Kopi Sospeso ala Indonesia

Kopi Sospeso
Di Napoli, ada kebiasaan unik ketika orang minum kopi di sebuah cafe. Yaitu orang akan membayar 2 gelas kopi untuk 1 gelas kopi yang telah diminumnya. Kelebihan bayar 1 gelas tersebut adalah sebagai bentuk derma dari seseorang kepada siapapun yang membutuhkan asupan kafeine tetapi tidak punya cukup uang untuk membayarnya. Seorang barista akan menyimpan derma tersebut dan mencatatnya. Dan ketika ada orang miskin yang datang ke kafe, menanyakan apakah ada kopi gratis untuknya, maka barista akan mengeluarkan derma tersebut kepadanya. Itulah yang dinamakan kopi sospeso.
Kopi SospesoDi indonesia tidak ada bentuk derma yang persis sama seperti itu, meski tradisi kebaikan dalam bentuk lain berlimpah ruah adanya di pelosok nusantara.

Sore itu saya minum kopi di sebuah warung yang cukup sederhana. Di sebuah pinggir jalan, akses menuju perumahan yang letaknya di kaki Gunung Arjuno.
Ada 2 orang, masing-masing bersepeda angin datang dari arah selatan membawa pintu dari kayu, diletakkan menggantung pada sisi kiri sepeda. Wajahnya terlihat kelelahan, sebab jalanan yang mereka harus lalui terus menanjak sejak dari pertigaan jalan besar, dan cukup terjal.

Pemilik warung melambai kepada 2 orang itu.
“mriki pak, mampir!” begitu sapanya.
Kedua orang itu tersenyum, dan spontan berkata; “nggih, maturnuwun”.
Ini semacam template jawaban orang jawa, yang artinya tidak mau.

Kemudian pemilik warung, mengulang lagi. “Monggo pak, mriki mampir. Leren-leren rumiyin. Pun ta, mboten usah mbayar”.
Sejenak 2 orang penjual daun pintu kayu itu melambatkan laju sepedanya, terlihat bimbang.

Pemilik warung berdiri lalu menghampiri 2 orang tersebut. “Pun, leren riyin. Sepeda e sampeyan, sampeyan parkir mriko. Sing lemahe latar, cik mboten ndlosor”
Dan kedua penjual itu menurutinya. Setelah sepeda diparkir dengan aman, mereka menuju bangku yang beranda di samping warung.

“Kopi nopo es teh pak?” pemilik warung membuka obrolan kepada 2 orang itu.
“Nopo mawon pak, sak kerso njenengan” salah satu penjual pintu kayu itu menjawab sembari tersenyum.
“Ow nggih pun” pemilik warung menjawab dan kemudian masuk ke dalam bilik.

Tak lama kemudian menyuguhkan air putih dan sepiring gorengan.

“Monggo sampeyan unjuk, nggo ngilangi ngelak. Kopine sek nunggu banyu umup. Kaleh niku gorengane, njenengan incipi.”

“Nggih..” jawab mereka bersamaan.

Pemilik warung masuk lagi, sebentar kemudian membawa 1 nampan berisi 2 gelas kopi. Ditaruhnya di meja, lalu disorongkan mendekat pada 2 lelaki itu.

Kemudian masuk lagi, dan keluar membawa 2 piring nasi. Kembali ditaruh mendekat 2 orang itu, sembari bilang; “monggo, maem riyin”
2 orang penjual daun pintu tersebut tersenyum, lalu mengangguk dan sepertinya kehilangan kata-kata untuk menolaknya.

Pemilik warung meninggalkan mereka berdua, sampai mereka selesai makan. Kemudian menghampiri dan mengajaknya berbincang.

Setelah menghabiskan kopi, mereka pamit kepada pemilik warung dan terdengar berulang-ulang mengucapkan terima kasih.

Tak lama, saya juga beringsut mendatangi pemilik warung dan menayakan berapa jumlah yang harus saya bayar untuk kopi yang telah saya nikmati.
Saya sorongkan lembaran uang yang tersisa di dompet sembari bilang tak usah dikembalikan, uang kembaliannya.
Ini sospeso ala kita. Orang Indonesia

Iklan

Merk Kopi Bali di Pasaran

Citarasa kopi robusta, boleh dikatakan hampir sama, terkecuali kopi robusta tertentu yang diperlakukan khusus dari mulai bibit, cara dan tempat penanamanya sampai pengolahan pasca panen.

Postur yang lebih berisi dan tingkat kekentalan yang cenderung tebal sehingga menghasilkan rasa kopi yang kuat, menjadi ciri khas dari kopi robusta.
Kopi robusta juga memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan dengan arabika, rata-rata kandungan kafeinnya 2 kali lipat lebih besar.

Efek kafein inilah yang paling berpengaruh terhadap tubuh, baik seketika maupun dalam jangka waktu panjang.

Masing-masing orang punya sensitifitas terhadp kafein yang berbeda-beda, untuk segelas kopi dengan takaran kafein yang pas dengan kondisi tubuh dapat membuat badan terasa lebih segar dari sebelumnya.
Dan Jika takaran kafeinnya terlalu besar, bisa membuat jantung berdebar, tangan berkeringat dan gelisah.

Sebagian besar kopi yang dijual di pasaran, tidak mencantumkan berapa kadar kafein dari setiap gram penyajian, jadi buat orang yang sensitif terhadap kopi haruslah berhati-hati sebelum mengkonsumsinya.

Berbicara tentang impact (pengaruh) terhadap tubuh, dari segelas kopi setelah diminum, menurut saya, Kopi Robusta Bali adalah satu yang cukup terasa kuat pengaruhnya.

Dan, lagi-lagi menurut saya, lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan beberapa kopi nusantara lainnya, misalnya Kopi Toraja atau Kopi Jawa. Dengan asumsi, takaran yang sama dan profil roasting yang sama.

Entah apakah Kopi Bali memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya, atau faktor lain, saya kurang paham.

Kopi bali sangatlah mudah didapatkan di pasaran, khususnya jika anda sedang di Bali, jika di luar Bali mungkin anda bisa membelinya di toko daring, ada banyak penjual disana. Dari sekian banyak produsen kopi Bali, yang memproduksi dengan berbagai merk, beberapa merk Kopi Bali tertentu paling banyak ditemukan di pasaran. Inilah diantaranya:
Merk Kopi Bali di PasaranMeski beda merk dan beda produsen, hampir semua Kopi Bali mempunyai ciri yang identik pada kemasannya. Yaitu kemasan plastik bening dengan cetakan gambar dan huruf berwarna kuning.

Saya kurang tahu kenapa ini jadi ciri khas dari Kopi Bali. Tapi dugaan saya, ada satu merk kopi yang paling dahulu dan paling sukses di pasaran menggunakan kemasan bening dengan warna cetakan gambar dan huruf kuning. Maka kemudian pengekornya menggunakan kemasan yang mirip-mirip.
Hal yang lumrah terjadi dalam bisnis.

Dari sekian merk kopi tersebut diatas, ternyata tidak semua kopi tersebut diproduksi di Bali, ada juga yang diproduksi oleh perusahaan luar Bali.
Ada yang diproduksi di Sidoarjo, ada juga yang di Tangerang, seperti kopi berikut ini:
Kopi Bubuk Setia Bali
Jika anda menanyakan, mana yang paling enak diantara Kopi Bali tersebut diatas, boleh saya menjawab: Tidak tahu. Sebab saya tidak diendorse untuk itu. 🙂
Namun, saran saya, sebelum anda membeli, perhatikan sungguh-sungguh pada kemasannya. Sebab ada 2 macam kopi Bali yang dijual, yaitu kopi campur dan kopi murni. Kopi campur adalah kopi yang sudah dicampur dengan jagung, sedangkan kopi murni dibuat 100%dari kopi. Silahkan lihat kemasan sebagaimana berikut:
Kopi Bali campur
Enak mana kopi murni dengan kopi campur? Buat saya sih jelas lebih enak kopi murni.
Namun itu subyektifitas saya. Mungkin saja pilihan rasa anda berbeda.
Coba saja…

Pisang Goreng Teman Ngopi dan Cara Membuatnya

Saat perjalanan menuju Bali, kami singgah di salah satu warung kopi di Situbondo. Kedai itu menyediakan beberapa sajian kopi berikut juga beberapa pilihan biji kopinya. Setelah memesan kopi yang mau kami minum, sebagai teman menikmati kopi, kami memesan beberapa makanan lainnya, dan salah satunya adalah penganan kesukaan saya: Pisang Goreng!

Pisang Goreng Teman Ngopi dan Cara Membuatnya

“Untuk pisang, Bapak mau pilih Banana Roll atau Nugget Pisang, pak. Dan mau rasa yang mana?” tanya seorang pramusaji kepada saya.
“ow saya mau pisang goreng yang biasa aja, gak usah pake tambahan rasa apa-apa”, jawab saya.
Si pramusaji terlihat bingung, lalu menoleh kepada temannya yang berdiri di depannya yang sedang menyeduh kopi pesanan pelanggan lainnya.
Temannya yang merasa menangkap maksud saya, bilang kepada si pramusaji itu: “maksud bapaknya ini minta yang original, mbak”.
Si pramusaji itu, sembari manggut-manggut menuliskan pesanan saya . Kemudian bertanya lagi: “ada pesanan yang lain lagi pak?”
“sementara cukup, mbak” jawab saya.

Setelah menunggu beberapa saat, kopi yang kami pesan pun sudah tersedia di meja.
Saya pesan kopi arabica Kayumas, kopi ini memang berasal dari perkebunan di wilayah Situbondo, cukup terkenal belakangan ini. Kopinya enak, diseduh dengan cukup baik oleh si barista.

Tak berapa lama, menyusul beberapa makanan yang telah kami pesan sebelumnya.
Ada satu piring yang menarik perhatian saya, berjajar kue gorengan seperti pisang molen kecil-kecil seukuran jari tengah orang dewasa di atasnya.
Ternyata ini pisang goreng yang saya pesan tadi. Mereka menyebutnya banana roll original.
Rasanya anyep, seanyep harapan saya pada keadaan negeri ini. haissshhh… mbel!

Tapi warung kopi di Situbondo tadi tidak sendiri.
Beberapa kali saya ke warung kopi, dan setiap memesan pisang goreng, maka yang ditawarkan adalah bermacam olahan pisang yang aneh-aneh seperti itu.

Padahal yang ingin saya nikmati adalah pisang goreng yang biasa-biasa saja. Yang standar-standar saja. Pisang goreng, boleh berbalut tepung atau tidak sama sekali, seperti yang banyak dijual oleh pedagang gorengan pinggiran jalan.

Apa karena pisang goreng yang standar-standar seperti itu tidak ada keren-kerennya kalo dijual di cafe, sehingga mereka tidak menyediakannya? Atau kalo dijual standar seperti itu, membuat keuntungan mereka nggak banyak?
Itu kemungkinan yang tersedia, yang terlintas di pikiran saya.

Karena kesal dengan semua itu, beberapa hari belakangan ini saya membuat pisang goreng sendiri. Setelah dilatih dengan keras oleh guru masak privat saya, Mboke Einar aka @dewulandessy 🙂

Sebagai rasa cinta saya kepada Mboke Einar, haisssh apa hubunganya… Kali ini akan saya share cara membuat pisang goreng ala Mboke Einar.
Resep ini untuk 10-15 potong pisang goreng.

Pisang Goreng Teman Ngopi dan Cara Membuatnya

Bahan :
– Pisang yang sudah masak
– Tepung terigu
– Mentega
– Air minum

Proses:
Masukkan 8 sendok makan (penuh) tepung terigu kedalam baskom, selanjutnya masukkan 1 sendok makan butter juga kedalamnya. Lalu aduk kedua bahan tersebut.
Kemudian masukkan air, sedikit demi sedikit, sembari mengaduk adonan tersebut. Jika adonan sudah terlihat cukup kalis, hentikan memasukkan air.
Potong pisang yang sudah disiapkan tadi, sesuai dengan ukuran pisang goreng yang anda mau, lalu masukkan pisang tersebut kedalam adonan secara perlahan. Pastikan semua pisang sudah berlumur dengan adonan.
Siapkan wajan berikut minyak goreng, taruh diatas kompor, lalu nyalakan apinya. Atur di ukuran api sedang, cenderung agak kecil.
Jika minyak sudah panas, masukkan pisang berlumur adonan tadi ke dalam wajan (penggorengan), satu persatu sampai dengan memenuhi wajan.
Biarkan proses masak berjalan, jika bagian bawah pisang sudah terlihat kering, baliklah pisang tersebut pelan-pelan. Jika di rumah kalian ada japit, pakailah japit, jangan sutil. Supaya pisang goreng gak rusak.
—- jangan membolak-balikkan pisang dalam penggorengan. Semakin sering kalian bolak-balik, semakin besar pula pisang tersebut menghisap minyak. Cukup sekali balik saja!
Bila bagian yang sudah dibalik tadi sudah terlihat kering, angkat pisang goreng lalu tiriskan beberapa saat.
Kemudian masukkan adonan pisang lainnya yang ada di baskom kedalam wajan. Lalu ikuti proses menggoreng seperti diatas.
Sekarang, angkat pisang yang sudah ditiriskan tadi, letakkan diatas piring yang sebelumnya sudah diberi tissu penyerap minyak, supaya pisang gorengmu semakin kering dan semakin sedikit minyaknya.
Siap dihidangkan.

Penting:

Pilih Pisang yang sudah masak : boleh pisang raja, kepok udang atau lainnya yang tersedia di sekitarmu.
Tepung terigu : saya pilih tepung terigu cap kunci, hasil pisang gorengnya lebih krispi dibanding dengan segitiga biru.
Mentega : saya pilih mentega (hewani) daripada margarin (nabati), lebih gurih butter daripada margarin.
Air minum : sudah jelas

Kopi Jagebob Merauke

Dari Papua, kopi yang sudah cukup dikenal baik oleh pasar adalah kopi Wamena.
Satu varian kopi Wamena yang paling terkenal adalah Baliem Blue.

Daerah Papua lainnya yang cukup dikenal sebagai penghasil kopi jempolan adalah Timika. Jika pernah mendengar satu brand kopi dengan nama Amungme Gold, maka dari sanalah kopi istimewa itu berasal.

Selain Wamena dan Timika, maka Nabire juga sudah cukup terdengar namanya sebagai penghasil kopi. Wilayah sekitar pegunungan Jayawijaya, seperti Paniai adalah penghasil kopi arabika, yang menurut beberapa review, menghasilkan kopi dengan cita rasa dan aroma yang kuat.

Lalu, bagaimana dengan daerah Papua Lainnya?

Pernah dengar kopi dari Merauke?

KOPI JAGEBOB MERAUKE

Sebelum menerima kopi (jagebob) ini, saya sama sekali belum pernah mendengarnya. Bahkan Google pun tidak dapat memberikan informasi yang cukup. Apalagi jika dituliskan kopi Jagebob di google search, maka google pun menyerah. Tak ada informasi apapun.

Begitu minimnya informasi tentang kopi ini, membuat saya sangat berkesan saat menerima hadiah 1 bungkus kopi jagebob dari adik ipar. Suwun ya Ma, Rama!

Begitu perekat kemasan kopi saya lepas, langsung tercium aroma yang cukup kuat, menguar dari dalam kemasan. Dari aromanya, menurut saya, lebih kuat aroma non kopi dibandingkan aroma kopinya sendiri. Ada bau buah-buahan yang mendominasi tersembul dari sana.

Selanjutnya, setelah di giling cukup kasar, saya coba nikmati kopi ini dengan bantuan french press. Begitu saya sesap, saya mendapati bermacam rasa dari kopi jogebob ini. Body kopinya tidak tebal, cukup ringan, namun sangat menyenangkan untuk dinikmati.

Profil Roasting Kopi Jogebob Merauke

Profil Roasting Kopi Jogebob Merauke

Namun saya masih penasaran, sepertinya kopi ini belum disangrai dengan sempurna, sebab masih banyak saya temukan biji kopi yang tidak mendapat pembakaran dengan sempurna, alias banyak yang masih mutung.
Barangkali roaster kopi masih uji coba, sehingga belum mendapatkan profil rasting terbaik untuk kopi jagebob ini.

Apapun, buat saya, kopi ini sangat menarik. Menambah perbendaharaan khasanah kopi nusantara. Jika selama ini kita sering mendengar slogan kopi Indonesia dari Sabang sampai Merauke, padahal sesungguhnya tidak sampai Merauke, karena kopi Indonesia berhenti di Wamena. Maka sekarang kita benar-benar memiliki kopi yang berasal dari Merauke.

Sukses selalu Kopi Jagebob!

#KopiMerauke #KopiIndonesia #KopiNusantara #KopiJagebob

Sebuah Nasehat untuk Pemilik Warung Kopi

Lautan Warkop. Kota Malang seperti kebanjiran warung kopi dalam 2 tahun terakhir ini. Jika saya membandingkan dengan di tahun 90 an akhir atau 2000 an awal, maka peningkatan jumlah warung kopi bisa mencapai ribuan persen.

Saya tidak berlebihan dalam menulisnya. Namun memang kenyataanya seperti itu.

Tahun 90 an, warung kopi nyaris cuma ditemukan didalam atau di sekitar pasar. Sebab orang yang bekerja di pasar lah yang paling banyak membutuhkan asupan kafein dengan cara membelinya, sebab bagi mereka waktu adalah uang, sehingga tidak sempat untuk menyeduhnya sendiri.

Terkadang warung kopi juga bisa ditemukan didalam area kantor pemerintah atau disekitarnya, sebab banyak makelar atau sopir yang membutuhkan tempat rehat sekaligus sebagai “tempat kerja”. Selebihnya hampir nggak ada warung kopi khusus di sekitar perumahan. Sebagai pengecualian adalah warung kopi di pinggir jalan, di daerah  mbetek, yang buka dari jam 3 pagi dan tutup jam 9 pagi, yang sebenarnya menjual nasi ketan tempe sebagai sarapan  pagi.

Sekarang, populasi warung kopi sudah sedemikian besar di Malang, apalagi yang di sekitar kampus-kampus besar. Jika anda punya waktu seminggu dan berniat mencoba satu-persatu warung kopi, saya pastikan tidak akan kemput waktu anda untuk menyambangi warung kopi yang ada didaerah Merjosari saja. Belum termasuk kota Malang keseluruhan.

Jumlah warung yang begitu banyak sedang calon pembelinya tidak tak terbatas, tentu saja memaksa mereka untuk bersaing dengan meningkatkan nilai jual dengan berbagai cara. Salah satu yang saya perhatikan dalam setahun terakhir ini adalah mengubah alat penyajian.
Beberapa waktu sebelumnya, jika kita memesan kopi yang diseduh dengan metode saring atau drip seperti V60 atau sejenisnya, yang keluar hanyalah segelas kopi yang sudah disaring, Namun yang sekarang keluar adalah satu tabung kaca yang biasa dipakai di laboratorium berisi cairan kopi yang sudah disaring dan sebuah gelas kosong.

Trend gelas tabung lab sebagai alat saji, sebenarnya sudah cukup lama digunakan oleh cafe-cafe specialty besar.  Namun menjadi berbeda, pabila melihat warung-warung kopi kecil di Malang juga menggunakannya. Terasa bahwa, mereka terlihat bersungguh-sungguh dengan bisnis ini dan harus selalu siap dalam berkompetisi  jika masih mau bertahan.

Jika dilihat dari kacamata pembeli, menurut saya, tidak ada tambahan keuntungan apapun dari penggantian alat saji ini, Kalo kopinya gak enak ya tetap gak enak..hahahaha

Namun demi gengsi antar penjual kopi, maka mereka melakukannya. Mungkin supaya tidak terlihat ketinggalan dibandingkan dengan warung lainnya.

Sebagai pembeli, yang terpenting buat saya warung kopi itu adalah; tempat yang rileks, nyaman. Tidak terlalu berisik. Kopi yang enak, penjualnya asyik dan harga yang wajar.

Tempat yang nyaman yang dimaksud adalah yang bersih, sirkulasi udaranya bagus karena banyak yang merokok.  Tempat dudunya juga harus nyaman, tidak membuat badan sakit kalau dibuat duduk dalam waktu berjam-jam.

Kopi yang enak adalah kopi yang wajar. Jika menjual harga specialty maka berikan kopi dengan level specialty, jika bukan specialty maka jangan berikan harga specialty. Cari biji kopi yang bagus, beli dari peroasting  yang sudah ahli, jika meroasting sendiri maka roastinglah dengan cara yang benar.

Sajikan kopi dengan komposisi air dan kopi yang wajar. Jangan terlalu sedikit bubuk kopinya, sehingga encer banget. Jangan takut rugi karena banyak memasukkan kopi, sebab perbandingan 1/15 itu tidak akan membuat anda rugi, jika menjual dengan harga yang wajar.

Dan ini mungkin yang sering dilupakan warung kopi sekarang, rawatlah pelangganmu dengan baik. Selalu sapalah dengan baik jika mereka datang, ajari anak buahmu untuk juga berbuat itu, Gak usah berlebihan dalam menyapa, sewajarnya saja. Jika sedang tidak sibuk dengan kerjaan, sempatkanlah berbicara dengan mereka.

Ajak ngobrol. Jangan terlalu banyak mendominasi pembicaraan, ajukan beberapa pertanyaan dan biarkan mereka berbicara. Jadilah pendengar yang baik.

Ketahuilah, banyak orang stress yang suka berlama-lama di warung kopi daripada di rumah..hahahaha.

Sebisa mungkin, jangan memandang rendah apalagi berprasangka buruk terhadap tamu yang mengunjungi warung kopimu, siapa tau merekalah yang akan membuka jalan rejekimu selanjutnya.

Coklat Yang Baik

Diantara hiruk pikuk piala dunia 2018, terselip satu perbincangan yang cukup rame di media sosial. Yaitu tentang pernyataan pemerintah, dalam hal ini BPPOM, kalau susu kental manis sejatinya tidak layak disebut susu. Sebab kandungan lemaknya yang sanga rendah dan sama sekali tidak mengandung padatan susu.

Informasi tentang susu kental manis yang sesungguhnya bukan susu, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sepengetahuan saya, sudah 5 tahun yang lalu informasi ini tersebar di banyak grup perbincangan, baik milis maupun grup-grup kesehatan di media sosial. Namun entah kenapa BPPOM baru mau merilis pernyataannya sekarang, meski kita bisa menduga-duganya. Karena ini berkait dengan bisnis besar yang sungguh kompleks, tentu lembaga pemerintah tidak bisa sembarangan membuat pernyataan. Tapi… kenapa lama banget siih?

Makanan Lain yang tidak layak sebut sebagaimana Susu Kental Manis

Jika kita merunut lebih jauh soal makanan atau bahan makanan lainnya, sesungguhnya ada beberapa lain yang patut dipertanyakan. Ambil contoh Kopi, khususnya kopi yang dijual dalam sachet dan sudah bercampur dengan gula, bahkan ada juga yang bercampur dengan krim. Biasanya kopi sachetan ini disebut kopi mix. Apakah anda tahu berapa persen perbandingan kopi dengan gula, atau kopi, gula dan krim dalam setiap sachet?

Kemungkinan besar, anda, saya dan kebanyakan pembeli tidak mengetahuinya.
Sebab, (sebagian besar) kopi sachetan tidak mencantumkan berapa persen perbandingan kandungan antara masing-masing diatas.

Saya selalu merasa mual jika minum, minuman yang terlalu manis. Dan saya (hampir) selalu mual jika minum kopi sachetan, sebab terlalu manis menurut saya. Saya menduga perbandingan gula, atau katakanlah pemanis, didalam setiap sachet lebih besar dibandingkan kandungan kopi.

Saya pernah membaca sebuah pembicaraan di medsos, ada satu komentar dari seseorang, yang belum divalidasi kebenaran informasinya, kalo kandungan kopi dalam setiap sachet kopi mix itu sangat kecil. Bahkan dibawah 10%. Terbesar adalah tepung, lalu gula dan krimer, baru kemudian kopi. Sekali lagi informasi ini tidak bisa dinyatakan sebagai kebenaran, sebab belum saya temukan validasi kebenarannya. Namun, jika saja benar, apakah kopi mix seperti itu layak disebut sebagai kopi ?

Apakah Coklat yang anda konsumsi sudah sebenarnya Coklat?

Selain kopi, maka anda patut curiga dengan Coklat. Apakah anda pernah memperhatikan dengan teliti, berapa kandungan kakao pada coklat batangan yang anda beli?

Kandungan kakao adalah nilai kandungan biji kakao dari setiap produk coklat olahan. Misalnya coklat 63%, artinya coklat tersebut mengandung 63% kakao massa dan lemak kakao, dan 37% sisanya adalah gula, perisa, vanila atau bahan lainnya.
Tapi di pasaran, banyak sekali produk olahan coklat yang tidak memberikan informasi yang cukup, berapa sebenarnya kandungan coklat didalamnya. Bahkan ada produk coklat yang cukup terkenal, ternyata cuma 16% kandungan kakaonya, dan sedang 84 % sisanya adalah gula, susu, vanila, perisa, dll.

Di banyak artikel kesehatan diceritakan tentang manfat coklat bagi kesehatan manusia, namun banyak juga yang tidak memperhatikan bahwa yang coklat yang dimaksud adalah dark chocolate. Yaitu coklat hitam yang kandungan kakaonya lebih dari 60%, semakin tinggi kandungan kakaonya maka semakin bagus.
Lha kalo kandungan coklatnya cuma 16%, kandungan gula dan karbonya tinggi banget, alih-alih sehat malah terancam resiko penyakit gula, kalo mengkonsumsinya berlebihan.
Coklat Yang Baik
Pada foto diatas ini, adalah coklat produksi blitar, dengan kandungan kakao 90%. Campuran 10% nya adalah vegetable fat, lesitin dan pemanis. Untuk pemanis tidak menggunakan gula biasa tetapi diambilkan dari pemanis alami lainnya yang rendah karbo. Buat yang tidak terbiasa makan coklat ini, awalnya mungkin akan terasa begitu pahit, sebab kandungan kakaonya yang begitu tinggi. Namun percayalah, after taste nya akan membuat anda ketagihan. Seisi rongga mulut akan terasa nyaman, yang selanjutnya juga membuat suasana hati anda akan menjadi bagus.
Dark chocolate dengan kandungan cacao tinggi seperti inilah yang direkomendasikan para ahli keseehatan, mungkin batangan coklat yang penuh dengan gula dan karbohodrat.

Sederhana itu Ngrejekeni

Mula-mula tinggal di Bali, saya temui banyak sekali usaha laundry yang bernama kedas. Awalnya saya mengira ini sebuah nama usaha laundry yang cabangnya ada dimana-mana. Ternyata keliru, kedas berasal dari bahasa Bali. Yang artinya bersih.

Sama seperti kedas pada laundry, seduh adalah nama yang cukup banyak digunakan sebagai nama warung kopi di Indonesia.

Coba masukan kata seduh pada pencarian di instagram, maka akan berjenterek-jentrek nama warung kopi bernama seduh di berbagai tempat.
Itu baru kelihatan yang di instagram, kenyataan di lapangan mungkin lebih banyak lagi.

Ada sebuah warung kopi di Malang, yang tiap kali saya melewatinya selalu mengira-ngira.
Kira-kira apakah si pembuat nama warung tersebut sudah begitu frustasinya, sehingga tidak ada nama lain yang lebih mashook (baca: layak) untuk dijadikan nama warung.
Atau barangkali ini diperolehnya dari proses “laku” yang sedemikian panjang dan berat sehingga bisikan wangsit menyuruhnya memilih nama tersebut.

Nama warung itu: Mimik Koffie.
Mimik berasal dari bahasa jawa, yang artinya minum. Tetapi kata mimik hanya pas digunakan untuk anak-anak.
Sedangkan Koffie adalah bahasa belanda untuk kopi.
Sampai sekarang saya belum menemukan nama warung lain sekatrok nama warung ini..hahaha
Mungkin bila anda menemukan nama lain yang lebih katrok bisa menuliskannya di komentar bawah ini.

Perhatikan sebuah papan nama yang terpasang di dinding bangunan yang pada foto diatas ini.
Ini adalah bangunan bekas sebuah cafe.

Menurut saya, nama tersebut cukup bagus untuk dijadikan sebuah warung kopi.
Bisa dibaca dalam satu penyebutan, dan memiliki kandungan penjelasan yang cukup kuat.

Warung ini berdiri di wilayah pariwisata di Bali, terletak di sudut jalan yang cukup ramai. Cukup strategis, sebab akan terlihat mencolok bila kita melintasinya dari arah Canggu ke Seminyak.

Desain bangunan luarnya juga nisbi bagus, bila terlihat kurang bagus di foto ini, salahkan yang motret.
Dari Trip Advisor, saya lihat foto ruangan dan menu yang disajikan juga terlihat menarik, penilaian pengunjung atas menu juga lumayan bagus.
Tapi, warung ini sudah tutup.
Kukut.

Berbeda dengan Mimik Koffie, meski dengan nama, desain bangunan dan mungkin sajian yang….. ya seperti itu.
Hebatnya, ia tetap bisa buka hingga sekarang.
Barangkali itu yang dinamakan Lumintu oleh orang-orang dulu.
Gak usah mbetoyong sing penting mlaku.