Mencegah dari Eneg dan Bad Mood dari Status Liyan

Dua hari ini sosial media seperti twiter dan Facebook  akan dijejali satu tema pembicaraan yang sama yaitu tentang  BBM. Sejak BBM dinaikkan di senin malam, maka sejak itu pula seperti air bah yang turun secara sangat cepat, BBM menjadi trending topic yang sangat liar.
Ada yang Pro dengan alasan fiskal dan hitungan ekonomi, juga ada pula yang membela dengan dalih apapun. Dan banyak pula yang kontra , dengan dasar dan pertimbangan tertentu, buanyak pula yang asal kontra dan nyinyir. Dan biasanya yang asal kontra dan nyinyir ini yang memang sama sekali tidak suka dengan pemerintahan sekarang.

Masing-masing punya argumen, entah itu bermutu atau tidak.
Masing-masing juga punya hak untuk mengutarakan hal itu.
Namanya juga negara demokratis, semua orang punya hak untuk menyuarakan pendapatnya, meski sekarang mereka juga perlu berpikir ulang untuk menuliskan teks nya di sosial media sebab UU ITE khususnya Pasal 28 sangatlah melar.  Sudah terbukti, berdasarkan aturan Undang-undang tersebut digunakan  buat menjaring mereka yang mengutarakan pendapatnya lepas kontrol.

Buat saya pribadi, hal-hal yang sangat mainstream seperti pembicaraan kenaikan BBM sesungguhnya tidak menarik. Tetapi hal ini tetap perlu juga saya update sebab ketinggalan informasi penting di dunia yang berputar sangat cepat seperti sekarang ini, agak membahayakan juga.
Kenapa membahayakan ? Sebab pekerjaan saya memang berkaitan dengan update informasi tersebut.
Untuk membebaskan saya dari  rasa eneg dengan pembicaraan tentang BBM maka saya buat filter sendiri tentang hal tersebut.

Saya akan memilih mana saja orang-orang yang asyik dan bermutu dalam memberikan pendapatnya, kemudian membebaskan statusnya untuk tampil dalam news feed.  Dan menghentikan status dari mereka yang asal njeplak dan sama sekali tidak bermutu, yang potensial membuat mood saya rusak jika terpancing dengan status yang dia buat.
Pilihan saya bukanlah pada orang-orang yang Pro saja atau yang Kontra saja, tetapi batasan saya adalah kualitas pendapatnya. Ukuran kualitas, tentu sangat subyektif dari saya pribadi.

Di Facebook (FB),  saya biasanya melakukan filter dengan klik “I Don’t  Want to See This” buat status-status busuk yang membuat mood rusak atau  kecerdasan jadi tumpul.
Dengan fitur itu, status busuk tersebut tidak akan lagi tampil di news feed  meski potensi viral nya besar dan kemungiinan akan banyak like, comment atau share.
Fitur ini efektif untuk filter status.

Jika ada orang yang sering sekali membuat status-status busuk dan tidak bermutu tetapi saya tidak ingin memutus pertemanan dengannya, saya akan klik profil dia lalu mengubah yang semula “Following” menjadi  tidak. Maka saya tetap akan berteman denganya tetapi tidak pernah mendapatkan lagi update status yang dia buat.
Tentu jadi pertanyaaan, buat apa berteman jika tidak pernah mau tahu dengan apa yang dia lakukan di FB? Ya tidak apa-apa, mungkin suatu saat saya akan membutuhkannya. Tetap terkoneksi  akan lebih memudahkan untuk berkomunikasi dan tidak kehilangan kontak dengannya.

Oh ya, saya akan cerita sedikit tentang fungsi sosial media khususnya FB ini buat saya. Kemarin, sebelum memutuskan untuk bekerja sendiri di rumah, saya hanya memanfaatkan FB untuk kepentingan hiburan, terkoneksi dengan teman dan berkomunikasi dengan orang-orang yang saya butuhkan.

Tetapi, saat ini fungsi FB sudah bertambah. FB sekarang ini saya gunakan untuk belajar; baik ikut kursus yang berbayar maupun yang gratis, update skil dan pengetahuan, juga membangun networking dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan atau interest yang mirip-mirip dengan apa yang saya kerjakan.

Beberapa kursus berbayar yang saya ikuti atau pembuat  tools dan ebook yang saya beli , membentuk grup di FB sebagai tempat sharing pengetahuan,  wadah belajar dan berkomunikasi dengan sesama member kursus. Selain itu ada juga grup-grup dengan tema tertentu yang khusus dibuat untuk berkomunikasi dan sharing antar anggota pada minat tertentu.

Jadi simpelnya, mau suka atau tidak, FB sudah semacam Kampus buat saya.
Diantara orang-orang yang menurut saya punya pengetahuan tentang beberapa ilmu yang sedang saya pelajari, saya jadikan teman (fasilitas add friend) tetapi jika dia tidak menerima pertemanan atau kuota teman nya sudah habis (FB Max 5000 orang) karena saya butuh maka akan saya follow (fasilitas Following). Jadi saya tetap mendapatkan update dari dia meski tidak berteman.
Namun, terkadang ada banyak orang-orang itu membuat status busuk juga yang tidak saya sukai, maka fitur “I Don’t Want to See This” saya gunakan pada status-status busuk yang mereka tuliskan, agar tidak muncul di news feed lagi.

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang kebetulan memang saya kenal, karena satu kampus meski beda angkatan. Menuliskan status kekecewaan karena banyaknya orang yang invite games di FB padahal dia sama sekali tidak suka main games. Ia mengancam akan melakukan unfriend kepada orang-orang yang invite games tersebut.
Padahal, di FB sendiri ada fitur block invitation games tanpa harus melakukan unfriend. Tinggal invitation tersebut di block maka, tidak kita tidak akan pernah menerima invitation tersebut.

Saya agak selektif untuk melakukan Unfriend. Hanya kepada orang yang sama sekali tidak saya kena (atau tidak terkoneksi dalam hal apapun), pada orang yang tidak punya kompetensi apapun dengan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan saya, atau sering  membuat status busuk atau sering promo jualan barang yang tidak saya butuhkan  dengan cara-cara kasar yang menyebalkan, maka Unfriend akan saya lakukan.
Meskipun sering promo jualan tetapi caranya elegan, berkelas dan cerdas tetap akan saya biarkan. Tanya Kenapa? Alasanya adalah; saya belajar dari cara dia melakukannya, karena itu juga berguna dengan apa yang  sedang saya kerjakan.

Sosial Media memang ruang bebas berekspresi untuk tujuan apa saja, asalkan tahu diri. Ingat dengan UU ITE dan pasal-pasal KUHP lainnya, yang seperti pukat harimau.  Yang bisa menjaring siapa saja.
Meski banyak hal di UU ITE yang tidak saya setujui sebab pada kenyataanya sering Multi Tafsir dan tidak digunakan secara semestinya.
Jadi, gunakan sosial media dengan cerdas dan hati-hati.
Salam

from Tumblr http://ift.tt/1uOLviL
via IFTTT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s