Dukun San Ji Pak

Alkisah ada 3 orang sekawan yang memutuskan untuk menemui seorang pintar agar bisa memberi solusi terhadap permasalahan hidupnya.
Ketiganya kompak berangkat bersama dari sebuah tempat menuju ke tempat “Orang Pintar” itu berada.

Sesampai tujuan dan sudah dipersilahkan untuk bisa bertemu langsung dengan “orang pintar” tersebut, maka ketiganya pun kompak ingin menghadap berbarengan.
Duduk berjejer, ketiga sekawan itu di hadapan “orang pintar”.

Salah satu dari sekawan itu, yang duduk paling kiri, sebut saja namanya Palang, memulai berbicara dengan “orang pintar: tersebut; “Mbah, kami bertiga dari Malang. Punya maksud untuk bertemu dengan Mbah, supaya bisa memberi solusi atas permasalahan yang masing-masing kami hadapi”
Orang Pintar itu berdehem lalu bicara: “Iyo, terus opo sing iso tak bantu?”
“Begini mbah..”
Belum selesai bicara, sudah langsung dipotong sama mbah :
“Sek…sek..sek.. iki masalahmu dewe-dewe opo masalahe wong telu barengan?”
“Ow masing-masing Mbah. Tapi kami bertiga ini sudah berteman sejak kecil, jadi ndak masalah kalo persoalan pribadi masing-masing didengar oleh yang lain. Jadi sekalian saya kemukakan disini, di depan mbah dan 2 teman saya ini”
Mbah pun mengangguk-angguk sembari tersenyum kecil.

Kemudian si Palang pun melanjutkan cerita tentang masalah hidupnya kepada si Mbah. Garis besarnya, si Palang merasa usaha nya akhir-akhir ini semakin menurun. Orderan sepi, pekerjaan banyak gagalnya sehingga merugi juga hutang yang semakin menumpuk.
Setelah Palang selesai mengadu kepada si Mbah, kemudia si Mbah meminta Palang untuk mengeluarkan tangannya. Lalu menyalaminya.
Disalaminya si Palang dengan erat, sembari mengucap kata-kata dengan intonasi tinggi rendah; semacam sedang merapal mantera.

Tak lama, si Mbah mengambil kertas dan bolpoin yang sedari tadi berada tidak jauh dari tempat duduknya.
Lalu menulis beberapa kalimat, tertulis dalam campuran aksara jawa, huruf arab dan latin pada bagian atas. Kemudian menulis dalam huruf latin pada bagian bawah dengan bahasa yang juga campuran antara Jawa, Melayu dan Arab. Setelah selesai menulis, si Mbah bilang: “kertas iki sobek bagian dua. Yang bagian atas kamu lipat yang baik lalu simpan di tempat yang paling aman. Bawa
kemanapun kamu pergi. Jangan sekali-kali membawanya ke tempat pelacuran dan sejenisnya. Sekali kamu melanggar, akan merasakan akibatnya. Sangat Pedih!”

Pada saat mengucap kata “sangat pedih” si Mbah mengucapkannya dengan tekanan yang dalam sekali. Sangat dalam.
Si Palang, yang sejak dari disalami si Mbah sudah menunduk. Menunduk semakin dalam ketika Si Mbah memberi wejangan. Apalagi terucap kata “sangat pedih”

“Sedangkan yang bagian bawah ini namanya amalan. Kamu baca dan hapalkan. Baca ini tiga kali sehari, setiap pagi setelah bangun tidur, siang waktu mau istirahat siang dan malam sebelum tidur. Masing-masing ini dibaca 10 kali. Tidak berat kan?” Tanya si Mbah kepada Palang.
Palang hanya mengangguk tanpa mengucap apapun.
“Baca amalan ini selama 30 hari. Insya Allah masalahmu bisa terang pada hari ke 31” 

“Nggih Mbah. Matur nuwun” ucap Palang

“Yo wes, saiki giliranmu” Si Mbah menunjuk kepada yang duduk di tengah.
Orang ini, nama aslinya panjang, bagus dan megah. Tetapi teman-teman nya memanggilnya Parji.
Sepertinya itu berasal dari bahasa arab yang sedikit diplesetkan kedalam bahasa jawa, artinya silahkan cari sendiri. Parji ini memang agak pendiam. Tetapi sama seperti kelakuan dua temanya itu, mereka adalah anak badung semua sedari kecil. Tetap badung meskipun sudah bukan anak-anak lagi.

Setelah ditujuk si Mbah, Parji pun bercerita tentang masalah yang dihadapinya kepada si Mbah. Ia cerita tentang suasana kerja di kantornya yang tidak nyaman. Banyak Intrik dan saling tikam antar satu karyawan dengan karyawan lainnya. Jika tidak beruntung akan menjadi korban intrik atau
sengaja dikorbankan untuk kepentingan yang lain. Ia pun perlu membekali diri dengan hal-hal non fisik untuk menghadapi hal tersebut. Maka ia pun utara maksudnya tersebut kepada si Mbah.

Si Mbah pun berdehem, persis sama dengan ketika ia selesai mendengarkan cerita si Palang tadi.
Kemudiam mengulurkan tangannya, menjabat tangan si Parji dan mencengkeramnya dengan sangat erat sembari merapal mantera.
Setelah melepaskan jabat tangan, beringsut ke samping kiri, mengambil kertas dan bolpoin lalu menuliskan huruf Arab dan Jawa di bagian atas. Dan menuliskan beberapa hal dalam bahasa Jawa,
Arab dan Melayu dalam akasara Latin pada bagian bawah.

Usai menulis, disodorkannya kertas tersebut ke Parji.
Nasehatnya juga hampir sama dengan nasihat yang diberikannya kepada si Palang.
Cuma ada beberapa tambahan: “Setiap sebelum duduk di kursi di kantormu, pastikan membaca amalan itu satu kali. Dan membaca amalan itu sekali lagi pada saat kamu mau meninggalkan halaman kantormu. Setiap hari selama 15 hari, datanglah ke kantor paling pagi.Jadilah orang yang pertama datang ke kantor. Dan jadilah orang yang paling belakangan meninggalkan kantor.
Buatlah kesibukan apa saja, agar kamu bisa pulang paling belakang dibanding kawanmu yang lain”
Parji menunduk, mengangguk dan berbicara lirih “Inggih Mbah. Nuwun”

Suasanapun kemudian hening beberapa saat.
Si Mbah tidak berbicara apa-apa, seperti menunjuk orang ketiga untuk bicara seperti yang ia lakukan tadi usai Palang kepada Parji.
Tiba-tiba si Mbah beringsut, berdiri dan melangkah ke dalam rumah.
Tak lama ia datang membawa sebungkus tas kresek putih kecil, entah isinya apa.
Diletakkan tas kresek putih itu disamping kiri tempat duduknya.
Si Mbah duduk tapi masih terdiam.

Orang ketiga, yang duduk paling kanan, adalah laki-laki berambut panjang berwarna merah. Sedari tadi masih menunggu kata-kata terucap dari si mbah untuk mempersilahkan dia bicara, tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda bicara.
Lalu dengan inisiatifnya sendiri, dia pun membuka mulutnya.
“Nuwun sewu Mbah. Kalo saya masalahnya begini mbah. Jadi……”
Tiba-Tiba si Mbah mengangkat tangannya dan bilang:
“Sudah…sudah. Tidak perlu dijelaskan lagi. Saya sudah tahu masalahmu apa”
Si Gondrong agak kebingungan dengan situasi tersebut.
Dia pun langsung menghentikan ceritanya, mengikuti apa yang si Mbah bilang.
Dalam fikirannya: wah sakti juga Mbah Dukun ini. Sudah tahu masalahku sebelum aku selesai cerita.

“Masalahmu itu cuma satu: Bau Badanmu itu gak enak blass. Dari tadi aku nahan napas dengan baumu. Sana kamu mandi di kamar mandi belakang. Ini sabun, shampo, odol dan sikat giginya”
Kata si Mbah kepada si Gondrong sembari ulurkan tas kresek putih yang ada disamping kirinya.
Si Gondrong tersenyum kecut sembari menerima uluran tas kresek putih tersebut.
Lalu berdiri dan berjalan ke belakang ke tempat kamar mandi seperti yang si Mbah tadi tunjukkan.
Sedangkan dua teman disampingnya menunduk dalam, dengan muka memerah menahan tawa.

Setelah ketiganya sudah di dalam mobil dan menjauh dari tempat si Mbah, dalam perjalanan pulang, Si Palang dan Parji tertawa terbahak-bahak ngakak dengan memegang perutnya masing- masing.
Si Gondrong, hanya tersenyum kecut. Lalu berkata: “Asu! Digarapi dukun San Ji Pak!”

-Malang. 15 Jan 2015
*Di ceritakan dari kisah yang sebenarnya terjadi.
** San Ji Pak = Penipu

from Tumblr http://ift.tt/17JMkS1
via IFTTT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s