Security di Jaman 4.0.

Security 4.0.
Tugas dari petugas keamanan di bank, hotel, kantor pelayanan publik, dan lainnya sekarang meluas ya. Nggak cuma jaga keamanan, tapi juga jadi penyambut tamu, pemberi informasi, melancarkan proses kedatangan dan memudahkan tamu untuk mendapatkan keperluannya. Secara perlahan menggantikan tugas yang dulu biasanya dilakukan oleh resepsionis.

Security di Era 4.0

Security di Era 4.0

Beberapa kemungkinan alasan perluasan deskripsi kerja (job description) itu adalah:

Efesiensi
Membayar sedikit orang untuk beberapa tugas yang berbeda.

Masuk dalam paket penawaran dari penyedia jasa keamanan
Paket yang ditawarkan oleh penyedia kepada penggunanya tidak cuma memberikan jasa security tetapi Security plus Hospitality. Atau kalau dibalik Semacam layanan hospitality yang digabungkan dengan tugas-tugas security.

Tuntutan jaman
Persaingan semakin ketat, maka hotel, mall dan gedung-gedung itu harus memberi kesan yang baik kepada tiap orang yang datang supaya mereka kembali datang ke tempat tersebut.

Motivasi lain?
Seperti mengubah persepsi orang tentang satpam, misalnya. Sebab, dulu satpam selalu di-identikkan dengan sosok yang sangar dan keras. Lihat saja film komedi jaman dulu, dan mungkin hingga sekarang, sosok satpam biasanya didandani dengan kumis yang melintang dan suara yang keras. Meski pada kenyataanya banyak satpam yang berbicara pelan dan tidak berkumis.

Terlepas motivasinya apa, kadang hal itu membuat saya senyum senyum sendiri. Masuk ke suatu tempat, bertemu dengan security yang tinggi besar, bermuka “tegas”, mengucapkan salam sembari menangkupkan tangan. Semacam memutar balikkan persepsi yang tertanam sekian puluh tahun di benak saya.

Iklan

MINGGU RINTIK HUJAN KOPI DAN NOVEL YANG DIBACA BERULANGKALI

Minggu, Rintik Hujan, Kopi dan Novel yang dibaca berulangkali.
Adalah semacam judul cerpen romantis ala-ala remaja 90 an yang layak dikirimkan ke Majalah Aneka Yess atau Anita.

Kamu yang milenial atau Gen Z, sudah tahu 2 Majalah yang saya sebutkan diatas?
Itu adalah semacam kitab suci para gadis SMA tahun 90 an. Ada banyak gadis. yang hampir selalu membawa majalah-majalah itu di tas mereka seiap hari.

Dan saat majalah-majalah tersebut dikeluarkan dari tas, maka akan terjadi semacam keributan kecil diantara mereka. Berebut membaca. Biasanya itu terjadi waktu istirahat sekolah atau jam kosong.

Jika Anita cemerlang isinya kebanyakan cerpen sedangkan Aneka Yess isinya gaya hidup remaja dan foto-foto model remaja yang belum terkenal. Anak-anak perempuan menyukai 2 majalah itu karena ingin membaca cerpen, mengamati cara dandan cewek jaman itu, atau sekedar ingin membayangkan jika foto mukanya bisa nongol dalam majalah. Meski itu cuma seukuran foto di Rapor sekolah: Pas Foto 3×4.

Anak laki-laki, kebanyakan tidak menyukai membaca cerpen, paling banter mereka cuma melihat-lihat gambar-gambar dalam majalah. Mengamati foto-foto cewek yang terpampang didalamnya, mengagumi dan membayangkan jika salah satu dari mereka bisa jadi pacarnya. Atau dijadikan “bekal” untuk ke kamar mandi sekolah yang pesingnya minta ampun.
Dari sekian banyak novel yang kalian baca, ada berapa novel yang kalian baca berulang-ulang?

The Godfather ini pertama kali saya baca di tahun 1995 dan sejak pertama saya menyelesaikan membacanya, saya berjanji akan mengulang membacanya sampai saya bosan. Dan hingga sekarang saya belum juga bosan. Entahlah.

Dan setiap saya membacanya saya selalu menemukan hal-hal menarik, seperti baru saja saya temukan di dalam buku ini. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Sebab mungkin ketertarikan saya bergeser, bergerak mengikuti masa. Atau situasi hidup yang saya hadapi sekarang berbeda dengan situasi sebelumnya, sehingga titik minat dan fokus pikiran saya juga berbeda.

Jikalau saya ingin menuliskan kata yang menarik dalam buku ini pada saat sekarang adalah pada bagian ini:
“kalau memburtuhkan uang, kita pergi ke bank dan membayar bunga yang mencekik leher, menunggu dengan topi di tangan seperti pengemis sementara mereka mengendus kesana kemari dan memastikan kita bisa mengembalikan pinjaman”,

Ternyata Bank sudah brengsek sejak jaman dulu. Bahkan Don Corleone pun merasakannya.

Pemendem


Kadang ku merasa penat, dan pengen mendem. Tapi seringkali waktunya gak tepak. Saat kepengen, tapi uang tak ada. Kepengen, uang ada, teman gak ada. Mana asyiknya mendem gak ada teman? Saat uang ada, teman ada, tapi nggak ada yang jual. Toko-toko dilarang jual. Ada aturannya sekarang, toko kelontong dilarang berjualan bahan mendeman. Masa ku harus ke toko bahan bangunan, beli lem seperti dulu. Atau ke apotik, beli cairan pembersih borok. Atau balik lagi ke mini market beli pembalut lalu direbus. Ah, daripada susah-susah; Kutabrak saja dinding itu biar ramai Biar mengaduh sampai gaduh #WP

Baju adat ke sekolah


on Instagram: https://www.instagram.com/p/BpVydOzjDh_/
Tholeku menuju kelasnya pagi ini. Kini, Ia dan teman-teman sekolahnya, termasuk guru dan staff sekolah, harus berpakaian adat Bali, setiap hari Kamis. Rasanya seperti melihat buku sejarah, di jaman kolonial. Sewaktu sekolah dasar untuk rakyat masih disebut sekolah ongko loro. Guru ada di halaman depan sekolah, mengenakan baju adat menyambut siswa datang ke sekolah pagi itu yang juga mengenakan baju adat. Guru mengulurkan tangannya, lalu siswa menjabat dan menempelkan tangan guru di kening. Kita menyebutnya Salim. Sebuah tanda hormat dan bagian dari adab memuliakan orang yang dihormati. Begitu pula yang dilakukan oleh sekolah anakku hari ini. #Bali #BajuAdat #WP

Desain untuk Penjual Makanan Jalanan

Dalam keranjang motor ini, kita bisa temukan nasi putih yang sudah dibungkus tiap-tiap porsi. Bermacam sayur matang yang sudah diplastikin satu-satu. Ada plecing kangkung, lodeh nangka, tumis kacang panjang juga urap.

Untuk lauknya, ada tempe, tahu goreng, tongkol pedas, ikan kembung juga paha dan cakar ayam goreng tepung. Semuanya sudah dalam plastik satu per satu. Jadi pembeli tinggal ambil nasi, memilih sayur yang diminati sekalian membetot lauk-pauk dalam plastik yang sudah tergantung.

Setelah makan, pembeli bisa mengambil buah-buah yang juga sudah disediakan dalam plastik-plastik. Bisa memesan kopi atau teh, karena penjual juga menyiapkan teh celup, kopi sachet serta air panas dalam termos.

Motor ini tak ubahnya seperti Warteg berjalan. Ia biasa datang ke proyek pembangunan gedung, jembatan, jalan atau lainnya. Saat siang, saat para pekerjanya membutuhkan makan siang. Atau datang di tempat dimana para sopir travel atau ojek online mangkal.

Saya rasa warteg motor ini tak ubahnya pemadam kelaparan, dalam arti yang literal. Ia datangi tempat dimana orang-orang bekerja, yang mungkin kesulitan mendapatkan makanan dengan harga murah. Dan “warteg mobile” ini berhasil memadamkan rasa lapar mereka, dengan menyediakan makanan yang berkualitas dan harga yang terjangkau oleh para kuli dan sopir.

Tapi rasanya ada yang mengganjal dengan tampilan jualan makanan ini, yaitu tentang desain tempat membawa makanan yang ditaruh dibelakang itu. Kurang nyaman, sekaligus menjadikan pengemudinya juga kurang aman. Dan, satu lagi, tidak indah secara estetik.

Jika saja ada desainer yang bersedia membuatkan tempat dagang mobile yang lebih estetik sekaligus menjadikan aman dan nyaman buat pengemudinya, tentu akan jauh lebih baik. Bisa jadi desain tersebut dapat juga dimanfaatkan oleh pedagang makanan dengan motor lainnya. Sehingga kita bisa menemukan pedagang lontong sayur mobile, rujak cingur, nasi padang dan lainnya dengan tampilan yang compact tetapi tetap keren.

Kebaikan Jalanan

Seorang pengantar air galon isi ulang melenggang dengan motor penuh muatan air dalam gallon, di terik panas aspal yang menyengat, terlihat tidak mengenakan alas kaki. Tiba-tiba gas motornya ia tarik dalam-dalam, Nampak mengejar seorang pengendara di depannya. Setelah berdekatan, si penjual air galon itu ternyata cuma mau bilang kalo standar motor orang itu belum kembali ke tempatnya dengan benar, Ia kuatir, selagi motor berjalan bisa sebabkan pengendara celaka.

Di jalanan, sudah biasa kita saksikan orang-orang baik yang secara spontan berbuat kebaikan tanpa peduli siapa dan bagaimana orang yang akan ditolongnnya.

Jalanan adalah panggung kehidupan yang sesungguhnya, dimana kebaikan dan kejahatan bisa mudah terlihat secara transparan oleh hampir setiap orang yang ada disana saat itu.

Suatu ketika di tahun 2006, di jalanan Jakarta, sebuah kota yang dikenal paling kejam di negeri ini. Dimana segala bentuk kejahatan jalanan tersedia di kota ini. Saya mengendarai motor malam-malam sepulang kerja. Seorang pengendara motor mengejar saya.
Maka insting kewaspadaan langsung muncul. Gas motor kutarik dalam, berniat menjauh dari si pengejar.
Sejauh mungkin.
Sampai kemudian motor harus berhenti karena lampu merah.
“Wah, sial”, gumam saya.

Motor yang mengejar tadi berhenti di samping saya. Kaca helm dibuka, dan orang itu berteriak: “Mas, itu standarnya!”
Saya melongok kebawah, mengembalikan standar yg masih berdiri ke tempatnya, membuka kaca helm dan tersenyum lebar, sembari bilang:”Terima kasih, pak!”

Di Bali, tak cuma sekali, dua. Berkali-kali motor saya mogok karena bermacam hal. Dari mesin mati, kehabisan bensin sampai ban bocor. Dan seringkali ketika mendorong motor, ada saja yang datang menghampiri. Entah bantu dorong, bantu menghidupkan mesin atau sekedar menunjukkan bengkel ban terdekat. Dan, tak satupun dari mereka yang saya kenal sebelumnya. Tiba tiba saja datang dan ulurkan bantuan. Kebaikan datang tanpa perlu mengenali wajah terlebih dulu.

Dalam perjalanan Bali – Malang, di atas sebuah bis malam langganan, saya duduk di depan. Tepat disamping sopir. Sepanjang perjalanan, berbincang dengannya. Apa saja.

Dengan lebih dari 25 tahun menekuni karier di jalanan, ada banyak hal yang bisa dia ceritakan tentang profesinya, pandangan-pandangannya tentang kehidupan dan hal lain. Dia memberi sedikit nasehat kepada saya tentang kehidupan di jalan.

Kurang lebih seperti ini: “Mas, hukum yang paling berlaku di Jalanan itu adalah hukum karma. Sebab apa yang sesungguhnya kita tanam maka begitupula apa yang akan kita petik. Kita tanam kebaikan, maka akan berbuah dengan kebaikan. Begitupula sebaliknya. Semuanya akan dibayar tuntas oleh jalanan. Bahkan kadang seketika. Saat itu kita berbuat baik, tak perlu menunggu lama, kebaikan akan datang entah dari mana, menghampiri kita dengan tanpa disangka-sangka. Begitupula jika kita jahat”.

Kemudian sopir bus malam itu memberi contoh-contoh nyata yang pernah ia alami.

Saya tak hendak mengukur dan timbang kesahihan cerita sopir tersebut. Apalagi pada tataran menyetujui atau tidak atas pendapat itu. Namun saya percaya bahwa semua kebaikan yang terjadi, pastilah ada yang memulai. Salah satu sifat dasar manusia adalah punya keinginan untuk mengembalikan atas apa yang telah ia terima, lepas dari bagaimana, dengan cara apa dan kepada siapa. Maka kemudian yang terjadi adalah mekanisme alamiah, yang kita sebut dengan hukum alam.

Alam memiliki kemampuan untuk menghubungkan antara peristiwa satu dengan lainnya dengan berbagai cara, baik lazim atau tidak. Yang terkadang tak terpikirikan oleh nalar manusia yang terbatas. Alam memiliki algoritma yang unik, yang dapat menyederhanakan hal-hal rumit menjadi mudah, mendekatkan yang jauh menjadi dekat dan menjadikan apa yang terlihat tak mungkin menjadi mungkin.

Karena itu jangan pernah berhenti berbuat baik, sebab kebaikan itu tak seperti asap. Yang akan menguar saat kena angin, lalu lenyap di udara. Ia seperti air, yang terus mengalir ke tempatnya terjauh, biar sempat hilang ke atas, akan jatuh lagi ke bumi untuk dimanfaatkan kembali.