Fundamentalis Lidah dan Keyakinan yang Bebal

Teman saya mengeluh, karena tidak banyak makanan yang bisa di nikmati di lidahnya saat sedang disebuah kota. Alih-alih, menikmati cecapan dengan nuansa yang berbeda Ia memilih untuk makan dengan hanya nasi dengan telur goreng atau ayam goreng saja. Setap hari selama beberapa bulan.
fundamentalis lidah
“Disini semua masakanya bersantan dan bumbu-bumbunya itu lho. Saya nggak bisa menelan makanan seperti itu”. Begitu ia berdalih soal ketidaksukaanya dengan masakan bersantan. Bumbu-bumbu yang ia maksudkan adalah rempah-rempah yang ada didalam sebuah masakan. Dan orang seperti ini ternyata beberapa kali saya temui. Tidak cuma satu. Meski dengan berbagai alasan pembenar.

Ada juga yang dengan gagah bilang; “makanan di Malang itu manis-manis semua, saya tidak bisa menikmati makanan seperti itu. Berbeda dengan masakan di tempat saya yang pedas dan gurih”.
Saat saya tanya, dimana saja kamu makan dan berapa hari tinggal di Malang. Dia menjawab 5 hari, dan Ia makan hanya di hotel dan rumah makan sekitar hotel tempat Ia tinggal. Jadi, hanya berdasar 2 atau 3 tempat penyedia makanan, sudah dapat menyimpulkan keseluruhan rasa masakan dari sebuah tempat.
Hebat!

Orang-orang Fundamentalis lidah, yang hanya punya satu kebenaran cecapan rasa yaitu rasa yang dijejalkan ke mulutnya sedari kecil, memenuhi ingatan perjalanan saya dibeberapa tempat. Saya juga pernah melihat seorang kolega, yang menuangkan kecap sebanyak-banyaknya pada semangkok Sup Ikan Laut sebab tak tahan dengan aroma amis yang menguar. Padahal itulah yang memberi sensasi rasa dari sebuah masakan olahan laut.

Dua keping kebahagian dalam hidup yang nyata bisa kita dapatkan adalah, bercinta dan makan masakan Padang. Yang pertama, enaknya tentu saja tidak usah diceritakan. Sedang yang kedua, harusnya juga tidak usah diceritakan lagi bagaimana sedapnya. Maka, jika orang tidak bisa menikmati masakan padang, karena lidahnya tidak bisa menerima, adalah tergolong orang yang merugi dalam hidupnya. Dan itu ada.

Orang-orang Fundamentalis lidah, barangkali tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya bagaimana lidah yang Ia miliki bisa bertoleransi dengan cecapan rasa dari daerah atau negara yang berbeda. Mereka cenderung mengabaikan kebenaran kelezatan masakan lain dan merasa lezat itu hanya ada pada mindset rasa yang sudah tertanam sejak kanak.

Kebenaran adalah subyektifitas. Masing-masing pihak punya sesuatu yang ia yakini kebenaranya, dan kemudian menjadi masalah saat kebenaran itu dipaksakan sebagai obyektifitas bersama. Dan yang lebih ngawur adalah kebenaran subyektif itu dipaksakan untuk diperlawankan dengan keyakinan kolektif pada pihak yang berbeda.

Jika soal rasa dan cecap mencecap makanan, adalah persoalan individu. Maka yang mengerikan adalah hal-hal yang berelasi dengan Agama, yaitu timbulnya usaha untuk pemaksaan paham kebenaran dari sebuah golongan kepada pihak lain yang berbeda. Maka yang timbul adalah Intoleransi, pemaksaan kehendak dan hilangnya penghargaan terhadap manusia lain.

Berdalih atas pemurnian akidah, menjauhkan kesesatan dan amar makruf nahi mungkar, mereka menyalakan klem sesat, yang ujung-ujungnya adalah nafsu untuk menghabisi. Lalu agama yang seharusnya adalah representasi kasih dan sayang Tuhan di bumi, menjadi hilang maknanya.

Banyak orang hilang akal. Menyerahkan akal sehat kepada orang-orang yang menurut mereka punya hak untuk mendefinisikan uraian Tuhan di muka bumi. Saya tidak habis mengerti dengan orang-orang seperti ini. Bagaimana mungkin mereka percaya kepada seseorang, yang menurut mereka adalah ahli agama, tetapi setiap hari menggelorakan api permusuhan dan menyebarkan kebencian.

Sulit bagi saya menerima, bagaimana orang bisa menyerahkan akalnya kepada orang-orang yang penuh amarah angkara murka untuk menafsirkan ayat-ayat Tuhan.

Orang-orang absurd, yang dipercaya akan membawa kepada kehidupan damai berlandaskan agama. Kedamaian seperti apa yang akan mereka hadirkan, jika penuh kebencian dan nafsu ingin menghabisi orang lain yang beda keyakinan dengannya?

“Golongan itu sesat. Mereka itu kejam dan barbar. Kalau tidak kita habisi sekarang maka kita akan dihabisi mereka” saya membaca argumentasi mereka di banyak tempat adalah seperti itu. Jadi, mereka sendiri sebenarnya juga tidak yakin dengan agamanya sendiri. Sehingga memberi tafsir sendiri, yang secara substantif berbeda dengan apa yang agama ajarkan kepadanya. Yaitu tentang kasih sayang dan penghormatan kepada keyakinan orang lain.

Saya rasa Fundamentalis lidah itu patut dikasihani sedang fundamentalis agama yang menjadikan agama penuh kebencian dan rasa amarah patut kita doakan. Biar Tuhan yang menyembuhkan mereka. Dan jika mereka lakukan aksi kekerasan maka Hukum negara wajib menindaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s