begitu ujar teman saya itu.

Waktu kemarin di Bali, saya juga merasakan hal yang persis sama.
Saya pikir karena saya tinggal di Bali, jadi agak wajar jika susah mencari tukang, sebab antara permintaan dengan stock tukang bangunan sepertinya tidak seimbang. Tetapi saya cukup terkejut, ternyata ini juga terjadi di Malang.

Pas kemarin setelah Lebaran Idul Fitri, sempat rame perbincangan di Sosial Media tentang keresahan banyak Pasangan Muda dengan Asisten Rumah Tangga nya yang banyak tidak balik dan begitu susahnya mencari pengganti.
Ya!.. Bukan cuma Jakarta. Hampir dimana-mana, cari Asisten Rumah Tangga itu Susah!!

Kalo anda jalan di sekitar Denpasar barat dan masuk ke jalan-jalan yang menghubungkan antar perumahan, maka akan banyak melihat poster tertempel : Dicari Penjahit!
Ya, cari penjahit di Bali itu juga susah.
Semua garmen dan makloon baik kecil maupun besar yang pernah saya temui, mengeluhkan hal itu.

Saya pernah membaca satu twit agak panjang dari seseorang, katanya begini: “sebenarnya orang kita tuh udah nggak perlu lagi pergi jauh-jauh ke luar negeri buat jadi TKI. Lha wong di dalam negeri aja gak kurang-kurang nya pekerjaan. Gaji jadi Pembantu Rumah Tangga di Jakarta, kalo dihitung THP nya udah hampir sama dengan gaji TKI di Malaysia dengan pekerjaan yang sama. Gaji pembantu di Jakarta rata-rata di 1,4 jt. Itu bersih masuk kantong, karena makan, penginapan bahkan sabun dan tetek bengeknya sudah disediakan majikan. Gaji PRT di Malaysia, sekitar 3-4 jutaan. Nanti kalo pulang, untuk biaya pulangnya plus ongkos lain dan potongan sana sini, akhirnya dapatnya juga 1,6-1,7 juta juga”

Eh, ada satu lagi yang mengeluhkan tenaga kerja. Siapa dia? Petani! Ya, petani sekarang sudah makin susah mencari tenaga kerja untuk mengerjakan lahan nya.
Buruh tani semakin sedikit, yang tersisa adalah buruh-buruh tani tua. Sebab yang muda sudah tidak ada regenerasi lagi. Karena lebih memilih jadi Karyawan Kantoran, Buruh pabrik di kota atau berangkat ke luar negeri jadi TKI. Sedangkan anak petani juga memilih hal yang sama.
Sekarang biaya tenaga kerja menjadi faktor yang sangat diperhitungkan oleh petani dalam usahanya.

Para Ekonom bilang, Indonesia sekarang ini sedang panen orang muda. Disebutnya : Bonus Demografi. Orang di usia produktif lebih banyak dari yang sudah jompo.
Nah, jadi masalah adalah kalo bonus demografi yang besar itu ternyata yang menikmati bukan kita juga. Yang menikmati lagi-lagi Negara Lain. Sebagaimana bumi dan kekayaan alam yang sudah terjadi saat ini.

Bila seperti ini kondisinya, mustinya Buruh di Indonesia punya nilai tawar tinggi dong ya?
Bisa kontrol pengusaha dan pemerintah untuk naikan upah mereka?
Ada yang bisa memberi penjelasan…?

from Tumblr http://ift.tt/1u7C8X3
via IFTTT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s