Tidak Ada Gunanya

Wanita itu taksiran saya berusia sekitar 50 tahunan. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Kulit mukanya hitam, mungkin karena terlalu sering terpapar matahari, meski kerut wajah belum terlihat banyak. Berjalan di pinggiran jalan aspal yang menghubungkan antar desa, sewaktu saya berhenti mengisi bensin di sebuah warung bensin eceran.
Sembari berjalan, tangannya keatas memegang tampah yang tersunggi di atas kepala.
Tak-Ada-Guna
Ia menjual kacang dan ketela rebus. Juga pepaya yang dipotong kecil dan masing-masing sudah dimasukkan dalam plastik transparan. Saya menghentikan langkahnya, lalu mengulurkan uang.
“Beli apa ?”
“Kacang dan Ketela rebus”
“Ini semua ?” tanganya memegang uang yang baru saja saya ulurkan.
Saya menganguk.
Kemudian dia terlihat bingung. Sambil mencari-cari sesuatu.
“Maaf, saya tidak ada kresek”
Saya ingin mengatakan, tidak perlu tas kresek. Namun, tentu saja saya akan kesulitan membawanya. Lalu saya teringat ada tas kresek di dalam jok motor. Kemudian saya serahkan padanya.
Beberapa potong ketela dan kacang rebus dimasukkan kedalam tas kresek itu.
Lumayan banyak, mungkin sepertiga dari dagangan yang disungginya.

Terpikir, jika ketemu lagi dengannya akan saya berikan simpanan tas kresek yang ada di rumah.
Di rumah ada banyak tas kresek yang sudah dilipat kecil-kecil oleh Istri saya. Kresek bekas belanjaan kami. Sebagian sudah dimanfaatkan untuk kantong sampah, tapi masih tersisa banyak. Diantaranya bahkan sudah rusak, karena sudah cukup lama disimpan.

Berselang beberapa bulan, di suatu petang yang sudah hampir habis berganti malam. Saat melintas di jalan yang sama untuk perjalanan pulang, saya berpapasan denganya.
Seperti biasa, saya lupa.
Tidak hanya dengan keinginan untuk memberikan tas kresek, juga lupa tentang Ibu penjual kacang dan ketela rebus itu.
Sesampai di rumah, ada sesuatu mengganjal di benak saya. Dan lalu teringat dengan janji tas kresek yang meski tidak terucap tetapi sudah diniatkan.

Niat baik hanyalah angan-angan, jika bukan dilaksanakan.
Seperti buku dengan sampul bagus namun kosong isinya. Tidak ditulis apapun.
Tidak ada gunanya…..
Tidak ada gunanya!

Internet FTTH dan Kemungkinan yang Terjadi

Kabar yang menggembirakan buat saya setelah tau ada beberapa provider Internet dengan jaringan fiber optik menuju rumah, Fiber to The Home (FTTH), masuk ke Kota Malang. Sekarang, orang bisa memilih mau pake provider yang mana berdasarkan kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Bukan hanya di “monopoli” satu otoritas tunggal, yang sebagain besar sahamnya dimiliki pemerintah itu tuh, yang selama ini pelayanannya………………
Ya begitulah…

Meski belum merata dengan baik, saya rasa para provider itu akan terus berbenah dan bisa menjangkau keseluruhan pemukiman, yang ada di Malang. Bila semakin banyak rumah yang teraliri internet dengan kecepatan yang bagus, maka saya rasa ini akan mengubah banyak hal.

Menurut data Tempo, 62 % pengakses Internet di Indonesia mengakses internet menggunakan perangkat Smartphone. Dan penggunaan terbanyak adalah untuk mengakses situs sosial media dan aplikasi percakapan / chatting. Selebihnya adalah masuk ke situs e-commerce atau portal berita.

Meski akses ke sosial media dan aplikasi chatting lebih banyak digunakan dibandingkan ke situs belanja, apakah minat orang Indonesia untuk belanja online itu kecil?
Ternyata tidak! Kebanyakan mereka, mengetahui suatu produk melalui sosial media lalu lanjut dan tanya ini itu, ngobrol sana sini dengan penjualnya melalui aplikasi chatting, baru kemudian membeli barang yang dikehendakinya.

Tergambar dalam pikiran saya, ada beberapa hal yang sepertinya akan menurun atau bahkan bisa jadi hilang, jika internet dengan kecepatan tinggi ini sudah merata dan menyebar di tiap rumah. Yaitu antara lain :

Lenyapnya Penjual CD/DVD Bajakan

Sebenarnya sih, kalau mau nyari, sebagian besar apa yang dijual oleh penjual DVD bajakan itu ada di Internet. Ada yang benar-benar gratis dan ada yang harus bayar. Tetapi ada juga situs yang menyediakan versi berbayar dengan cara gratis alias versi cracking.
Cuma, meskipun tau dan bisa nyarinya, orang males untuk mengunduhnya. Karena apa ? Kalo tidak karena biaya Internetnya yang lebih mahal daripada beli CD/DVD bajakan atau internetnya yang lemot. Selebihnya adalah orang-orang yang belum mengerti bagaimana mencari dan mengunduh materi bajakan itu di internet.

Jika internet dengan kecepatan tinggi sudah murah, maka untuk apa lagi membeli versi bajakan. Kebanyakan membeli CD/DVD bajakan juga bikin repot nantinya. Bingung menyimpannya. Dibuang sayang, dikoleksi kok bajakan disimpan terlalu lama makan tempat.
Mending akses dan mainkan langsung dari situsnya atau unduh, lalu simpan di penyimpanan data, dan hapus jika sudah bosan.

Buat pekerja kreatif seperti pencipta lagu dan musisi atau penyanyinya, juga pembuat film. Alih-alih kalian merutuki kegelapan dengan mengutuk pembajakan mendingan pikirkan dari sekarang bagaimana cara mendapatkan uang dari hasil karya kalian melalui Internet.

Menurunnya Omset Penjualan Offline

Memang, tidak semua penjualan offline akan merosot. Tetapi banyak diantaranya akan menurun penjulannya. Sekarang pun sebenarnya sudah terasa. Penjualan produk fashion di toko-toko offline yang ada di mall dan departement store menurun cukup drastis, sejak online shop begitu banyaknya di internet.

Tetapi saya rasa kedepanya, tidak cuma penjualan jilbab, pakaian, tas atau sepatu saja yang terdampak oleh keberadaan online shop. Namun juga banyak produk lainnya. Seperti elektronik, perlengkapan bayi, komputer berikut aksesoriesnya dan masih banyak lainnya.

Selama ini, meski pengguna internet juga sudah lumayan banyak, kenapa pembeli masih antusias untuk membeli barang secara fisik datang ke toko-toko tersebut?
Karena banyak faktor.

Diantaranya ; penjual berada di lokasi yang berbeda dengan pembelinya. Maka hal ini mempengaruhi :
Pertama; barang harus dikirim, otomatis akan dikenakan biaya kirim. Belum lagi pengirimanya memerlukan waktu.
Kedua, masih was-was dengan penipuan online.
Ketiga, takut barangnya cacat atau terjadi kerusakan dalam pengiman.

Jika pedagang-pedagang online besar, membuka cabang atau setidaknya menempatkan gudang di kota-kota yang banyak peminatnya. Atau jika produsen atau setidaknya distributor barang, sudah bekerja sama dengan pemilik toko-toko yang ada di suatu kota, dan membuat mekanisme pembayaran yang mudah, maka ketiga masalah tersebut akan lebih mudah terselesaikan.

Sebenarnya sudah banyak pemilik toko offline yang juga melayani penjualan secara online. Namun, banyak diantaranya yang tidak rajin melakukan update barang. Atau tidak serius membenahi penjualanya secara online dengan baik.

Sebaiknya untuk toko-toko seperti ini berhati-hatilah. Senjakala kalian akan datang. MEA sudah masuk di pintu depan kita. Retail retail besar yang punya jaringan distribusi dimana-mana sedang berbenah.

Bayangkan jika mereka sudah membuat sistem penjualan online tetapi menghilangkan hambatan-hambatan online yang selama ini ada?
Bagaimana mislanya, bila jaringan retail –retail besar yang cabangnya ada dimana-mana, sudah go online secara “kaffah” dan menyederhanakan seluruh prosesnya sehingga orang bisa mudah membeli barang yang mereka jual tanpa harus beranjak dari rumah dan pergi ke toko mereka, sedangkan barangnya bisa didapatkan saat itu juga dengan harga yang sama ?

Maka ingat kata Bill Gates ini : “if your bussines not on the internet, then your bussines will be out of bussiness”

Karena itu, benahilah toko onlinemu sekarang juga. Kalau tidak mampu membenahinya sendiri, bisa menghubungi saya🙂

Pemilik usaha Jasa yang punya lapak online akan berjaya

Sekarang ini, sudah jamak bagi banyak orang jika Ia membutuhkan jasa sesuatu akan mencarinya melalui google. Katakanlah ia butuh jasa penyedotan WC, maka ia akan google dengan kata kunci tersebut dan menambahkan nama kota di belakangnya.

Lalu bagaimana dengan jasa sedot wc yang tidak punya lapak online, barangkali sekarang masih tertolong karena masih punya langganan. Tetapi jika pelangganya itu berhenti menggunakan jasanya, maka akan banyak calon pelangganya pergi karena tidak tahu bagaimana cara menghubunginya dan memilih untuk menggunakan jasa sedot WC lainnya yang sudah terdeteksi oleh mesin pencari seperti Google atau Bing.

Kalau anda punya usaha yang berkaitan dengan penjualan jasa, maka anda harus punya lapak di online yang bisa terdeteksi oleh mesin pencari, dari sekarang!!
Ya sekarang. Jangan pernah menungu nanti atau besok.
Keburu calon pengguna jasa akan pergi dan memilih pemilik jasa yang sudah lebih dulu punya lapak di internet.

Jika tidak bisa onlinekan usaha anda, hubungi saya sekarang…🙂

Sebuah Gagasan

Untuk usaha jasa ini, kok saya berpikir nantinya bisa bakal lebih berkembang lagi model pemasaranya di internet. Selama ini kebanyakan mereka memasarkan jasa mereka di situs forum, market place atau membuat website sendiri. Dan kebanyakan calon pengguna jasa tersebut, setelah mendapatkan sekilas gambaran tentang profil pemberi jasa, lalu melakukan konfirmasi melalui telepon atau sarana komunikasi lainya. Dan proses tawar menawar sampai proses kesepakatan dilakukan melalui telpon atau komunikasi lain. Jadi, lapak online mereka hanya sebatas sebagai display profile dan keterangan identitas saja.

Saya membayangkan begini. Ada sebuah tempat yang bisa memfasilitasi bertemunya pemberi dan pengguna jasa, untuk semua jasa khususnya jasa fisik.

Misalnya saya membutuhkan jasa perbaikan pagar., kemudian masuk ke sebuah situs. Saya bisa melihat siapa saja yang berkompeten atas jasa yang saya butuhkan, lokasi mereka ada dimana dan seberapa jauh (tempat) yang dapat mereka jangkau untuk kerjakan serta kisaran harga yang mereka tawarkan.

Lalu saya menawarkan kebutuhan saya, menjelaskan detail pekerjaan yang dibutuhkan kemudian minta pemberi jasa tersebut melakukan bid atas tawaran pekerjaan tersebut.
Ya semacam situs Freelancer, tetapi ini untuk pekerjaan fisik.
Bisa nggak ya ini diterapkan ? pertanyaan ini saya ajukan sebagai bahan diskusi …

Pada pijakan pertama kakiku diatas pasir, terdengar seperti…

Pada pijakan pertama kakiku diatas pasir, terdengar seperti orang berbisik dari belakang:
“No sun will shine in my day today
The high yellow moon won’t come out to play”

“Ah, kata siapa?” sembari kepalaku menengok ke belakang, tak ada siapa-siapa.
Hanya penjual minuman dengan speaker hitam bertuliskan JBL di atas mejanya.
Ketika aku tengok, penjual itu sedang meringis.
Tentu saja bukan denganku.

Ada pembeli di Cafe kecilnya, dan ia sedang ngobrol denganya.
Seorang cewek cantik dengan bikini. Tinggi semampai.
Kulitnya putih, batinku.
Jelas saja, lha wong Bule!!.

Lalu, laki-laki penjual minuman bewajah melayu berkulit hitam dengan tato dimana-mana itu menyodorkan sebotol bir kepadanya.
Sambil tersenyum.
Tentu saja.
Ada maksudnya ?
Ndak tau.. tanyakan saja padanya.

Where is the love to be found?
Won’t someone tell me?
Cause my life must be somewhere to be found

Barangkali itulah yang membawa bule cantik tinggi semampai datang kemari.
Membawa rentetan cerita dan kisah hidupnya kesini.
Mungkin juga kegagalanya.
Atau tumpukan kesuksesan hidup yang ternyata membosankan.

No chains around my feet,
But I’m not free, oh-ooh!
I know I am bound here in captivity

Begitu si cantik itu sampaikan kepada teman barunya.
“saya benci dikekang keadaaan” keluhnya.

Dan Matahari pun pelan-pelan pulang ke sangkarnya.
Langit berubah gelap.

#bali #sunset #kuta

Jalan mulus tapi buntu. Kalau sedang menulusuri jalanan di…

Jalan mulus tapi buntu.

Kalau sedang menulusuri jalanan di kabupaten badung di bagian utara atau barat, saya sering menemui hal ini : “Tiba-tiba berhadapan dengan jalan buntu!”

Bisa mentok ke rumah penduduk, berujung ke sawah, tanah kosong atau sebuah Pura.

Jalan-jalan di Kab. Badung saat ini, memang sebagian besar bagus dan mulus. Hot Mix! Bukan cuma jalan utama saja, tetapi sampai ke gang gang kecil dan jalan kecil yang dulunya hanya akses ke sawah.

Sekarang, akses jadi lancar. Tidak menyiksa kendaraan, juga membuat nyaman pengendara atau penumpangnya.

Tapi, efeknya adalah pembangunan perumahan dan villa menjadi begitu massif. Ada banyak villa baru yang megah2 yang baru selesai dibangun. Belum lagi perumahan-perumahan yang baru dibuka.

Jika semua Villa yang dijual itu menawarkan “paddy field view” sedang sawahnya sudah habis, maka tamu yang menghuni villa tersebut akan mendapatkan apa ya ? Cerita ???

Cobalah jalan-jalan ke daerah munggu, tangeb, buduk, tombakbuyuh dan sekitarnya. Selagi sawahnya masih ada. Belum habis dimakan villa dan rumah.

Villa2 nya keren-keren kok, desain rumah modern yang paling kekinian.
Cuma, seingat saya dulu ada aturan jika semua rumah yang dibangun harus bercirikan arsitektur Bali. Jika tidak, IMB tidak keluar. Apa aturan itu sudah tidak berlaku lagi ya?