Soto Daging Markeso Jalan Sindoro Malang

Adanya di Jalan Sindoro, Malang. Ruas jalan ini letaknya tidak jauh dari ujung Jalan Ijen bagian utara. Sebelum perempatan, antara jalan Ijen dan jalan Kawi, ada jalan masuk ke kiri. Sekira 100 meter dari situ, gerobak soto pak markeso akan melambai-lambai dari pinggir jalan.

Soto daging ala Madura ini adalah kuliner pagi, ia hanya dijual dari jam 6 pagi dan biasanya akan habis sekitar jam 11 siang. Atau paling siang, sebelum jam makan siang kantor dimulai. Rasa gurih namun segar menyeruak ke lidah saat disesap, muncul dari perpaduan bumbu dan daging sapi yang diberikan perasan jeruk nipis agak banyak. Rasa ini seperti memberi pelajaran kepada lidah tentang seperti apa sebenarnya yang dimaksud dengan soto yang enak.

Semangkok soto daging tanpa jeroan dihargai Rp. 8 ribu, tidak terlalu murah untuk ukuran kota sebesar Malang. Porsinya nisbi sedikit, tidak cukup mengenyangkan buat pemangsa yang sedang kelaparan, saya sarankan untuk menambah semangkok lagi jika ingin perut terasa nendang. Tetapi itu adalah porsi ideal, buat yang tidak ingin merasa kekenyangan di waktu pagi.

Seperti yang tampak di foto, nampak sebuah gerobak di pinggir jalan dikerubung beberapa orang. Soto Markeso memang hanya seperti itu. Hanya gerobak saja di pinggir jalan, tanpa meja khusus, tanpa ruangan khusus dan juga nir atap yang dapat menaungi pembeli. Hanya tersedia beberapa kursi plastik, itupun difungsikan sebagai meja. Pengandok duduk di atas pinggiran pembatas taman, tanpa alas. Sebagian diantaranya menggunakan kursi menjadi meja makannya atau memegang mangkok masing-masing di tangan kiri.

Jalan Sindoro adalah sebuah akses didalam sebuah komplek perumahan, komplek perumahan elit lawas di kota Malang. Rumah-rumah disini bergaya Art Deco yang sudah berdiri sejak jaman Belanda, yang seharusnya masuk dalam kawasan cagar budaya Kota Malang. Namun sebagian diantaranya, sudah diubah dengan bentuk yang lebih modern oleh pemiliknya yang merasa rumah bergaya klasik itu kuno dan tidak mewah. Alih-alih terlihat kekinian, malah menunjukkan betapa rendahnya selera pemilik rumah tersebut.

Duduk dan bersimpuh di pinggir jalan sindoro, dengan tangan kiri memegang soto daging Pak Markeso. Sambil membayangkan jika nanti suatu saat kita sudah kaya dan mampu membeli rumah mewah. Apakah selera kita akan sejelek orang kaya yang mengubah rumah cagar budaya menjadi rumah modern dengan “taste” yang rendah atau mempertahankannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s