Tidak Bisa Lagi Asal Njeplak

Beberapa waktu lalu, Ia membeli catur kecil dari penjual mainan keliling yang mangkal depan sekolahnya. Bidaknya kecil-kecil, juga papan caturnya, meski pada bagian bawah tiap bidak ada magnet-magnet kecil supaya lengket pada papan yang terbuat dari seng. Pulang sekolah mengajak saya bermain dengan catur mainanya itu.
bermain-catur-dengan-anak
Bidak yang kecil menyulitkan untuk bermain, apalagi beberapa magnetnya sudah hilang, sehingga mudah roboh dan berantakan. Membuat saya kesulitan untuk menjelaskan bagaimana memainkan alat bermain yang Ia beli dari uang saku sekolahnya itu. Karena tidak mengasyikan, maka magnet-magnet tersebut dicongkelnya keluar, dan hanya magnet-magnet tersebut yang Ia mainkan. Saya pun berjanji kepadanya, kalau nanti kita beli catur yang besar supaya asyik kala dimainkan bersama.

Libur tahun baru kemarin, janji saya itu ditagihnya. Maka kami berdua pun berkeliling mencari toko yang menjual alat permainan itu. Dan, sialnya banyak toko-toko yang tutup. Beruntung, ada satu toko olah raga yang masih buka. Meski sedikit kecewa karena kualitas catur kayu itu begitu buruknya. Tapi apa boleh buat, daripada bermasalah dengan si Bocah, mendingan berdamai dengan keinginan saya pribadi.

Di rumah, awalnya saya hanya ingin mengajak bermain halma atau main dam-daman, istilah lainya adalah bas-basan. Sebab tidak begitu rumit dimainkan sehingga mudah untuk dijelaskan. Tetapi, Istri saya menyarakan sebaiknya diajarkan saja main catur yang sebenarnya.
Maka saya jelaskan pelan-pelan tentang catur kepada si bocah, tentang nama-nama masing bidak dan bagaimana cara jalannya juga aturan-aturan umum yang saya mengerti tentang permainan catur.

Perdebatan sering terjadi disini. “Kengeyelanya” adalah tentang kenapa cara jalan tiap bidak itu diatur-atur. Kenapa, tidak bisa semaunya sendiri. Juga kenapa bisa saling makan dan lain-lainnya. Semua harus dijelaskan, sampai penjelasan itu bisa Ia terima dengan logika berpikirnya.

Cara jalan Kuda, adalah hal yang paling absurd dan agak rumit buat Ia pahami. Bidak yang lain hanya bisa ber jalan jika tidak ada penghalang sedangkan kuda punya privilege yang berbeda. Ia bisa meloncat kesana kemari dengan model langkah yang unik. Saya menjelaskan kalo jalan kuda seperti huruf “L” besar. Awalnya Ia kesulitan memahaminya, karena huruf “L” kuda bisa horizontal, vertical juga terbalik. Maka kemudian, Ia pun menemukan pemahaman sendiri, jika langkah kuda itu katanya seperti bentuk Pistol.
Saya pun tersenyum…

Petang ini, ketika sedang makan di dapur, saya dipanggil untuk “menghadapnya”. Dari teriakanya, terdengar sebuah ajakan untuk main catur. Setelah menyelesaikan makan malam segera saya menghampirinya.

Bidak catur sudah tertata di atas papan dan beberapa bidak sudah dijalankan. Di belakangnya ada laptop. Tterlihat sebuah video youtube tentang catur sedang dibuka. Saya cek pada bagian keyword search youtube, tertulis : “cara jalan kuda catur”

Lagi-lagi saya tersenyum, hanya bedanya yang ini dilanjutkan dengan meringis dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Saya cuma mampu bergumam dalam hati; sepertinya otak saya bakal lebih keras untuk menjelaskan setiap hal kepadanya. Sebab kini ada media yang bisa membuktikan apakah yang saya katakan logis dan ada dasarnya atau asal bunyi saja. Maka sekarang Tidak Bisa Lagi Asal Njeplak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s