Lupa Jika Punya Otak Sendiri

Sebuah pesan masuk di gawai saya. Ternyata dari sebuah grup di WA, saya lirik sebentar, karena ada sesuatu yang “janggal”, maka saya baca lengkapnya. Pesannya cukup panjang, dan entah karena sedang longgar maka saya baca, biasanya sih tidak. Isinya tentang efek buruk terhadap anak yang diajarkan membaca dan berhitung, atau istilahnya calistung, sejak dini. Ini cerita lama, sekira 5 yahun yang lalu diskursus ini pernah saya baca di milis parenting. Entah si pemosting baru tahu tentang ini atau sudah tahu lama dan teringat lagi lalu berpikir bahwa hal seperti ini sangat patut dibagikan dalam sebuah grup ngobrol.Lupa Jika Punya Otak

Bantahan tentang bahaya anak yang diajarkan Calistung juga sudah beredar dimana-mana. Argumentasi nya sama-sama ndakik ndakik dan warrrbiyasa mengagumkan bagi mereka yang terkagum-kagum. Ada yang berteori, sepatutnya anak dijarkan membaca sejak balita, sebagaimana orang-orang di negara maju mengajarkan hal seperti itu kepada anaknya. Jadi ukuran keberhasilan manusia adalah produk negara maju.

Maka kemudian dua kubu tersebut berdebat tentang apa yang seharusnya anak-anak mereka terima dan apa yang sepatutnya tidak dilakukan terhadap anak. Dan mungkin tidak pernah bertanya kepada anak mereka sendiri, apakah mereka membutuhkan itu atau tidak. “Ya anak kan belum bisa menentukan pendapatnya, maka fungsi orang tua lah yang sepatutnya memutuskan apa yang terbaik buat anak”.
Kok saya percaya, jika orang-orang seperti mereka akan menjawab kurang lebih seperti itu.

Mereka adalah orang-orang yang begitu percaya bahwa anak-anak mereka bisa disetel sedemikian rupa sehingga bisa menjadi apa yang mereka harapkan, kelak.

Sesaaat setelah membaca pesan di WA, saya jadi ingat kakak saya yang montir balap motor. Ingat dia,sewaktu menyetel motor buat balapan. Baik balap liar maupun resmi.

Ketika setting pengapian, alur bahan bakar diatur sedemikian rupa, kompresi tinggi dan mesin sudah siap untuk membuat motor melejit seperti kilat ternyata setelan gigi belum pas. Setelan rasio gigi sudah pas, setting roda, gir depan dan belakang belum juga pas. Saat semuanya sudah pas dan siap tanding, waktu dicoba juga sudah sesuai dengan yang diharapkan, eh ternyata pada saat tanding loyo. Karena motor dicoba pada saat malam, sedang balapan siang hari yang panas. Banyak sekali faktornya.
Itu, buat tim balap kantong tipis yang semua budget harus menyesuaikan dengan isi kantong yang pas-pasan. Lalu bagaimana dengan tim balapan sekelas Moto GP ? Sama juga. Seringkali saya baca di media, teknisi balap mereka mengeluh tentang settingan mesin, ban, cuaca dan lain-lain.

Lha wong mesin yang serba pasti, yang pasti nurut mau digimanakan oleh yang memegangnya.
Acapkali mletho, tidak sama dengan yang diharapkan oleh pembuat atau tukang setelnya kok, apalagi Manusia !

Ngomong – ngomong, kok saya jadi penasaran bagaimana Bung Karno, Tan Malaka, Bung Hatta, Gus Dur dan orang-orang hebat itu di masa kecilnya. Apakah orang tua mereka juga berdebat dengan kawan-kawan nya sebaiknya anak-anak mereka diajarkan membaca sejak usia dini atau tidak ya?
Saya membaca Biografi Gus Dur, tetapi saya juga kurang yakin apakah kisah ini saya baca di buku itu atau tidak. Bahwa Gus Dur begitu nakal di masa kecilnya, tidak pernah mau belajar pelajaran sekolah dan suka main bola. Tetapi suka membaca. Sering membaca buku di atas pohon dan suatu kali pernah jatuh dari atas pohon hingga kakinya retak.

KH Wahid Hasyim tidak terlalu dekat dengan anak-anak nya karena sibuk mengurus urusan Negara yang baru merdeka saat itu, sehingga suatu waktu ingat bahwa beliau perlu dekat dengan anak-anaknya. Maka KH Wahid Hasyim kemudian sering membawa Gus Dur dalam beberapa kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaanya.
KH Wahid Hasyim mengajarkan Gus Dur bukan dengan teori tetapi langsung dengan praktek. Tentang bagaimana seorang Kyai cum negarawan bekerja. Maka Gus Dur pun secara tak langsung belajar dari situ dan menjadi Negarawan hebat bertahun kemudian saat dewasa, selewat masa revolusi dan kemerdekaan.

“Lelaki hebat itu lebih banyak mengurus hal-hal besar, untuk kemaslahatan masyarakat dan negaranya daripada tetek bengek urusan keluarganya”. Seingat saya, Sudjiwotedjo yang menuliskan kata-kata seperti ini di twitter beberapa tahun lalu. “Urusan anak adalah urusan alam, biarlah alam yang mengajar dan membesarkannya”begitu kurang lebih sambungannya.

Di lain hal, saya juga akhirnya mengingat-ngingat kawan-kawan saya sendiri. Salah satunya, yang Doktor di usia 30 tahun dan menjadi petinggi sebuah universitas. Yang waktu SMP-SMA, sepulang sekolah menjadi penjaga warung milik tetangganya. Kalo liburan sering ikut paman dia jadi kuli bangunan di proyek-proyek. Saya belum nanya apakah orang tuanya dulu juga berdebat soal perlu belajar membaca di usia dini atau tidak.
Sepertinya sih tidak.

Teman saya yang lain, yang waktu SMP selalu tertidur di kelas saat pelajaran berlangsung. Karena sebelum subuh sudah harus membantu Ibu nya mempersiapkan jualan nasi pecel. Dan saat SMA, berjuang menghidupi dirinya dengan berjualan apa saja, termasuk menjual Kaset Video Bokep. Sekarang jadi pengusaha, tokonya adalah pemegang distribusi penjualan beberapa merk elektronik di beberapa wilayah.

Sedang kawan-kawan yang lain. Yang waktunya habis untuk ikut kursus sana sini. Selalu “dipaksa” masuk sekolah favorit dan jadi bintang kelas. Yang tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan teman-temanya, hmmmmm… Banyak diantara mereka, bahkan sudah sedewasa itu, untuk tidak dikatakan tua, sebagian biaya hidup mereka masih diongkosi dari kiriman orang tuanya. Tentu saja istri sekarang dan pekerjaan yang didapat juga hasil dicarikan orang tuanya.

Tentu saja yang diatas itu adalah sekedar contoh-contoh dan tidak bisa digeneralisir.

Fenomena sekarang, mungkin sebenarnya sejak dulu yang berbeda hanya sekarang ada internet, betapa kelas menengah begitu antusias dalam hal parenting.
Berdasar seminar atau referensi yang mereka baca, maka mereka bisa menciptakan atau setidaknya mengubah anak sedemikian rupa sehingga bisa membuat anak menjadi hebat seperti yang mereka maui. Bahwa nilai-nilai kasih sayang yang mereka berikan, haruslah punya dasar. Dan dasarnya adalah buku-buku, website atau referensi lainnya dari para ahli.
Semuanya serba artificial dan tidak alami. Bukan dari hasil pikir dan perenungannya sendiri.
Hidup mereka bahagia, meski itu seolah-olah, jika seseorang yang dianggap ahli sudah memberikan dasar dan dalil-dalilnya.
Hingga kemudian Ia lupa, kalo di kepalanya masih ada Otak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s