Kue Rangin

Namanya Kue Rangin, sebagian daerah menyebutnya kue rangi (tanpa akhiran huruf N). Ibu Mertua saya menyebutnya Serabi, sebab di daerah Malang sini, begitu orang memberi nama. Memang, kalau berdasarkan bahan pembuatnya, kue ini hamper sama dengan bahan yang digunakan untuk pembuatan kue serabi. Perpaduan antara parutan kelapa, santan dan tepung beras.
Rasanya gurih, tentu saja karena ada kelapa didalamnya.

Pernah lihat ada foto dengan tulisan yang jadi viral, banyak dishare di sosial media: “Jika kalian pernah makan kue ini maka masa masa kanak-kanak mu bahagia”
Saya belum pernah melihat tulisan semacam itu nempel di foto kue rangin atau gerobak penjualnya.
Meski sedari kanak-kanak saya sudah njajan kue ini didepan sekolah semasa SD.

Mungkin karena penjual kue ini masih mudah ditemui hingga sekarang. Meski tidak sebanyak dulu. Dari dulu bentuk kue dan rasanya juga tidak banyak berubah. Masih berbentuk kotak-kotak, yang dihasilkan dari loyang pembuatnya. Hanya saja sedikit ada beda dengan yang dulu, penjualnya menaburkan gula halus diatasnya. Dulu hanya gula pasir saja tanpa dihaluskan.

Saya suka risih dengan orang yang mengagungkan bahwa masa kanak-kanaknya, terutama yang njamani tahun 90 an, lebih bahagia dibandingkan dengan anak-anak jaman sekarang. Mereka yang kanak-kanak dulu, sekarang juga sudah dewasa bahkan boleh dibilang tua. Jika mereka merasa bahagia dulunya, kenapa kebahagian itu tidak mereka lungsurkan ke adik atau anak-anak nya sekarang?
Jika mereka tidak mampu lakukan itu, sesungguhnya mereka gagal. Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak bahagia karena sepanjang hidupnya hanya bisa mengingat-ingat masa lalu.

Tahun 80 dan 90 an adalah masa kejayaan orde baru, bagaimana mereka bisa menilai bahwa masa itu menyenangkan? Di tahun-tahun itu anak-anak mulai dari sekolah dasar sampai SMA berkali-kali diwajibkan menonton bioskop yang filmnya belum tentu ingin kita tonton.
Waktu SD, sekolah saya mewajibkan menonton film “Buah Hati Mama”, bersama-sama satu sekolahan. Sebuah film yang dibintangi Alm. Ryan Hidayat waktu masih kecil. Film nya bagus, tetapi memaksa anak-anak dan tentu saja memaksa orang tuanya membeli karcis film buat anak-anaknya bukanlah  tindakan yang bijaksana.
Lalu kemudian diwajibkan menonton Serangan Fajar, Janur Kuning, Operasi Trisula dan yang paling fenomenal adalah film Pembalasan G30SPKI. Film-film yang disebut berurutan ini sudah barang tentu bagian dari upaya cuci otak orde baru terhadap warga negaranya sejak masa kanak-kanak.

Film yang saya sebut terakhir diatas berkali-kali saya tonton di bioskop karena kewajiban. Di SD kelas 3 catur wulan ke 2, saya diwajibkan nonton oleh sekolah. Ketika catur wulan ke 3 saya pindah sekolah, saya diwajibkan menontonnya lagi oleh sekolah yang baru. Kemudian ada edaran desa yang mewajibkan seluruh warga desa menonton film ini, saya menontonnya lagi.

Pelajaran di sekolah juga sangat membosankan. Bagaimana tidak, jika pelajaran Sejarah, PMP dan PSPB yang menghabiskan sekira 12 jam dalam seminggu isinya relatif sama. Anda yang berada di sekolah di tahun 90 an tentu tahu apa yang saya maksudkan. Entah, sekolah sekarang masih seperti itu ataukah tidak.

Guru-guru mengajarnya hampir seragam semuanya. Guru adalah orang-orang yang paling pintar, yang paling tahu dibandingkan murid-muridnya. Guru bak bejana yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan murid adalah gelas kosong yang tidak berisi apa-apa. Paulo freire menyebut metode pendidikan ini, Ia model pendidikan gaya bank. Yaitu model pendidikan yang menumpulkan kreativitas karena mematikan daya kritis dan nalar para murid-muridnya.

Hari-hari ini jika membaca time line akun sosial media, sering saya temui betapa hasil pendidikan model orde baru yang menumpulkan daya nalar dan kritis manusianya masih terasa hingga sekarang. Orang mudah sekali memberi stigma, menunjuk bahwa ini itu sesat, terampil menunjuk yang sana atau sini sebagai penjahat.

Komunis, Liberalis, Zionis, Atheis itu berbeda-beda makna. Bahkan diantaranya saling bertolak belakang. Tetapi bagi orang-orang nir nalar semuanya bisa dianggap sama. Karena semuanya berasal dari kebencian. Sebab apa mereka benci? Sebab mereka tidak pernah kritis.
Karena kritis butuh sekali beberapa referensi, bukan hanya satu arus saja. Dan mereka tidak terbiasa mencari referensi alternatif sendiri.
Mereka terbiasa diisi bukan mencari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s