Menikahkan Kopi Kaspandi Cap Sepoor dengan Ketan Kudusan Stasiun Malang

Kopi Menembus Batas

Seringkali orang memandu dirinya untuk percaya bahwa apa kata “ahli” adalah yang paling benar. Kebenaran sekaan menjadi monopoli beberapa orang atau sekelompok orang dan arus publik mengamininya sebagai sebuah keabsahan. Maka jadilah ia sebuah kepercayaan. Begitu pula dengan kopi. Kopi yang enak adalah kopi yang disajikan di kafe-kafe mahal. Kopi yang berlabel specialty; Kopi yang telah diuji oleh para ahli sehingga bisa ditentukan nilainya dengan patokan tertentu. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Sebab pada dasarnya itu semua bukanlah menilai enak atau tidaknya tetapi ingin memberi definisi tertentu dari kopi berdasarkan spektrum rasa yang dimilikinya. Nah, kalau bicara tentang enak dan tidak enak, maka semua orang punya hak dan sah untuk memberi definisi bagaimana sebuah kopi bisa disebut enak atau tidak.

“Cangkem- cangkemmu dewe, mosok kate diatur wong liyo?”

Pagi ini sengaja saya “memiliih” kopi lokal namun bermerk tetapi belum terkenal, sebagai teman pengantar hari Senin. Sengaja saya sisipkan kata “memilih” agar seolah-olah koleksi kopi saya begitu banyak, sehingga punya banyak pilihan untuk minum kopi tiap harinya. Padahal sejujurnya; tidak!

Kopi Kaspandi Cap Sepoor

Kopi ini saya beli di Pasuruan, di counter resminya yang ada di kota Pasuruan, beberapa bulan lalu, ketika rehat sejenak saat perjalanan dari Bali menuju Malang. Saya beli 1 bungkus 250 gram, harganya seingat saya 12 atau 13 ribu. Setelah saya bawa pulang, kopi ini tidak langsung saya buka. Tetapi saya simpan di kontainer plastik sampai kemudian saya buka dan nikmati setelah 2 atau 3 bulan kemudian. “Murah, tidak selalu murahan”. Begitu lidah berkata kepada fikiran saya melalui ujung rasa yang tersentuh Kopi Kaspandi. Robusta yang pahitnya medium, ada sedikit asam, bersliweran rasa coklat , yang bodi nya juga medium, aroma manis nya akan keluar jika hidung berjarak 10 cm dari gelas dan ketika disesap akan bilang… Mantab. Pengalaman menyenangkan masa lalu selalu menjadi tolok ukur untuk menentukan perasaaan senang dan kebahagiaan di masa kini. Untuk soal kopi, pengalaman paling membahagiakan di masa remaja adalah ngopi di warung dekat rumah di waktu pagi buta setelah Sholat Subuh. Warung itu menyediakan ketan sebagai pengantar dan pengiring minum kopi. Ya, ketan bubuk itu. Ketan dengan parutan kelapa diatasnya dan kemudian ditambahkan bubuk kedelai sebagai Topping. Ketan dan Kopi adalah sebuah paket. Duduk di bangku panjang, cukup diam dan tersenyum kepada penjualnya, maka tak lama kemudian akan terhidang 1 lepek (piring kecil) ketan hangat yang asapnya masih mengebul dan 1 cangkir kopi. Tak perlu bilang sesuatu atau malah menulis sesuatu di kertas order. Semuanya serba otomatis. Ketan dan Kopi yang dinikmati saat subuh, menjadi puncak eksatase kebahagian saya waktu itu.

Ketan Kudusan Stasiun Malang

Di Malang, ada satu lapak penjual ketan yang enak dan enak sekali. Nama nya Ketan Kudusan. Beras ketan nya empuk tetapi tidak lembek. Ada sedikit gutih di ketannya itu sendiri. Bubuk kedelai yang jadi toping adalah kombinasi rasa asin dan manis. Pesan saya, buat anda yang tidak suka makanan terlalu manis, mintalah ke penjualnya untuk tidak menambahkan gula lagi pada ketan nya. Oh, ya kenapa saya sebut “lapak” untuk penjual ketan ini? Karena memang dia jualan di emperan toko di Stasiun Malang. Buka dari jam 8 pagi sampai habis. Rata-rata jam 11 siang sudah habis. Maka pagi ini saya ikhtiarkan untuk ke stasiun dulu membeli ketan dan langsung pulang untuk kemudian menyeduh kopi kaspandi. Saya hendak menjodohkan 2 pasangan yang secara merk sebenarnya sudah jodoh. Cap kopinya adalah Sepoor dan Ketan nya Stasiun. Berharap mereka bisa mengatar saya mencapai ekstase kebahagiaan yang pernah saya peroleh semasa remaja. Belum sepenuhnya berhasil, namun ada sedikit yang bisa saya dapatkan. Dan itu sudah cukup membuat saya bahagia.

from Tumblr http://ift.tt/1BwipJm
via IFTTT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s