Waton Njeplak Meski Kadang Bermanfaat

Ada satu teman saya yang dikenal punya cangkem asal njeplak.  Ini adalah ungkapan yang agak pas buat dirinya, sebab kepiawian nya dalam berkomentar atau memberi status terhadap sesuatu hal. Teman ini orangnya sangat spontan ketika berkomentar dan kadang seperti  tidak dipikir sebelumnya. Tapi jika saya cermati, banyak komentarnya yang boleh dibilang tepat dengan situasi yang terjadi. Meski banyak juga yang tidak proporsional bahkan boleh dibilang lebay.

Suatu ketika dalam satu obrolan seru dengannya tentang bisnis, dia tiba-tiba berkomentar; ada perbedaan mendasar antara Usaha dengan Berusaha. Jika usaha adalah kata kerja yang tujuannya  untuk mendapatkan hasil, dan pada konteks ini adalah  
Uang. Sedangkan Berusaha adalah kata sifat. Yaitu orang atau orang-orang yang sedang berhasrat punya “usaha” dan berharap bisa mendapatkan hasil.”
“Jadi perbedaan prinsip nya dimana. kan kelihatannya sama saja?”, tanya saya.
“Ya beda, pikirmu nggak nutut kalau nggak bisa bedakan keduanya” begitu jawabnya. Sambil tertawa sinis bajingan khas senyumnya.
Muka saya pun mengkerut mendengar jawabnya.
Lalu dia menambahkan, “tak kasih contoh langsung deh. Tahu tentang kawan yang “sebelah sana”?” … dia memberi contoh  
(tetapi tidak saya sebutkan disini).
“Iyaaaaa” saya menjawab sambil tergelak
“itulah contohnya berusaha. Bagaimana mungkin? Belum punya apa-apa, Belum tahu bisa dapat apa, sudah ribet dengan tetek bengek formal yang gak penting. Ya, yang namanya usaha itu, pastiin dapat ikannya baru ribet dengan formalitas mancingnya”
kawan ini memang fishing freak. Dan sering kali mendeskripsikan sesuatu dengan hal-hal yang berbau mancing dan ikan.
Saya pun lalu terdiam dan manggut-manggut saja.
Tidak serta merta mengiyakan, karena 2 hal. Pertama; saya tidak mau terlihat mengakui apalagi membenarkan teorinya di hadapannya. Dan yang kedua, ada satu prinsip jika sedang berbicara dengannya. Bahwa saya harus selalu kontra dengan apa yang dikatakannya.

Ada seseorang (kawan saya juga)  pernah curhat dengan teman saya ini.
Dia cerita kalau sudah bekerja sekian bulan tetapi tidak digaji, sebab orang yang memperkerjakannya lari dari tanggung  jawab.
Teman saya ini, bukannya memberi simpati malah tertawa terbahak-bahak. Lalu bilang; “itu kamu bekerja atau berbakti?. Tak bilangin bedanya ya: kalau kamu mau kerja, pastikan dulu siapa yang mau meperkerjakan kamu, bentuk pekerjaan yang diberikan seperti apa, bagaimana pembayaran kerjanya, fasilitas yang diberikan dan lain-lainnya. Tetapi kalau berbakti itu,  cuma satu; cukup bilang saya berbakti. Gak usah tanya ini itu dan juga gak perlu berharap dapat apa-apa. Ya kaya nyapu mesjid, membelikan rokok bapakmu, mijitin orang-orang seperti saya, dan lain-lainnya”
Dan orang yang diceramahin ini pun, cuma tersenyum….. kecut.

Pada satu kesempatan yang lain, saya pernah berkomentar didepannya. Bahwa usaha kolektif itu adalah hal yang mustahil  untuk sukses. Kemungkinannya cuma 2, gagal dan bubar dengan baik-baik atau gagal dan bubar dengan membawa masalah antar para pemiliknya.
“Akh nggak juga. Tergantung”  kata teman saya itu.
“lho, ini terbukti. Sudah beberapa orang membuktikan. Bahkan diriku juga sudah membuktikan sendiri” sergah saya.
“Sekarang saya tanya, berapa orang itu yang kumpul di usahamu itu?” tanya teman saya.
“Banyak. Lebih dari lima (5) lah” jawab saya.
Teman : “Dari sekian orang itu, pembagian sahamnya gimana? Apakah sama besar atau ada yang punya kepemilikan saham  mayoritas?”
Saya : “Ya nggak sama. Besaran kepemilikan sahamnya beda-beda. Tetapi ada yang paling besar”
Teman : “Nah pertanyaanya, apakah pemilik saham yang mayoritas itu punya kuasa yang lebih besar atau tidak”
Saya : “Secara definitf. Artinya dituliskan di kontrak memang tidak. Tetapi dalam kenyataan riil nya, dia lah yang sering  mengambil action dan membuat keputusan”
Teman : “Ya itu masalahnya. Gak ada namanya punya usaha bareng-bareng, lalu nggak ada yang punya otoritas yang lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Banyak kepala tapi porsinya sama, ya jadinya Besar Kepala semua. Itu sih bukan usaha bareng. tapi bareng-bareng berusaha dan berbakti”
Kakakakakaka….. dia tertawa lepas dan senang sekali. Ketawa ngakak khas bajingan.
Saya pun terdiam dan manyun…

Ada banyak hal lain lagi yang saya dapatkan darinya. Karena faktor “I” maka saya kesulitan untuk menuliskannya saat ini.
Tatpi saya berharap, jika ada lagi yang membekas dari kata-kata nya di ingatan saya, maka akan saya tuliskan lagi di tulisan ini sebagai update.

from Tumblr http://ift.tt/1EEL4Zw
via IFTTT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s