Berjalan Pulang duluan

Ada 379 hasil pencarian dan hampir semuanya member judul gambar ini sebagai “Angels”, sedangkan Google sendiri mensuggest terkaan terbaiknya dengan judul : “amazing angels”.Angel_of_Soul
Ketika saya klik, beberapa gambar mengarah ke Pinterest dan diantaranya didalam Board dengan board title yang hampir mirip-mirip, yaitu Angels dan Heaven.

Malaikat dan Sorga begitu saya mengartikan Angels and Heaven, dua hal yang memang teramat dekat. Sorga menunjuk ke suatu tempat sedangkan Malaikat adalah personal yang mengurus tempat itu. Mulai dari menjemput orang yang akan menempatinya, mengantarkan, menjaga pintu sorga dan hal-hal lain yang terkait didalamnya.

Warung Kopi tempat dimana pertama kali mendengar penyakitnya

Tercengang, terhenyak dan ada kekuatiran ketika dalam suatu perbincangan di warung kopi seorang teman berkata : “Meski kelihatannya sehat, sebenarnya dia sedang sakit”.
Sakit apa ?
“Leukimia…. “
Beberapa kali saya tanyakan ulang. “Leukimia?”
“Iya, leukemia”
“Leukimia yang kanker darah itu?”
“Ya itu..”
Shock…terhenyak dalam duduk saat mendengar tentang itu.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang Leukemia, apalagi detailnya. Yang saya tahu, adalah penyakit ganas, dimana sel darah putih yang seharusnya menjadi Fire Wall terhadap serangan dari luar, berbalik menjadi unsur jahat yang mengganyang apa yang seharusnya dia jaga; Sel darah merah.

Di penghujung april 2015, berkumpul 10 orang yang cukup lama tidak bertemu meski 9 diantaranya tinggal dalam satu kota, di sebuah warung kopi di daerah Kalpataru Malang. Acara “insidentil” tanpa rencana sebelumnya, sebatas kirim message lewat BBM dan whatsapp maka kemudian berkumpul. Berkumpul dan membicarakan hal-hal yang gak penting adalah sebuah kewajiban. Obrolan gayeng dengan tema lepas, meski sebagian besar didominasi oleh pembicaraan tentang Akik. Tertawa ngakak selepas mungkin adalah gaya bercengkrama kami semua. Dan tentu saja diselingi dengan obrolan jorok.
9 orang ikut larut dalam obrolan, bicara seenaknya dan tertawa terbahak-bahak selepas mungkin.
Hanya satu orang yang ada disitu seperti ada tetapi tiada dalam acara tersebut. Tidak tertawa pun juga bicara. Hanya membuka mulut jika ada yang bertanya. Itu pun pendek-pendek.
Duduk di ujung kiri saya, tidak pernah lepas dari mengenggam dan memainkan ponsel nya.
Beberapa orang diantaranya berbisik, “dari tadi diam, ngapain dia?”
Seorang yang lain membalas; “jangan ganggu, dia sedang perang”
Hahahahaha…. Kami semua tertawa lepas kembali. Sebab tahu, orang yang dibicarakan itu suka sekali dengan game perang semacam age of empire dan sejenisnya.

Warung Kopi

Diam, jarang bicara dan sedikit sekali tertawa, hampir dipastikan tidak pernah ikut larut dalam sebuah obrolan bersama, adalah cirinya. Maka kami semua sudah paham tentang itu.
Tidak terbersit pun dalam pikiran bahwa mungkin dia sedang melawan rasa sakitnya atau hal lainya.
Dari Surabaya ke Malang, masih membawa mobil sendiri. Begitupun malam itu, selesai ngopi pun masih akan melanjutkan ke Blitar. Meski sudah jam 11 malam.
Tawaran seorang teman untuk menginap di rumah nya dia tepis.
Siapa yang menyangka bahwa dia sedang sakit?

Tidak ada yang tahu jika dia pernah beberapa kali masuk rumah sakit. Bahkan pernah 2 minggu opname di sebuah Rumah Sakit di Surabaya, beberapa bulan lalu. Setidaknya teman-teman yang saya kenal dan dia juga mengenalnya. Tidak satu berita pun mampir ke telinga atau masuk dalam jangkauan Ponsel saya.
Mengirim message lewat BBM, Whatsapp, FB atau lainnya untuk mengabarkan kepada teman-teman nya pun tidak ia lakukan.
Menutup rapat semua apa yang diderita, merasakan sendiri rasa sakit yang menyerangnya tanpa perlu orang lain pun tahu. Meski itu teman atau keluarganya.

Jakarta, sekitar awal tahun 2006. Kami bertemu di sebuah tempat yang biasa menjadi home base bagi yang sedang di Jakarta. Muka nya hampir dipenuhi oleh Kumis dan brewok.
“Di tempat sampeyan, gak ada lowongan?” tanyanya kepadaku.
“Kamu mau?”
“Ya maulah”
“Iya nanti kalo ada”
Beberapa minggu kemudian; di suatu malam. “Kamu dimana, bisa ke kantor besok pagi? Ada interview”
“aku di Cianjur, pagi jam berapa?”
“Jam 7.30”
“Waduh, pagi banget. Gak bisa agak siang?”
“Gak bisa, harus pagi”
“Ya sudah”
“Jangan lupa, kumis dan jenggotmu dicukur. Yang rapi”
Diapun hanya tertawa.
Pagi Jam 7. 30 ternyata dia sudah ada di kantor.
Sedang saya sampe kantor sekitar Jam 10 pagi.

Dari jauh, begitu melihatnya Saya pun sudah tersenyum. Malah ingin tertawa terbahak-bahak tetapi Saya tahan. Melihat mukanya yang sudah klimis tanpa ada sedikitpun rambut di bagian kumis dan dagu nya.
Berjalan menghampir saya, sembari ngomel, “Katanya disuruh pagi. Sampe sini yang nyuruh datang pagi malah gak ada”
Saya hanya menjawab dengan tersenyum.
Tentang kedisiplinan, mungkin dia salah satu juaranya diantara kami. Selalu on time jika janjian. Meski itu adalah acara remeh temeh sekalipun.
Konsisten. Memegang teguh amanah dan selalu berlaku Jujur.

Pernah beberapa kali mengatakan kepadanya, “aku pengen ke Blitar, maen ke rumah mu”. Entah saya atau dia yang nggak bisa, keinginan itu belum terwujud hingga kemarin. Bersama 9 teman, jam 8 malam berangkat menuju Blitar dari Malang.
Bukan untuk minta dihidangkan kopi yang dibuat di rumahnya.
Bukan untuk tertawa lepas menggojloknya di depan orang tua nya, sebab belum menikah.
Atau menertawakan hal-hal lainnya.
Namun…
Datang untuk melihatnya dalam keranda dan men Sholat kannya.2015-05-10

“Mas saya itu tadi pagi masih bisa merebus air sendiri untuk mandi. Tidak terlihat menahan sakit atau apa, hanya memang terlihat agak lemas saja” begitu adiknya bercerita kepada rombongan kami.
Kemudian Ia meneruskan cerita: “ Kakak ipar saya, sebelum berangkat kerja juga sempat tanya bagaimana kondisinya. Ia hanya menjawab singkat: baik. Cuma kakak perempuan saya agak feeling. Jadi, beberapa kali telpon ke rumah menanyakan kondisinya. Siang, ketika waktunya Sholat Ia masih seperti tertidur. Dibangunkan keponakan juga tidak bergerak. Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit. Ia pun berpulang”

Perjalanan pulang ke Malang, Saya masih berpikir. Bagaimana bisa seseorang menyembunyikan rasa sakitnya begitu hebat. Menutup apa yang dideritanya begitu kuat. Dan bisa berkata kepada siapapun tanpa terkecuali, bahwa dia baik-baik saja. Meski sedang menahan rasa sakit.
Sering saya dengar tentang ungkapan “Lelaki tidak boleh cengeng”
Saya berpikir; apakah itu yang tertanam kuat di benaknya?
Berkata jujur bahwa sedang merasa sakit bukanlah hal yang tabu, tapi tidak begitu, setidaknya bagi dirinya.

Saya tengok di BBM nya. Tertulis status: “seperti mau terbakar”. Mungkin ini satu satunya keluhan yang saya ketahui. Keluhan yang terakhir kali ia ungkapkan.
Gambar Amazing Angel diatas menjadi profile picture di BBM nya, profil picture terakhir sebelum dia berpulang. Seperti mengabarkan bahwa ada malaikat yang akan menjemputnya.
Dan moment ngopi bersamanya 2 minggu yang lalu adalah terakhir kali kami bertemu. Barangkali dia sedang pamitan.

Kini pendiam itu sedang berjalan menuju Tuhan nya.
Sampai ketemu lagi disana.
Carikan tempat ngopi yang enak disana!

Malang 10 Mei 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s